Kisah Gerry Utama, Ilmuwan Termuda Indonesia yang Menembus Kutub Selatan
Senin, 02 Juni 2025 - 07:04 WIB
loading...
Gerry Utama, peneliti muda asal Palembang sekaligus alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mencatatkan sejarah. Foto/Instagram Gerry Utama.
A
A
A
JAKARTA - Tidak banyak ilmuwan Indonesia yang mampu menjejakkan kaki di kutub selatan , benua paling misterius dan ekstrem di dunia. Namun, Gerry Utama, peneliti muda asal Palembang sekaligus alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mencatatkan sejarah.
Gerry Utama sebagai ilmuwan termuda Indonesia dan orang Indonesia serta ASEAN pertama yang mengikuti ekspedisi riset Antartika bersama tim dari Russian Antarctic Expedition (RAE) ke-69.
Baca juga: Cerita Brian Arianto Lulus Cumlaude Kedokteran UGM: Jadi Dokter adalah Panggilan Jiwa
Ekspedisi ilmiah ini berlangsung selama lima bulan, dari Februari hingga Juli 2024, menggunakan kapal riset canggih Icebreaker Akademik Tyroshnikov milik Arctic and Antarctic Research Institute (AARI) Rusia. Dalam perjalanan tersebut, alumni UGM ini tidak hanya menjalani riset berstandar internasional, tetapi juga menjadi simbol penting kerja sama ilmiah Indonesia–Rusia yang telah terjalin selama 74 tahun.
Gerry, yang saat itu sedang menempuh studi magister di Saint Petersburg State University jurusan Paleogeography, terlibat langsung dalam misi pemetaan geomorfologi Pulau King George. Penelitian ini bertujuan merevisi Atlas Geomorfologi Antarktika yang disusun pemerintah Rusia, sekaligus memperluas cakupan data ilmiah untuk riset perubahan iklim global.
Baca juga: Kisah Maria Khelli, Lulus Cumlaude dengan IPK Tertinggi di ITB
Dikutip dari laman UGM dan Instagram Beasiswa BAZNAS, alumnus program studi Geografi dan Ilmu Lingkungan Fakultas Geografi UGM ini menyampaikan bahwa keterlibatannya bukanlah kebetulan.
“Sejak awal perkuliahan saya sudah ditawari untuk ikut program tersebut, hanya saja memang saat ikut program tersebut, kami sudah harus tahu akan meneliti apa,” kata Gerry.
![Kisah Gerry Utama, Ilmuwan Termuda Indonesia yang Menembus Kutub Selatan]()
Foto/Instagram Gerry Utama
Salah satu temuan penting selama ekspedisi ini adalah fosil kayu berusia 130 juta tahun, yang membuktikan bahwa Antartika pada masa lampau pernah ditutupi hutan tropis, seperti wilayah lain di dunia.
Baca juga: Momen Haru Ayah Wakili Wisuda Anaknya yang Meninggal Dunia Sambil Membawa Foto di Unesa
Selama di Antartika, Gerry dan tim menghadapi kondisi ekstrem: suhu hingga -40 derajat Celsius, badai angin mencapai 300 km/jam, serta sistem waktu yang berubah-ubah setiap hari seiring pergerakan kapal.
“Jam setiap hari bisa berubah. Kadang kita harus reset jam, dan kiblat pun bisa bergeser setiap harinya. Mandi harus dijadwal, dan kadang kami terpaksa bermalam di stasiun karena cuaca buruk,” katanya.
![Kisah Gerry Utama, Ilmuwan Termuda Indonesia yang Menembus Kutub Selatan]()
Gerry ditugaskan di Stasiun Mirny, salah satu stasiun riset tertua milik Rusia di Antartika. Dari sana, mobilisasi hanya bisa dilakukan menggunakan helikopter, dan para ilmuwan setiap hari harus kembali ke kapal karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bermalam di daratan.
Keikutsertaan Gerry dalam ekspedisi bergengsi ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia. Selain menunjukkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing di panggung global, Gerry juga menjadi suara yang mendorong pemerintah agar lebih peduli terhadap peran Indonesia dalam Traktat Antarktika.
