Melalui Kurikulum OBE, Universitas Bali Dwipa Siap Dukung Kampus Berdampak
Jum'at, 20 Juni 2025 - 15:55 WIB
loading...
Universitas Bali Dwipa memulai paradigma baru berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan metode pengajaran semuanya ditargetkan berbasis case based dan project based learning. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Universitas Bali Dwipa mengusung visi yang besar: menjadi perguruan tinggi rujukan nasional, bahkan internasional, dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Universitas Bali Dwipa memulai dengan menanggalkan pola lama demi paradigma baru berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan metode pengajaran semuanya ditargetkan berbasis case based dan project based learning.
Revisi kurikulum dari Kurikulum MBKM dan direformulasi untuk menjadi Kurikulum Berdampak ini dirancang bukan hanya untuk mencetak lulusan yang relevan, melainkan juga agen perubahan yang mampu menciptakan solusi nyata bagi tantangan yang dihadapi masyarakat.
"Sudah saatnya kita berhenti hanya mencetak lulusan. Pendidikan Tinggi harus mencetak agen transformasi yang siap mengguncang dunia dengan dampak yang diberikan," tegas Lidia Sandra yang menjadi tutor utama dari rangkaian transformasi ini.
Sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan anggota Dewan Merdeka Belajar Kampus Merdeka LLDikti Wilayah VIII, Lidia membawa semangat perubahan untuk meningkatkan luaran program studi tidak hanya relevan tetapi kongkrit memberi dampak dengan strategi yang matang di pembelajaran.
Komitmen besar ini diwujudkan melalui serangkaian workshop intensif bertajuk "Kurikulum OBE Pendidikan Tinggi Berdampak" yang digelar setiap Rabu selama sebulan penuh dan mencapai klimaksnya pada Selasa, 18 Juni 2025, di Hotel Quest Denpasar.
Pada hari penutupan, sebanyak 17 pimpinan program studi dari berbagai program studi larut dalam diskusi yang berlangsung dari pagi hingga sore, penuh energi, dialog konstruktif perbaikan kurikulum, dan pertukaran gagasan visioner. Ruang konferensi berubah menjadi ruang cikal bakal masa depan: di mana desain kurikulum tak lagi sekadar administrasi, melainkan strategi pembangunan bangsa.
Dalam forum tersebut, Lidia menggarisbawahi bahwa kurikulum dan metode pembelajaran merupakan tulang punggung utama dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berdampak. “Kita tak bisa lagi bertahan dengan model lama. Setiap mata kuliah harus menghasilkan kompetensi yang bisa langsung diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ujarnya.
Dengan kurikulum yang diselaraskan pada kebutuhan industri dan masyarakat, serta strategi kemitraan yang kuat, kampus ini tengah merancang sebuah peta jalan Kampus Berdampak yang ambisius namun terukur.
Sistem OBE yang diadopsi fokusnya bukan pada proses belajar semata, melainkan pada hasil pembelajaran yang konkret dan berdampak. Dengan pendekatan ini, setiap tugas, proyek, dan aktivitas perkuliahan dirancang agar menghasilkan lulusan yang tak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan pekerjaan dan solusi.
Universitas Bali Dwipa menyambut kebijakan “ Diktisaintek Berdampak ” dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan kesiapan penuh, bahkan dengan semangat untuk menjadi pionir pelaksanaan kebijakan tersebut.
Para pimpinan program studi yang hadir menunjukkan tekad yang serupa. Tidak ada lagi tempat bagi pendekatan yang kaku dan birokratis. Setiap bidang studi, dari teknik, sosial, humaniora, ditantang untuk menyusun ulang arah kurikulumnya agar lebih adaptif, aplikatif, dan berdampak. Para dosen pun digugah untuk meninggalkan zona nyaman demi menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan dan transformatif.
"Universitas Bali Dwipa tidak hanya tengah membangun sistem, tapi juga sedang menanamkan mimpi besar: menghadirkan lulusan-lulusan yang menjadi penggerak perubahan di komunitasnya, pencipta solusi di tempat kerja, dan duta Indonesia di panggung dunia," jelasnya.
