Seminar Nasional Uhamka Tekankan Kesehatan Mental Gen Z Akibat Krisis Iklim
Rabu, 02 Juli 2025 - 18:59 WIB
loading...
FISIP Uhamka bekerja sama dengan Yayasan Pita Putih Indonesia menggelar seminar nasional bertajuk Resiliensi Gen Z, Bangun Generasi Tangguh Hadapi Perubahan Iklim. Foto/Uhamka.
A
A
A
JAKARTA - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA ( Uhamka ) bekerja sama dengan Yayasan Pita Putih Indonesia menggelar seminar nasional bertajuk “Resiliensi Gen Z , Bangun Generasi Tangguh Hadapi Perubahan Iklim”, yang digelar di Kampus FISIP Uhamka, Jakarta, Rabu (2/7/2025).
Seminar ini menjadi ruang edukasi sekaligus ajakan bagi generasi muda, khususnya Gen Z, untuk lebih peduli dan tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Dekan FISIP Uhamka, Tellys Corliana, dalam sambutannya menekankan bahwa seluruh kegiatan di Uhamka, termasuk seminar ini, dipersiapkan oleh mahasiswa secara aktif, mulai dari penyusunan hingga pelaksanaan teknis acara.
“Isu lingkungan hidup, khususnya perubahan iklim, bukan hanya menjadi persoalan nasional, tetapi juga global. Gen Z termasuk generasi yang paling merasakan kecemasan atas perubahan iklim yang ekstrem,” ujar Tellys mengawali sambutannya.
Ia menambahkan, perubahan iklim yang terjadi sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia, sering kali tanpa disadari. Oleh karena itu, Gen Z sebagai generasi digital-native memiliki peran strategis untuk menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian bumi melalui media sosial dan teknologi digital.
“Gen Z punya gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan dekat dengan isu lingkungan. Mereka juga lebih responsif terhadap teknologi, ini keunggulan yang bisa dimanfaatkan untuk mengedukasi publik agar lebih sadar terhadap perubahan iklim,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pita Putih Indonesia, Giwo Rubianto Wiyogo, mengungkapkan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat dengan institusi pendidikan dalam mengedukasi Gen Z terkait dampak perubahan iklim, khususnya terhadap kesehatan fisik dan mental.
“Pita Putih Indonesia peduli terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, remaja, dan ibu-ibu. Perubahan iklim berdampak besar, bukan hanya terhadap kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwa remaja Gen Z,” ujar Giwo.
Giwo menjelaskan bahwa edukasi ini tidak hanya untuk menyadarkan mahasiswa sebagai individu, tetapi juga sebagai agen perubahan di lingkungan mereka.
“Gen Z bukan hanya korban, tapi juga bisa menjadi pelaku dari perubahan iklim ini. Maka penting bagi mereka untuk mengetahui faktor penyebab, dampaknya, dan bagaimana berkontribusi sebagai agen mitigasi, bukan malah memperburuk situasi,” jelasnya.
Seminar ini juga menghadirkan narasumber dari Pusat Kesehatan Jiwa Nasional guna memberikan wawasan mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental. Peserta diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman agar mampu membangun komunikasi yang sehat, baik dalam lingkup pertemanan maupun keluarga.
Kolaborasi antara akademisi dan mahasiswa ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang responsif terhadap isu-isu lingkungan dan kesehatan mental, serta memperkuat peran Gen Z sebagai generasi pelopor perubahan.
Seminar ini menjadi ruang edukasi sekaligus ajakan bagi generasi muda, khususnya Gen Z, untuk lebih peduli dan tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Dekan FISIP Uhamka, Tellys Corliana, dalam sambutannya menekankan bahwa seluruh kegiatan di Uhamka, termasuk seminar ini, dipersiapkan oleh mahasiswa secara aktif, mulai dari penyusunan hingga pelaksanaan teknis acara.
“Isu lingkungan hidup, khususnya perubahan iklim, bukan hanya menjadi persoalan nasional, tetapi juga global. Gen Z termasuk generasi yang paling merasakan kecemasan atas perubahan iklim yang ekstrem,” ujar Tellys mengawali sambutannya.
Ia menambahkan, perubahan iklim yang terjadi sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia, sering kali tanpa disadari. Oleh karena itu, Gen Z sebagai generasi digital-native memiliki peran strategis untuk menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian bumi melalui media sosial dan teknologi digital.
“Gen Z punya gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan dekat dengan isu lingkungan. Mereka juga lebih responsif terhadap teknologi, ini keunggulan yang bisa dimanfaatkan untuk mengedukasi publik agar lebih sadar terhadap perubahan iklim,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pita Putih Indonesia, Giwo Rubianto Wiyogo, mengungkapkan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat dengan institusi pendidikan dalam mengedukasi Gen Z terkait dampak perubahan iklim, khususnya terhadap kesehatan fisik dan mental.
“Pita Putih Indonesia peduli terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, remaja, dan ibu-ibu. Perubahan iklim berdampak besar, bukan hanya terhadap kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwa remaja Gen Z,” ujar Giwo.
Giwo menjelaskan bahwa edukasi ini tidak hanya untuk menyadarkan mahasiswa sebagai individu, tetapi juga sebagai agen perubahan di lingkungan mereka.
“Gen Z bukan hanya korban, tapi juga bisa menjadi pelaku dari perubahan iklim ini. Maka penting bagi mereka untuk mengetahui faktor penyebab, dampaknya, dan bagaimana berkontribusi sebagai agen mitigasi, bukan malah memperburuk situasi,” jelasnya.
Seminar ini juga menghadirkan narasumber dari Pusat Kesehatan Jiwa Nasional guna memberikan wawasan mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental. Peserta diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman agar mampu membangun komunikasi yang sehat, baik dalam lingkup pertemanan maupun keluarga.
Kolaborasi antara akademisi dan mahasiswa ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang responsif terhadap isu-isu lingkungan dan kesehatan mental, serta memperkuat peran Gen Z sebagai generasi pelopor perubahan.
(nnz)
Lihat Juga :