Pendidikan Transformatif Modal Berharga Buat Remaja Termarjinalkan
Jum'at, 20 Maret 2015 - 03:58 WIB
Pendidikan Transformatif Modal Berharga Buat Remaja Termarjinalkan
A
A
A
JAKARTA - Wadah Global Gathering (WGG) mengumpulkan anak remaja korban konflik, kemiskinan, perdagangan manusia dan termarjinalkan dari berbagai negara termasuk Indonesia.
Dalam kesempatan itu, sejumlah anak-anak yang kurang beruntung diberi kesempatan untuk saling berbagi bagaimana meraih harapan dan impian dengan kondisi keterbatasan. Kegiatan itu sendiri di pusatkan di Yogyakarta dari 18-20 Maret 2015.
Ajang pertemuan tersebut selain menghadirkan anak-anak kurang mampu, juga mendapat suporting dari berbagai elemen masyarakat, individu berbagai aktivitas sosial.
Kalau pada pertemuan pertama tiga tahun lalu (Bali 2012) berbicara mengenai kemiskinan, maka di pertemuan ke dua ini, tema yang dibahas adalah pendidikan.
"Hanya dengan mengerti dan menerima mereka apa adanya serta menghargai serta memperdulikan perasaan, harapan dan impiannya, maka kita dapat mendidik mereka ke arah yang lebih baik," kata penggagas WGG, Anie Hashim, Kamis (19/3/2015)
Dalam pengamatannya di lapangan, pendekatan pendidikan model transformatif sangat dibutuhkan bagi kalangan marjinal meraih wawasan baru. Pasalnya pendekatan ke mereka perlu dilakukan secara terbuka dan mendalam.
Anie, yang juga pendiri Yayasan Wadah Titian Harapan, menuturkan, yang sangat menarik dari WGG ini adalah, anak-anak remaja yang termarjinalkan dari berbagai negara Asia memiliki permasalahan sosial, diundang sebagai narasumber utama. Mereka datang mewakili negara-negara seperti Indonesia, Nepal, India, Bhutan, Afghanistan dan Filipina.
Menurut dia, menariknya melibatkan mereka sebagai narasumber karena mereka bisa leluasa mempresentasikan kisah hidup dan pengalaman masing-masing tanpa sekat pembatas. Kata Anie, mereka berbicara dibumbui ekspresi yang mereka rasakan sendiri selama ini.
"Pembicara pertemuan ini akan banyak memberi inspirasi bagi setiap orang yang hadir untuk menjadi bagian dari perjuangan bersama mengubah hidup orang muda di sekitar kita demi masa depan dunia yang lebih baik," pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, sejumlah anak-anak yang kurang beruntung diberi kesempatan untuk saling berbagi bagaimana meraih harapan dan impian dengan kondisi keterbatasan. Kegiatan itu sendiri di pusatkan di Yogyakarta dari 18-20 Maret 2015.
Ajang pertemuan tersebut selain menghadirkan anak-anak kurang mampu, juga mendapat suporting dari berbagai elemen masyarakat, individu berbagai aktivitas sosial.
Kalau pada pertemuan pertama tiga tahun lalu (Bali 2012) berbicara mengenai kemiskinan, maka di pertemuan ke dua ini, tema yang dibahas adalah pendidikan.
"Hanya dengan mengerti dan menerima mereka apa adanya serta menghargai serta memperdulikan perasaan, harapan dan impiannya, maka kita dapat mendidik mereka ke arah yang lebih baik," kata penggagas WGG, Anie Hashim, Kamis (19/3/2015)
Dalam pengamatannya di lapangan, pendekatan pendidikan model transformatif sangat dibutuhkan bagi kalangan marjinal meraih wawasan baru. Pasalnya pendekatan ke mereka perlu dilakukan secara terbuka dan mendalam.
Anie, yang juga pendiri Yayasan Wadah Titian Harapan, menuturkan, yang sangat menarik dari WGG ini adalah, anak-anak remaja yang termarjinalkan dari berbagai negara Asia memiliki permasalahan sosial, diundang sebagai narasumber utama. Mereka datang mewakili negara-negara seperti Indonesia, Nepal, India, Bhutan, Afghanistan dan Filipina.
Menurut dia, menariknya melibatkan mereka sebagai narasumber karena mereka bisa leluasa mempresentasikan kisah hidup dan pengalaman masing-masing tanpa sekat pembatas. Kata Anie, mereka berbicara dibumbui ekspresi yang mereka rasakan sendiri selama ini.
"Pembicara pertemuan ini akan banyak memberi inspirasi bagi setiap orang yang hadir untuk menjadi bagian dari perjuangan bersama mengubah hidup orang muda di sekitar kita demi masa depan dunia yang lebih baik," pungkasnya.
(ysw)