Kisah Haru Soraya, Anak Penjual Kelontong yang Lolos Kuliah Gratis di UGM
Jum'at, 04 Juli 2025 - 21:00 WIB
loading...
Soraya berhasil menembus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) lewat jalur SNBP. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Ini cerita mahasiswa UGM yang berhasil tembus UGM tanpa tes bahkan bisa kuliah gratis. Tekad Soraya Esther Br. Sitanggang (18) tak goyah meski hidup dalam keterbatasan. Anak bungsu dari empat bersaudara ini membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih meski tanpa kemewahan.
Berasal dari keluarga sederhana di Medan Tembung, Sumatera Utara, Soraya berhasil menembus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), dan bahkan mendapat beasiswa kuliah 100 persen—alias gratis hingga lulus.
Baca juga: Apakah UGM Bisa Pakai KIP Kuliah di Jalur Mandiri? Camaba Cek Yuk
Kabar kelulusan Soraya diumumkan pada Selasa, 18 Maret 2025—momen yang takkan pernah ia lupakan. “Saya masih ingat, sepulang sekolah langsung buka pengumuman. Begitu lihat warna biru, saya langsung lari ke ibu yang sedang beres-beres dagangan,” kisahnya, mengutip laman UGM, Jumat (7/4/2025).
Ibunya, Rosliana M. Sihotang, menangis bahagia. Di balik air mata itu terselip kekhawatiran soal biaya. Namun, tak lama setelah itu, kabar baik lainnya datang: Soraya mendapat beasiswa UKT Pendidikan Unggul bersubsidi penuh dari pemerintah.
Baca juga: Sosok Bagus Adi, Mahasiswa UGM yang Wafat saat KKN: Aktif dan Peduli Lingkungan
“Berasa beban yang semula berat, perlahan diangkat. Saya pesankan pada Soraya untuk mensyukuri ini,” kata Rosliana saat ditemui di rumah mereka yang juga berfungsi sebagai warung kelontong.
Kisah Soraya bukan sekadar tentang lolos masuk UGM. Ia tumbuh tanpa sosok ayah sejak usia dua tahun. Sang ibu menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, berjuang menjual kebutuhan sehari-hari demi membesarkan keempat anaknya. Di tengah keterbatasan itu, Soraya justru tumbuh menjadi sosok tangguh dan penuh semangat belajar.
Baca juga: UGM Berduka, Mahasiswa KKN-PPM Meninggal setelah Kapal yang Ditumpangi Terbalik di Maluku Tenggara
Sejak SD, ia sudah menunjukkan prestasi di berbagai bidang: dari lomba cerdas cermat hingga fashion show. Puncaknya, saat duduk di SMA Negeri 3 Medan, Soraya mencatat sederet prestasi gemilang, antara lain:
Top 10 nasional International Science Qualification Olympiad 2023 (dari 45.846 peserta),
Gold Medal Eduexpo Himatek USU Student Olympiad 2024,
Medali Perak International Medallion Student Competition 2024 bidang Ekonomi.
Selain akademik, Soraya juga aktif berorganisasi sebagai Sekretaris Tim Olimpiade dan Koordinator Bidang Matematika di sekolahnya. Aktivitas ini ia niatkan untuk dilanjutkan saat kuliah nanti. “Jauh dari keluarga tentu harus saya isi dengan kegiatan yang bermakna,” ujarnya penuh semangat.
Soraya menjatuhkan pilihannya pada Program Studi Akuntansi FEB UGM bukan tanpa alasan. Ia sudah jatuh cinta pada dunia ekonomi sejak aktif mengikuti olimpiade di bangku SMA. “Saya cari tahu, dan ternyata FEB UGM sudah terakreditasi AACSB. Itu jadi pertimbangan besar saya,” jelasnya.
Cita-cita Soraya tak berhenti di bangku S1. Ia ingin melanjutkan studi ke jenjang magister, menekuni dunia akuntansi profesional, dan menjadi content creator di bidang keuangan untuk mengedukasi generasi muda soal literasi finansial.
Kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan, Soraya menyampaikan pesan penuh makna: “Jangan pernah remehkan mimpimu. Semua mimpi itu berharga dan layak diperjuangkan. Pengalaman sekecil apapun tetap lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali.”
Berasal dari keluarga sederhana di Medan Tembung, Sumatera Utara, Soraya berhasil menembus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), dan bahkan mendapat beasiswa kuliah 100 persen—alias gratis hingga lulus.
Baca juga: Apakah UGM Bisa Pakai KIP Kuliah di Jalur Mandiri? Camaba Cek Yuk
Kabar kelulusan Soraya diumumkan pada Selasa, 18 Maret 2025—momen yang takkan pernah ia lupakan. “Saya masih ingat, sepulang sekolah langsung buka pengumuman. Begitu lihat warna biru, saya langsung lari ke ibu yang sedang beres-beres dagangan,” kisahnya, mengutip laman UGM, Jumat (7/4/2025).
Ibunya, Rosliana M. Sihotang, menangis bahagia. Di balik air mata itu terselip kekhawatiran soal biaya. Namun, tak lama setelah itu, kabar baik lainnya datang: Soraya mendapat beasiswa UKT Pendidikan Unggul bersubsidi penuh dari pemerintah.
Baca juga: Sosok Bagus Adi, Mahasiswa UGM yang Wafat saat KKN: Aktif dan Peduli Lingkungan
“Berasa beban yang semula berat, perlahan diangkat. Saya pesankan pada Soraya untuk mensyukuri ini,” kata Rosliana saat ditemui di rumah mereka yang juga berfungsi sebagai warung kelontong.
Kisah Soraya bukan sekadar tentang lolos masuk UGM. Ia tumbuh tanpa sosok ayah sejak usia dua tahun. Sang ibu menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, berjuang menjual kebutuhan sehari-hari demi membesarkan keempat anaknya. Di tengah keterbatasan itu, Soraya justru tumbuh menjadi sosok tangguh dan penuh semangat belajar.
Baca juga: UGM Berduka, Mahasiswa KKN-PPM Meninggal setelah Kapal yang Ditumpangi Terbalik di Maluku Tenggara
Sejak SD, ia sudah menunjukkan prestasi di berbagai bidang: dari lomba cerdas cermat hingga fashion show. Puncaknya, saat duduk di SMA Negeri 3 Medan, Soraya mencatat sederet prestasi gemilang, antara lain:
Top 10 nasional International Science Qualification Olympiad 2023 (dari 45.846 peserta),
Gold Medal Eduexpo Himatek USU Student Olympiad 2024,
Medali Perak International Medallion Student Competition 2024 bidang Ekonomi.
Selain akademik, Soraya juga aktif berorganisasi sebagai Sekretaris Tim Olimpiade dan Koordinator Bidang Matematika di sekolahnya. Aktivitas ini ia niatkan untuk dilanjutkan saat kuliah nanti. “Jauh dari keluarga tentu harus saya isi dengan kegiatan yang bermakna,” ujarnya penuh semangat.
Soraya menjatuhkan pilihannya pada Program Studi Akuntansi FEB UGM bukan tanpa alasan. Ia sudah jatuh cinta pada dunia ekonomi sejak aktif mengikuti olimpiade di bangku SMA. “Saya cari tahu, dan ternyata FEB UGM sudah terakreditasi AACSB. Itu jadi pertimbangan besar saya,” jelasnya.
Cita-cita Soraya tak berhenti di bangku S1. Ia ingin melanjutkan studi ke jenjang magister, menekuni dunia akuntansi profesional, dan menjadi content creator di bidang keuangan untuk mengedukasi generasi muda soal literasi finansial.
Kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan, Soraya menyampaikan pesan penuh makna: “Jangan pernah remehkan mimpimu. Semua mimpi itu berharga dan layak diperjuangkan. Pengalaman sekecil apapun tetap lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali.”
(nnz)
Lihat Juga :