Gerry juga menjadi satu dari hanya tujuh orang Indonesia yang pernah menjejakkan kaki di Antartika. Sebuah capaian luar biasa yang ia harap tidak berhenti padanya saja.
“Semoga kawan-kawan UGM yang lain bisa melanjutkan ke Antartika,” harap Gerry.
Gerry Utama sebagai ilmuwan termuda Indonesia dan orang Indonesia serta ASEAN pertama yang mengikuti ekspedisi riset Antartika bersama tim dari Russian Antarctic Expedition (RAE) ke-69.
Baca juga: Cerita Brian Arianto Lulus Cumlaude Kedokteran UGM: Jadi Dokter adalah Panggilan Jiwa
Ekspedisi ilmiah ini berlangsung selama lima bulan, dari Februari hingga Juli 2024, menggunakan kapal riset canggih Icebreaker Akademik Tyroshnikov milik Arctic and Antarctic Research Institute (AARI) Rusia. Dalam perjalanan tersebut, alumni UGM ini tidak hanya menjalani riset berstandar internasional, tetapi juga menjadi simbol penting kerja sama ilmiah Indonesia–Rusia yang telah terjalin selama 74 tahun.
Menjawab Tantangan di Negeri Es
Gerry, yang saat itu sedang menempuh studi magister di Saint Petersburg State University jurusan Paleogeography, terlibat langsung dalam misi pemetaan geomorfologi Pulau King George. Penelitian ini bertujuan merevisi Atlas Geomorfologi Antarktika yang disusun pemerintah Rusia, sekaligus memperluas cakupan data ilmiah untuk riset perubahan iklim global.
Baca juga: Kisah Maria Khelli, Lulus Cumlaude dengan IPK Tertinggi di ITB
Dikutip dari laman UGM dan Instagram Beasiswa BAZNAS, alumnus program studi Geografi dan Ilmu Lingkungan Fakultas Geografi UGM ini menyampaikan bahwa keterlibatannya bukanlah kebetulan.
“Sejak awal perkuliahan saya sudah ditawari untuk ikut program tersebut, hanya saja memang saat ikut program tersebut, kami sudah harus tahu akan meneliti apa,” kata Gerry.

Foto/Instagram Gerry Utama
Salah satu temuan penting selama ekspedisi ini adalah fosil kayu berusia 130 juta tahun, yang membuktikan bahwa Antartika pada masa lampau pernah ditutupi hutan tropis, seperti wilayah lain di dunia.
Baca juga: Momen Haru Ayah Wakili Wisuda Anaknya yang Meninggal Dunia Sambil Membawa Foto di Unesa
Perjuangan di Cuaca Ekstrem: Dari Kiblat Berganti Hingga Waktu yang Berubah
Selama di Antartika, Gerry dan tim menghadapi kondisi ekstrem: suhu hingga -40 derajat Celsius, badai angin mencapai 300 km/jam, serta sistem waktu yang berubah-ubah setiap hari seiring pergerakan kapal.
“Jam setiap hari bisa berubah. Kadang kita harus reset jam, dan kiblat pun bisa bergeser setiap harinya. Mandi harus dijadwal, dan kadang kami terpaksa bermalam di stasiun karena cuaca buruk,” katanya.

Gerry ditugaskan di Stasiun Mirny, salah satu stasiun riset tertua milik Rusia di Antartika. Dari sana, mobilisasi hanya bisa dilakukan menggunakan helikopter, dan para ilmuwan setiap hari harus kembali ke kapal karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bermalam di daratan.
Membuka Pintu Riset Antartika bagi Indonesia
Keikutsertaan Gerry dalam ekspedisi bergengsi ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia. Selain menunjukkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing di panggung global, Gerry juga menjadi suara yang mendorong pemerintah agar lebih peduli terhadap peran Indonesia dalam Traktat Antarktika.
Gerry juga menjadi satu dari hanya tujuh orang Indonesia yang pernah menjejakkan kaki di Antartika. Sebuah capaian luar biasa yang ia harap tidak berhenti padanya saja.
“Semoga kawan-kawan UGM yang lain bisa melanjutkan ke Antartika,” harap Gerry.
(nnz)
Lihat Juga :