Jawa Terlalu Padat Dokter, Pemerintah Gerak Cepat Sebar Ribuan Spesialis ke Daerah
Selasa, 22 Juli 2025 - 17:15 WIB
loading...
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti pentingnya pemerataan dokter spesialis, yang hingga kini distribusinya masih timpang. Foto/Diktisaintek.
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Program Akselerasi Peningkatan Akses dan Mutu Pendidikan Tenaga Medis pada Selasa (22/7/2025). Program ini bertujuan mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis dan subspesialis, melalui strategi Sistem Kesehatan Akademik.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus berpihak pada kualitas, akses, relevansi, dan dampak. “Kita perlu menghasilkan dokter -dokter berkualitas dan memperkuat kontribusi riset bagi sistem layanan kesehatan nasional,” ujarnya, melalui siaran pers, Selasa (22/7/2025).
Baca juga: Krisis Dokter Segera Berakhir? Kemendikti Luncurkan Program Cetak Ribuan Spesialis
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti pentingnya pemerataan dokter spesialis, yang hingga kini distribusinya masih timpang, 59% lulusan tersentralisasi di Pulau Jawa. Untuk itu, pemerintah membentuk Satgas percepatan pemenuhan tenaga medis dan memperkuat kerja sama lintas sektor.
Satgas ini akan menjalankan program quick wins dengan tiga fokus utama:
Membuka prodi baru serta menambah kuota mahasiswa program dokter spesialis dan subspesialis melalui kemitraan perguruan tinggi.
Baca juga: Kemenkes Tutup 3 Prodi di Fakultas Kedokteran Buntut Laporan Perundungan dan Pelecehan Seksual
Menempatkan residen senior di rumah sakit pendidikan prioritas.
Memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait.
Kemendiktisaintek bekerja sama dengan AIPKI (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia) dan 350 rumah sakit untuk membuka 148 prodi baru. Targetnya, kuota mahasiswa dokter spesialis meningkat dua kali lipat menjadi 8.000 pada 2026, dan jumlah lulusan mencapai 6.000 per tahun pada 2030.
Jumlah Fakultas Kedokteran saat ini mencapai 144 institusi dengan kuota mahasiswa sekitar 18.000 per tahun. Dengan pertumbuhan jumlah FK dan kelulusan UKMPPD, pemerintah menargetkan mencetak 48.000 dokter tambahan sepanjang 2025–2030, guna menjawab kekurangan dokter nasional.
Baca juga: Biaya Kuliah Kedokteran di 5 PTN Pulau Sumatera Jalur Mandiri 2025: Unand, Unsri, USK, USU, dan Unri
Sebanyak 16 FK telah menerapkan penempatan residen senior di berbagai daerah dengan total 200 residen untuk bidang spesialis prioritas. Dukungan juga datang dari 32 provinsi, 200 RS milik Pemda, serta 40 RS TNI/POLRI yang telah bergabung dalam sistem kemitraan ini.
Ketua MRPTNI sekaligus Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Eduart Wolok mendukung penuh peningkatan akses dan mutu Pendidikan tenaga medis tersebut.
“Patut kita syukuri, hari ini telah diluncurkan proses percepatan peningkatan jumlah pendidikan dokter spesialis melalui sistem kesehatan akademik,” ujar Eduart.
Sistem Kesehatan Akademik berperan sebagai suatu pendekatan dan model kemitraan strategis antara penyelenggara pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan wilayah. Inisiasi ini dimaksudkan untuk mewujudkan kemandirian daerah dalam pemenuhan tenaga medis dan tenaga kesehatan.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus berpihak pada kualitas, akses, relevansi, dan dampak. “Kita perlu menghasilkan dokter -dokter berkualitas dan memperkuat kontribusi riset bagi sistem layanan kesehatan nasional,” ujarnya, melalui siaran pers, Selasa (22/7/2025).
Baca juga: Krisis Dokter Segera Berakhir? Kemendikti Luncurkan Program Cetak Ribuan Spesialis
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti pentingnya pemerataan dokter spesialis, yang hingga kini distribusinya masih timpang, 59% lulusan tersentralisasi di Pulau Jawa. Untuk itu, pemerintah membentuk Satgas percepatan pemenuhan tenaga medis dan memperkuat kerja sama lintas sektor.
Satgas ini akan menjalankan program quick wins dengan tiga fokus utama:
Membuka prodi baru serta menambah kuota mahasiswa program dokter spesialis dan subspesialis melalui kemitraan perguruan tinggi.
Baca juga: Kemenkes Tutup 3 Prodi di Fakultas Kedokteran Buntut Laporan Perundungan dan Pelecehan Seksual
Menempatkan residen senior di rumah sakit pendidikan prioritas.
Memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait.
Kemendiktisaintek bekerja sama dengan AIPKI (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia) dan 350 rumah sakit untuk membuka 148 prodi baru. Targetnya, kuota mahasiswa dokter spesialis meningkat dua kali lipat menjadi 8.000 pada 2026, dan jumlah lulusan mencapai 6.000 per tahun pada 2030.
Jumlah Fakultas Kedokteran saat ini mencapai 144 institusi dengan kuota mahasiswa sekitar 18.000 per tahun. Dengan pertumbuhan jumlah FK dan kelulusan UKMPPD, pemerintah menargetkan mencetak 48.000 dokter tambahan sepanjang 2025–2030, guna menjawab kekurangan dokter nasional.
Baca juga: Biaya Kuliah Kedokteran di 5 PTN Pulau Sumatera Jalur Mandiri 2025: Unand, Unsri, USK, USU, dan Unri
Sebanyak 16 FK telah menerapkan penempatan residen senior di berbagai daerah dengan total 200 residen untuk bidang spesialis prioritas. Dukungan juga datang dari 32 provinsi, 200 RS milik Pemda, serta 40 RS TNI/POLRI yang telah bergabung dalam sistem kemitraan ini.
Ketua MRPTNI sekaligus Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Eduart Wolok mendukung penuh peningkatan akses dan mutu Pendidikan tenaga medis tersebut.
“Patut kita syukuri, hari ini telah diluncurkan proses percepatan peningkatan jumlah pendidikan dokter spesialis melalui sistem kesehatan akademik,” ujar Eduart.
Sistem Kesehatan Akademik berperan sebagai suatu pendekatan dan model kemitraan strategis antara penyelenggara pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan wilayah. Inisiasi ini dimaksudkan untuk mewujudkan kemandirian daerah dalam pemenuhan tenaga medis dan tenaga kesehatan.
(nnz)
Lihat Juga :