Mahasiswa UNPAR Sabet 2 Juara di Ajang Indonesia Chemical Engineering Challenge 2022
Rabu, 30 Maret 2022 - 13:05 WIB
Mahasiswa Teknik Kimia UNPAR-Dok. UNPAR
BANDUNG - Merancang pabrik yang dapat mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) hingga pemanfaatan bambu untuk industri kimia mengantarkan mahasiswa Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan menjadi runner-up 1 dan 2 dalam ajang Indonesia Chemical Engineering Challenge (IchEC) 2022.
Dalam kompetisi terbuka bagi mahasiswa Teknik Kimia di kawasan Asia Tenggara itu, dua kelompok mahasiswa UNPAR berhasil menyabet posisi runner-up dalam kategori Plant Design. Kelompok pertama-KRY-yang beranggotakan Raisa Maharani Taniandina, Kemiko, dan Shafira Yasmin menang sebagai runner-up pertama dengan perancangan pabrik berjudul “Sustainable Production of Biomethanol from Biomass-Derived Syngas”.
Keunggulan perancangan pabrik ini adalah penggunaan two-stage gasification yang dapat mengurangi emisi CO2. Keunggulan lainnya yaitu pretreatment corn cobs yang menggunakan solvent DESs (choline-chloride/glycerol) yang ramah lingkungan, tidak beracun, murah, mudah didapat dan dibuat, serta highly biodegradable.
Berdasarkan kelayakan ekonomi, total investment cost yang dibutuhkan cukup kecil (US$ 41.4 million), payback period yang berada jauh dibawah umur pabrik (3,96 tahun), dan break event point sebesar 61,53 persen.
Dalam kompetisi terbuka bagi mahasiswa Teknik Kimia di kawasan Asia Tenggara itu, dua kelompok mahasiswa UNPAR berhasil menyabet posisi runner-up dalam kategori Plant Design. Kelompok pertama-KRY-yang beranggotakan Raisa Maharani Taniandina, Kemiko, dan Shafira Yasmin menang sebagai runner-up pertama dengan perancangan pabrik berjudul “Sustainable Production of Biomethanol from Biomass-Derived Syngas”.
Keunggulan perancangan pabrik ini adalah penggunaan two-stage gasification yang dapat mengurangi emisi CO2. Keunggulan lainnya yaitu pretreatment corn cobs yang menggunakan solvent DESs (choline-chloride/glycerol) yang ramah lingkungan, tidak beracun, murah, mudah didapat dan dibuat, serta highly biodegradable.
Berdasarkan kelayakan ekonomi, total investment cost yang dibutuhkan cukup kecil (US$ 41.4 million), payback period yang berada jauh dibawah umur pabrik (3,96 tahun), dan break event point sebesar 61,53 persen.
Lihat Juga :