Kisah Rofidah, Anak Penjual Jerami Kuliah Gratis di UGM dan Bercita-cita Kerja di Kementan
Kamis, 05 Juni 2025 - 13:51 WIB
loading...
Kisah perjuangan Rofidah Nurhana Lestari, anak penjual jerami asal Wonosari, menjadi inspirasi banyak orang. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Kisah perjuangan mahasiswa UGM Rofidah Nurhana Lestari, anak penjual jerami asal Wonosari, menjadi inspirasi banyak orang. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia berhasil meraih mimpi untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara gratis di Universitas Gadjah Mada ( UGM ).
Rofidah diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Teknologi Pertanian UGM dan mendapatkan beasiswa subsidi UKT 100 persen.
Sambil menunggu awal perkuliahan di bulan Agustus, Rofidah mengisi waktu dengan bekerja menjaga konter HP. Ia menyadari perjuangan sang ayah, Timbul Marsono, yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut jerami untuk pakan ternak, tidak selalu menghasilkan pendapatan yang cukup.
Baca juga: Lulus Cumlaude dari UGM di Usia 19 Tahun, Mutiara Jadi Wisudawan Termuda
“Melihat kondisi Bapak di musim hujan ini yang belum bisa bekerja maksimal. Saya juga tahu nantinya masuk kuliah juga perlu biaya,” ungkap Rofidah.
Pekerjaan ayahnya bergantung pada musim. Saat permintaan jerami menurun, Timbul harus beralih menjual barang bekas demi memenuhi kebutuhan keluarga. “Kalo lagi sepi, kita cari rongsokan,” katanya.
Dengan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta per bulan, keluarga Rofidah hidup dalam kesederhanaan. Namun, semangat belajar Rofidah tak pernah luntur. “Belajarnya sampai jam 1 sampai 2 pagi apalagi jika menjelang ujian,” kata ayahnya bangga.
Baca juga: Cerita Brian Arianto Lulus Cumlaude Kedokteran UGM: Jadi Dokter adalah Panggilan Jiwa
“Bapak ibu selalu memotivasi saya untuk bisa sekolah lebih tinggi, walaupun dengan keadaan ekonomi yang seperti ini,” tutur Rofidah dengan mata berkaca-kaca. Sang ayah pun selalu meyakinkan bahwa akan ada jalan untuk kuliah. “Bapak selalu meyakinkannya, pasti ada kesempatan beasiswa di masa depan, dan bagaimanapun saya akan dapat berkuliah,” kenang Rofidah.
Kisah hidupnya juga penuh keteladanan. Selama 27 tahun, sang ibu merawat kakaknya yang lumpuh sebelum akhirnya wafat tahun lalu. Hal ini semakin menguatkan semangat Rofidah untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat.
Ibu Rofidah, Darini, mengungkapkan rasa syukurnya kepada UGM. “Saya sangat berterima kasih kepada pihak UGM, yang mana telah menerima anak saya Rofidah dengan subsidi 100%. Anak saya mendapat biaya kuliah gratis, sekali lagi terima kasih,” ujarnya.
Rofidah diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Teknologi Pertanian UGM dan mendapatkan beasiswa subsidi UKT 100 persen.
Anak Penjual Jerami yang Menginspirasi
Sambil menunggu awal perkuliahan di bulan Agustus, Rofidah mengisi waktu dengan bekerja menjaga konter HP. Ia menyadari perjuangan sang ayah, Timbul Marsono, yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut jerami untuk pakan ternak, tidak selalu menghasilkan pendapatan yang cukup.
Baca juga: Lulus Cumlaude dari UGM di Usia 19 Tahun, Mutiara Jadi Wisudawan Termuda
“Melihat kondisi Bapak di musim hujan ini yang belum bisa bekerja maksimal. Saya juga tahu nantinya masuk kuliah juga perlu biaya,” ungkap Rofidah.
Pekerjaan ayahnya bergantung pada musim. Saat permintaan jerami menurun, Timbul harus beralih menjual barang bekas demi memenuhi kebutuhan keluarga. “Kalo lagi sepi, kita cari rongsokan,” katanya.
Dengan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta per bulan, keluarga Rofidah hidup dalam kesederhanaan. Namun, semangat belajar Rofidah tak pernah luntur. “Belajarnya sampai jam 1 sampai 2 pagi apalagi jika menjelang ujian,” kata ayahnya bangga.
Baca juga: Cerita Brian Arianto Lulus Cumlaude Kedokteran UGM: Jadi Dokter adalah Panggilan Jiwa
Menerbitkan Puisi Bersama Najwa Shihab
Sejak kecil, Rofidah selalu meraih ranking 1 saat SD dan SMP. Kecintaannya pada literasi juga membawanya menulis puisi dan berhasil menerbitkan karya dalam buku “Catatan Perjuangan” bersama Najwa Shihab.“Bapak ibu selalu memotivasi saya untuk bisa sekolah lebih tinggi, walaupun dengan keadaan ekonomi yang seperti ini,” tutur Rofidah dengan mata berkaca-kaca. Sang ayah pun selalu meyakinkan bahwa akan ada jalan untuk kuliah. “Bapak selalu meyakinkannya, pasti ada kesempatan beasiswa di masa depan, dan bagaimanapun saya akan dapat berkuliah,” kenang Rofidah.
Kisah hidupnya juga penuh keteladanan. Selama 27 tahun, sang ibu merawat kakaknya yang lumpuh sebelum akhirnya wafat tahun lalu. Hal ini semakin menguatkan semangat Rofidah untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat.
Bercita-cita Bekerja di Kementan
Rofidah bercita-cita bekerja di Kementerian Pertanian ( Kementan ) setelah lulus nanti. Itulah alasan ia memilih Program Studi Teknik Pertanian di UGM. “Saya ingin nantinya saya bisa menjadi salah satu kontributor dalam menginovasi produksi maupun sarana di bidang pertanian Indonesia,” harapnya.Ibu Rofidah, Darini, mengungkapkan rasa syukurnya kepada UGM. “Saya sangat berterima kasih kepada pihak UGM, yang mana telah menerima anak saya Rofidah dengan subsidi 100%. Anak saya mendapat biaya kuliah gratis, sekali lagi terima kasih,” ujarnya.
(nnz)
Lihat Juga :