Program Merdeka Belajar, Guru Harus Bisa Buat Soal Tes Sendiri

Kamis, 19 Desember 2019 - 08:15 WIB
Program Merdeka Belajar,...
Program Merdeka Belajar, Guru Harus Bisa Buat Soal Tes Sendiri
A A A
JAKARTA - Mulai tahun depan Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) akan berganti metode baru. Hal ini sesuai dengan program Merdeka Belajar yang digagas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Perguruan Tinggi Nadiem Makarim.

Melalui program Merdeka Belajar nanti, maka USBN akan diganti dengan ujian (asessment) yang diselenggarakan hanya untuk sekolah. Ujian untuk menulis kompetensi siswa dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis dan atau bentuk penilaian lain yang lebih komprehensif seperti portofolio dan penugasan lain seperti tugas kelompok, karya tulis, dan lainnya. Guru dan sekolah pun bisa lebih merdeka dalam menilai hasil belajar siswa.

Plt Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Totok Suprayitno memperkirakan, sudah banyak sekolah yang sudah siap melaksanakan USBN dengan metode yang disesuaikan Kemendikbud. Namun, bagi sekolah yang belum siap melaksanakan maka masih boleh memakai soal USBN yang sudah disiapkan sejak lama.

Menurut Totok, sejatinya USBN tidak diwajibkan memakai tes tertulis. Evaluasi kompetensi siswa itu bisa diganti dengan portofolio anak yang berprestasi di bidang tertentu. “Jika belum bisa, maka tidak usah nulis tidak apa-apa. Portofolio juga tidak apa-apa. Mungkin bisa nari, bisa lukis,” ujar Totok pada acara “Ngopi Santai Bincang Pendidikan dan Kebudayaan” di Jakarta, kemarin.

Totok mengatakan, dengan perubahan ini, maka akan berdampak pada guru dan pengajar. Sebab, ke depan guru harus bisa membuat item tes dengan model asessment yang dibuat sendiri. Karena itu, Kemendikbud akan memfasilitasi pengembangan guru dengan membuat pelatihan. Bisa dengan membuat forum di antara guru untuk mendiskusikan apa alat tes yang tepat sehingga ada proses belajar antara masing-masing guru.

“Menggunakan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) boleh. Guru berupaya untuk belajar. Ini saatnya guru yang belum bisa membuat soal ya harus belajar membuat soal,” katanya.

Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengapresiasi penggantian USBN menjadi ujian sekolah. Dia mempercayai, saat guru diberikan kebebasan lebih, maka daya kreativitas mereka akan muncul. Mereka akan memikirkan cara-cara menerjemahkan panduan yang ada dalam kurikulum 2013 agar dapat diserap lebih baik oleh peserta didik sesuai konteks dan keadaan masing-masing.

Meski demikian, harus dipahami bahwa guru memiliki tingkat motivasi yang berbeda-beda. Ada guru-guru yang memang idealis dan memiliki semangat mengajar tinggi dengan adanya kebijakan ini akan semakin semangat untuk berinovasi. Namun, ada juga yang tidak demikian.

“Saya menyarankan agar Kemendikbud menyiapkan mekanisme untuk memotivasi guru dalam berinovasi dan memberikan pengajaran terbaik bagi murid-muridnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian insentif, penghargaan, atau mekanisme lainnya yang dapat mengapresiasi guru-guru rajin dan mau melakukan usaha lebih untuk berinovasi,” ucapnya.

Politikus dari Fraksi Golkar ini juga menyarankan Kemendikbud agar tetap menyiapkan bank soal dan mendampingi sekolah-sekolah yang belum siap melaksanakan hal tersebut.

Pengamat pendidikan Totok Amin Soefijanto berpendapat, seluruh sumber daya sekolah termasuk guru harus mumpuni dan siap melaksanakan perubahan tersebut. Sebab, tujuan ujian atau asessment itu tidak hanya untuk mengukur pemahaman siswa, tetapi juga bagian dari proses pendidikan. “Assesment is education too. Jadi bukan bagian yang terpisah-pisah. Oleh sebab itu, seluruh sumber daya termasuk guru harus mumpuni dan siap. Agar siap, guru terutama harus dilatih,” katanya.

Totok mengatakan, pada prinsipnya semua sekolah bisa melakukan ujian sekolah sendiri. Akan tetapi, dia mempertanyakan, dengan kualitas yang seperti apa. Karena itu dia meminta Kemendikbud membuat petunjuk yang jelas sehingga daerah dan sekolah bisa melakukannya.

Salah satu sekolah yang mendukung program Merdeka Belajar adalah Sekolah Cendekia Harapan, Denpasar. Bahkan sekolah ini pun sudah mengembangkan metode tersendiri yakni CH Method. Ketua Pengembang CH (Cendekia Harapan) Method Niluh Sekar Astuti mengatakan, ada keterkaitan erat sejarah pendirian sekolah Cendekia Harapan dengan semangat pendidikan yang merdeka.

Pada halaman 265 buku pendidikan karya Ki Hadjar Dewantara sudah diuraikan dengan jelas bagaimana Dr. Maria Montessori memiliki konsep yang sangat sempurna dalam pendidikan yang memerdekakan.

CH Method yang diterapkan sejak 2017 ini menitikberatkan prinsip bahwa manusia sesungguhnya memiliki kapasitas kuat untuk membangun dirinya. Metode mengajar dan belajar ini terbukti mampu mendorong terciptanya puluhan karya dan hasilnya sangat memuaskan. Berbekal pengalaman melaksanakan CH Method yang bersumber dari semangat yang sama, yakni memerdekakan semua warga sekolah dalam belajar dan mengajar. (Neneng Zubaidah)
(nfl)
Berita Terkait
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Pemkab Langkat Hadirkan Smartboard untuk Siswa
Pendidikan Mahal, Orang...
Pendidikan Mahal, Orang Miskin Dilarang Sekolah
Momogi Berbagi Hadirkan...
Momogi Berbagi Hadirkan Edukasi dan Keceriaan bagi Siswa Sekolah Kami
Meningkatkan Literasi...
Meningkatkan Literasi di Dunia Pendidikan
Tingkatkan Mutu Perguruan...
Tingkatkan Mutu Perguruan Tinggi, DPD Perkindo DKI Jakarta Gandeng 3 Universitas
ACC Wujudkan Harapan...
ACC Wujudkan Harapan Baru untuk Pendidikan di Pelosok Negeri
Berita Terkini
OSN 2026 Diikuti 941.692...
OSN 2026 Diikuti 941.692 Peserta, Kemendikdasmen Tegaskan Integritas dan Transparansi
2 jam yang lalu
Perpres ATS 2026 Diresmikan,...
Perpres ATS 2026 Diresmikan, Pemerintah dan Daerah Bersinergi Cegah Anak Putus Sekolah
2 jam yang lalu
President University...
President University Buka Kelas Khusus Taylor Swift, Ini yang Dipelajari Mahasiswa
5 jam yang lalu
Beasiswa PMDSU 2026...
Beasiswa PMDSU 2026 Dibuka, Kuliah S2-S3 Gratis Terintegrasi 4 Tahun
7 jam yang lalu
Pendaftaran SPMB SD...
Pendaftaran SPMB SD Kota Bogor 2026 Mulai 8 Juni, Ini Syarat dan Cara Seleksinya
8 jam yang lalu
Cerita Fulviana, Mahasiswa...
Cerita Fulviana, Mahasiswa UGM yang Lulus Kedokteran di Usia 20 Tahun
9 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved