Kisah Varen, Anak Pedagang di Kantin SD yang Lolos UGM Tanpa Bayar UKT
Kamis, 19 Juni 2025 - 07:51 WIB
loading...
Varen Syifa Maudina, siswa yang lolos UGM jalur SNBP berfoto bersama ibunya. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Ini kisah perjuangan panjang seorang anak penjual kantin sekolah dasar yang kini berhasil lolos ke Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat jalur SNBP dan memperoleh pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100 persen.
Varen Syifa Maudina (19) di dinyatakan lolos SNBP ke Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Di balik prestasi akademik tersebut, tersimpan perjuangan luar biasa dari ibunya, Siti Darojah (53), sosok tangguh yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.
Baca juga: Unair Masuk Daftar Top 10 Kampus Terbaik Dunia di THE Impact 2025
Sejak Varen masih bayi, ayahnya memilih pergi meninggalkan keluarga. Sejak itu pula, sang ibu harus menghidupi anak-anaknya sendirian. Musibah gempa 2007 yang menghancurkan sumber penghasilan keluarga, ditambah konflik rumah tangga, membuat Siti harus mengambil langkah besar.
Siti akhirnya berjualan di kantin SD di wilayah Jetis, Bantul, demi menyambung hidup dan membiayai pendidikan Varen dan kakaknya. “Saya memprioritaskan anak-anak, apapun saya lakukan dan saya fokuskan untuk kehidupan anak,” ujar Siti, dikutip dari laman UGM , Kamis (19/6/2025).
Varen tumbuh dalam keterbatasan, namun juga dalam semangat dan kerja keras. Sejak kecil ia terbiasa bangun dini hari untuk membantu ibunya menyiapkan makanan yang akan dijual. Bahkan ia kerap tiba di gerbang sekolah sejak pukul 5 pagi demi menemani ibunya membuka lapak.
Baca juga: Berapa UKT UGM Jalur Mandiri 2025? Cek Biaya Kuliah Jurusan Impianmu
Tak hanya itu, ia juga aktif membantu memasarkan dagangan sang ibu dengan menitipkan makanan ke kantin sekolahnya. “Sejak SD sampai SMA sekolah Varen memang jauh dari rumah, itu saya lakukan supaya dia nggak dapat tekanan sosial kalau bersekolah di sekitar lingkungan rumah dan ditanya tentang ayahnya,” kisah Siti dengan mata berkaca.
Sejak jenjang SMP, Varen telah menanamkan impian untuk kuliah di UGM . Keterbatasan biaya tak menyurutkan tekadnya. Ia tetap belajar giat lewat les murah, sumber pembelajaran daring, dan tentu saja, dukungan doa dari sang ibu.
Baca juga: Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi, Polda Metro Jaya Klarifikasi ke SMAN 6 Surakarta dan UGM
“Ibu saya tidak pernah bilang keberatan, selalu mendukung dan membebaskan pilihan saya. Saya percaya kalau kita niat cari ilmu, Allah pasti kasih jalan,” tutur Varen penuh keyakinan.
Meski dikenal pendiam, Varen memiliki prestasi gemilang di setiap jenjang sekolah. Ia langganan juara kelas dan kerap menjuarai lomba menggambar. Kepribadiannya yang ramah dan peduli membuatnya disukai oleh guru maupun teman sebaya.
“Anaknya memang pendiam, tapi dia tanggap sama lingkungan sekitar, baik sama keluarga atau ke teman-temannya,” ujar sang ibu.
Baca juga: Koran Pengumuman Hasil Ujian Jokowi Masuk UGM Disita Polisi, Roy Suryo: Jahat Sekali
Nilai-nilai luhur dari ibunya menjadi bekal utama dalam hidup Varen: kejujuran, kemandirian, kerendahan hati, serta semangat memberi meski dalam kekurangan. Kini, sebagai mahasiswa baru UGM, Varen memupuk mimpi yang lebih besar: melanjutkan studi S-2 dan mengabdi di pemerintahan atau BUMN.
Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ibu dan pembuktian kepada sosok ayah yang telah meninggalkannya. “Saya akan buktikan pada Ayah saya bahwa anak yang ditinggalkannya bisa melakukan suatu yang besar, saya dan kakak perempuan saya bisa berkuliah,” katanya penuh semangat.
Perjalanan hidup Varen dan ibunya adalah simbol kekuatan perempuan dalam menghadapi keterbatasan hidup. Ini adalah kisah tentang cinta, keteguhan, dan pengorbanan seorang ibu yang dibalas dengan prestasi anak yang tak kalah luar biasa.