Implementasi kurikulum ini akan mulai dilaksanakan pada Tahun Akademik mendatang dan dengansistem monitoring dan evaluasi yang ketat, institusi ini bersiap memasuki babak baru.
Universitas Bali Dwipa memulai dengan menanggalkan pola lama demi paradigma baru berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan metode pengajaran semuanya ditargetkan berbasis case based dan project based learning.
Revisi kurikulum dari Kurikulum MBKM dan direformulasi untuk menjadi Kurikulum Berdampak ini dirancang bukan hanya untuk mencetak lulusan yang relevan, melainkan juga agen perubahan yang mampu menciptakan solusi nyata bagi tantangan yang dihadapi masyarakat.
"Sudah saatnya kita berhenti hanya mencetak lulusan. Pendidikan Tinggi harus mencetak agen transformasi yang siap mengguncang dunia dengan dampak yang diberikan," tegas Lidia Sandra yang menjadi tutor utama dari rangkaian transformasi ini.
Sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan anggota Dewan Merdeka Belajar Kampus Merdeka LLDikti Wilayah VIII, Lidia membawa semangat perubahan untuk meningkatkan luaran program studi tidak hanya relevan tetapi kongkrit memberi dampak dengan strategi yang matang di pembelajaran.
Komitmen besar ini diwujudkan melalui serangkaian workshop intensif bertajuk "Kurikulum OBE Pendidikan Tinggi Berdampak" yang digelar setiap Rabu selama sebulan penuh dan mencapai klimaksnya pada Selasa, 18 Juni 2025, di Hotel Quest Denpasar.
Pada hari penutupan, sebanyak 17 pimpinan program studi dari berbagai program studi larut dalam diskusi yang berlangsung dari pagi hingga sore, penuh energi, dialog konstruktif perbaikan kurikulum, dan pertukaran gagasan visioner. Ruang konferensi berubah menjadi ruang cikal bakal masa depan: di mana desain kurikulum tak lagi sekadar administrasi, melainkan strategi pembangunan bangsa.
Dalam forum tersebut, Lidia menggarisbawahi bahwa kurikulum dan metode pembelajaran merupakan tulang punggung utama dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berdampak. “Kita tak bisa lagi bertahan dengan model lama. Setiap mata kuliah harus menghasilkan kompetensi yang bisa langsung diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ujarnya.
Dengan kurikulum yang diselaraskan pada kebutuhan industri dan masyarakat, serta strategi kemitraan yang kuat, kampus ini tengah merancang sebuah peta jalan Kampus Berdampak yang ambisius namun terukur.
Sistem OBE yang diadopsi fokusnya bukan pada proses belajar semata, melainkan pada hasil pembelajaran yang konkret dan berdampak. Dengan pendekatan ini, setiap tugas, proyek, dan aktivitas perkuliahan dirancang agar menghasilkan lulusan yang tak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan pekerjaan dan solusi.
Universitas Bali Dwipa menyambut kebijakan “ Diktisaintek Berdampak ” dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan kesiapan penuh, bahkan dengan semangat untuk menjadi pionir pelaksanaan kebijakan tersebut.
Para pimpinan program studi yang hadir menunjukkan tekad yang serupa. Tidak ada lagi tempat bagi pendekatan yang kaku dan birokratis. Setiap bidang studi, dari teknik, sosial, humaniora, ditantang untuk menyusun ulang arah kurikulumnya agar lebih adaptif, aplikatif, dan berdampak. Para dosen pun digugah untuk meninggalkan zona nyaman demi menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan dan transformatif.
"Universitas Bali Dwipa tidak hanya tengah membangun sistem, tapi juga sedang menanamkan mimpi besar: menghadirkan lulusan-lulusan yang menjadi penggerak perubahan di komunitasnya, pencipta solusi di tempat kerja, dan duta Indonesia di panggung dunia," jelasnya.
Implementasi kurikulum ini akan mulai dilaksanakan pada Tahun Akademik mendatang dan dengansistem monitoring dan evaluasi yang ketat, institusi ini bersiap memasuki babak baru.
(nnz)
Lihat Juga :