Cerita Mapala USK Bertaruh Nyawa Membawa Bantuan Ke Desa yang Terisolir Bencana di Aceh
Sabtu, 06 Desember 2025 - 10:00 WIB
Tim relawan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Leuser Universitas Syiah Kuala (USK), bersama warga setempat menempuh perjalanan darat ekstrem selama enam jam, hingga berhasil menyalurkan bantuan logistik ke Desa Bergang, (04/12/2025). Foto/Humas Diktisaintek
JAKARTA - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda provinsi Aceh , 26 November 2025 membuat sejumlah kecamatan masih terisolasi. Selama 7 hari beberapa kecamatan di Aceh Tengah, kecamatan Ketol, bantuan hanya bisa disuplai lewat udara dan sungai.
Bersama masyarakat, relawan mulai melakukan proses evakuasi terhadap warga dari Desa Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reuduek (Pueting). Ketiga desa tersebut merupakan kawasan paling terdampak dan sulit tersentuh bantuan logistik memadai.
Baca juga: Mendikdasmen Serukan Kebangkitan Pendidikan di Sumatera Usai Bencana
Akses menuju desa-desa tersebut benar-benar lumpuh akibat tumpukan material longsor, batu-batu besar, serta batang kayu yang memenuhi badan jalan. Tercatat sedikitnya ada 14 titik longsor yang membuat kendaraan apa pun tidak dapat melintas.
Di ujung tebing di mana akses terputus dan tanah longsor menimpa, ratusan warga berharap pada deru baling-baling helikopter yang kerap melintas namun sulit mendarat.
Baca juga: Bantuan Datang Cepat, Warga Agam Berharap Bisa Mulai Bangun Rumah dan Usaha Lagi
Di tengah keputusasaan itu, harapan justru datang dari langkah kaki tim relawan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Leuser Universitas Syiah Kuala (USK), bersama warga setempat. Mereka menempuh perjalanan darat ekstrem selama enam jam, hingga berhasil menyalurkan bantuan logistik ke Desa Bergang, (04/12).
Bersama masyarakat, relawan mulai melakukan proses evakuasi terhadap warga dari Desa Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reuduek (Pueting). Ketiga desa tersebut merupakan kawasan paling terdampak dan sulit tersentuh bantuan logistik memadai.
Baca juga: Mendikdasmen Serukan Kebangkitan Pendidikan di Sumatera Usai Bencana
Akses menuju desa-desa tersebut benar-benar lumpuh akibat tumpukan material longsor, batu-batu besar, serta batang kayu yang memenuhi badan jalan. Tercatat sedikitnya ada 14 titik longsor yang membuat kendaraan apa pun tidak dapat melintas.
Di ujung tebing di mana akses terputus dan tanah longsor menimpa, ratusan warga berharap pada deru baling-baling helikopter yang kerap melintas namun sulit mendarat.
Baca juga: Bantuan Datang Cepat, Warga Agam Berharap Bisa Mulai Bangun Rumah dan Usaha Lagi
Di tengah keputusasaan itu, harapan justru datang dari langkah kaki tim relawan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Leuser Universitas Syiah Kuala (USK), bersama warga setempat. Mereka menempuh perjalanan darat ekstrem selama enam jam, hingga berhasil menyalurkan bantuan logistik ke Desa Bergang, (04/12).
Lihat Juga :