“Untuk semua yang tengah berjuang, dinikmati aja karena suatu hari nanti kita mesti mendapatkan hasil dari apa yang telah kita perjuangkan dengan bangga,” pungkas Varen.
Varen Syifa Maudina (19) di dinyatakan lolos SNBP ke Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Di balik prestasi akademik tersebut, tersimpan perjuangan luar biasa dari ibunya, Siti Darojah (53), sosok tangguh yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.
Baca juga: Unair Masuk Daftar Top 10 Kampus Terbaik Dunia di THE Impact 2025
Sejak Varen masih bayi, ayahnya memilih pergi meninggalkan keluarga. Sejak itu pula, sang ibu harus menghidupi anak-anaknya sendirian. Musibah gempa 2007 yang menghancurkan sumber penghasilan keluarga, ditambah konflik rumah tangga, membuat Siti harus mengambil langkah besar.
Siti akhirnya berjualan di kantin SD di wilayah Jetis, Bantul, demi menyambung hidup dan membiayai pendidikan Varen dan kakaknya. “Saya memprioritaskan anak-anak, apapun saya lakukan dan saya fokuskan untuk kehidupan anak,” ujar Siti, dikutip dari laman UGM , Kamis (19/6/2025).
Varen tumbuh dalam keterbatasan, namun juga dalam semangat dan kerja keras. Sejak kecil ia terbiasa bangun dini hari untuk membantu ibunya menyiapkan makanan yang akan dijual. Bahkan ia kerap tiba di gerbang sekolah sejak pukul 5 pagi demi menemani ibunya membuka lapak.
Baca juga: Berapa UKT UGM Jalur Mandiri 2025? Cek Biaya Kuliah Jurusan Impianmu
Tak hanya itu, ia juga aktif membantu memasarkan dagangan sang ibu dengan menitipkan makanan ke kantin sekolahnya. “Sejak SD sampai SMA sekolah Varen memang jauh dari rumah, itu saya lakukan supaya dia nggak dapat tekanan sosial kalau bersekolah di sekitar lingkungan rumah dan ditanya tentang ayahnya,” kisah Siti dengan mata berkaca.
Sejak jenjang SMP, Varen telah menanamkan impian untuk kuliah di UGM . Keterbatasan biaya tak menyurutkan tekadnya. Ia tetap belajar giat lewat les murah, sumber pembelajaran daring, dan tentu saja, dukungan doa dari sang ibu.
Baca juga: Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi, Polda Metro Jaya Klarifikasi ke SMAN 6 Surakarta dan UGM
“Ibu saya tidak pernah bilang keberatan, selalu mendukung dan membebaskan pilihan saya. Saya percaya kalau kita niat cari ilmu, Allah pasti kasih jalan,” tutur Varen penuh keyakinan.
Meski dikenal pendiam, Varen memiliki prestasi gemilang di setiap jenjang sekolah. Ia langganan juara kelas dan kerap menjuarai lomba menggambar. Kepribadiannya yang ramah dan peduli membuatnya disukai oleh guru maupun teman sebaya.
“Anaknya memang pendiam, tapi dia tanggap sama lingkungan sekitar, baik sama keluarga atau ke teman-temannya,” ujar sang ibu.
Baca juga: Koran Pengumuman Hasil Ujian Jokowi Masuk UGM Disita Polisi, Roy Suryo: Jahat Sekali
Nilai-nilai luhur dari ibunya menjadi bekal utama dalam hidup Varen: kejujuran, kemandirian, kerendahan hati, serta semangat memberi meski dalam kekurangan. Kini, sebagai mahasiswa baru UGM, Varen memupuk mimpi yang lebih besar: melanjutkan studi S-2 dan mengabdi di pemerintahan atau BUMN.
Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ibu dan pembuktian kepada sosok ayah yang telah meninggalkannya. “Saya akan buktikan pada Ayah saya bahwa anak yang ditinggalkannya bisa melakukan suatu yang besar, saya dan kakak perempuan saya bisa berkuliah,” katanya penuh semangat.
Perjalanan hidup Varen dan ibunya adalah simbol kekuatan perempuan dalam menghadapi keterbatasan hidup. Ini adalah kisah tentang cinta, keteguhan, dan pengorbanan seorang ibu yang dibalas dengan prestasi anak yang tak kalah luar biasa.
“Untuk semua yang tengah berjuang, dinikmati aja karena suatu hari nanti kita mesti mendapatkan hasil dari apa yang telah kita perjuangkan dengan bangga,” pungkas Varen.
(nnz)
Lihat Juga :