Kisah Dirga, Anak Tukang Bubur yang Tembus UGM Lewat Prestasi Tenis Nasional
Senin, 28 Juli 2025 - 21:30 WIB
loading...
Dirgantara Fath Sulthan Alif (19), berhasil masuk UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) bidang olahraga. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Dirgantara Fath Sulthan Alif (19), pemuda asal Purwokerto, berhasil masuk Program Studi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) bidang olahraga.
Perjalanannya menembus kampus ternama di Indonesia ini dibangun dari kerja keras, dedikasi, dan prestasi luar biasa di cabang olahraga tenis lapangan yang ia tekuni sejak usia 9 tahun.
“Sejak kelas 3 SD saya menyadari bahwa tenis bukan sekadar hobi, tapi potensi yang harus digali,” kata Dirga mengutip laman UGM, Senin (28/7/2025).
Baca juga: Dokter Tifa Ungkap Mulyono Bernama Asli Wakidi Calo Terminal Bis Tirtonadi Solo
Konsistensi dan disiplin membuat kemampuan Dirga berkembang pesat. Ia pertama kali mengikuti turnamen tingkat provinsi saat duduk di kelas 5 SD, dan sejak saat itu semakin yakin bahwa jalurnya ada di dunia tenis.
Namanya mulai dikenal secara nasional setelah meraih prestasi bergengsi, antara lain Juara 3 Nasional Amman Mineral Junior Tennis Championship 2019, Juara 2 POPDA Jawa Tengah 2023, Juara 1 POPDA Jawa Tengah 2024, dan Juara 2 Nasional Irawati Moerid Tennis Championship 2025.
Baca juga: Kisah Safira Nur Aini, Wisudawan Magister Termuda UGM yang Peduli Pertanian
Dirga tidak hanya unggul di lapangan, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan pendidikan formal dan kegiatan di luar kelas. “Saya percaya pentingnya pendidikan, tapi saya juga ingin berkembang secara personal dan sosial,” ujarnya.
Baca juga: Berapa Biaya Kuliah Fakultas Kehutanan UGM yang sedang Reuni ke-45 dan Dihadiri Jokowi?
“Pengalaman paling berkesan adalah saat kami berinteraksi dengan teman-teman dari SLB. Saya belajar pentingnya empati dan menghargai perbedaan,” kenangnya.
Ketertarikannya pada psikologi tumbuh dari pengalaman sebagai atlet yang harus mengelola mental saat bertanding. “Saya ingin memahami bagaimana emosi dan pikiran memengaruhi performa. Psikologi bukan sekadar teori, tapi tentang menyentuh hati dan membantu orang memahami dirinya,” jelasnya.
Dirga merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Epi Yandri (51), bekerja sebagai buruh jasa dan penjual bubur ayam, sementara ibunya, Kuswandari Tri Astuti (53), adalah ibu rumah tangga. Meski hidup dalam keterbatasan, semangat kedua orang tua Dirga dalam mendukung pendidikan anak-anaknya tak pernah surut. Sang ayah bahkan rela menjual Vespa kesayangannya demi biaya pendidikan.
Momen diterima di UGM menjadi kenangan yang mengharukan. Saat menjalani seleksi, kedua orang tuanya datang diam-diam memberikan dukungan langsung dari pinggir lapangan. “Saya kaget melihat Mama sudah ada di pinggir lapangan tanpa memberi kabar sebelumnya. Itu bentuk cinta yang tak banyak kata, tapi sangat terasa,” ungkapnya.
Kebanggaan orang tuanya pun tak bisa disembunyikan. Saat pengumuman kelulusan keluar, air mata haru pun mengalir. “Kami menangis bahagia. Semua perjuangan dan pengorbanan rasanya terbayar,” ujar Epi dengan penuh emosi.
Perjalanannya menembus kampus ternama di Indonesia ini dibangun dari kerja keras, dedikasi, dan prestasi luar biasa di cabang olahraga tenis lapangan yang ia tekuni sejak usia 9 tahun.
“Sejak kelas 3 SD saya menyadari bahwa tenis bukan sekadar hobi, tapi potensi yang harus digali,” kata Dirga mengutip laman UGM, Senin (28/7/2025).
Baca juga: Dokter Tifa Ungkap Mulyono Bernama Asli Wakidi Calo Terminal Bis Tirtonadi Solo
Konsistensi dan disiplin membuat kemampuan Dirga berkembang pesat. Ia pertama kali mengikuti turnamen tingkat provinsi saat duduk di kelas 5 SD, dan sejak saat itu semakin yakin bahwa jalurnya ada di dunia tenis.
Namanya mulai dikenal secara nasional setelah meraih prestasi bergengsi, antara lain Juara 3 Nasional Amman Mineral Junior Tennis Championship 2019, Juara 2 POPDA Jawa Tengah 2023, Juara 1 POPDA Jawa Tengah 2024, dan Juara 2 Nasional Irawati Moerid Tennis Championship 2025.
Baca juga: Kisah Safira Nur Aini, Wisudawan Magister Termuda UGM yang Peduli Pertanian
Dirga tidak hanya unggul di lapangan, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan pendidikan formal dan kegiatan di luar kelas. “Saya percaya pentingnya pendidikan, tapi saya juga ingin berkembang secara personal dan sosial,” ujarnya.
Aktif di Organisasi dan Isu Sosial
Selain berprestasi sebagai atlet, Dirga juga aktif di berbagai kegiatan sekolah, seperti OSIS, Paskibra, tim basket, hingga dipercaya menjadi brand ambassador pelajar selama enam bulan. Ia juga terlibat dalam Forum Anak Banyumas dan menjabat sebagai sekretaris, serta mengikuti program Banyumas Kids Takeover.Baca juga: Berapa Biaya Kuliah Fakultas Kehutanan UGM yang sedang Reuni ke-45 dan Dihadiri Jokowi?
“Pengalaman paling berkesan adalah saat kami berinteraksi dengan teman-teman dari SLB. Saya belajar pentingnya empati dan menghargai perbedaan,” kenangnya.
Ketertarikannya pada psikologi tumbuh dari pengalaman sebagai atlet yang harus mengelola mental saat bertanding. “Saya ingin memahami bagaimana emosi dan pikiran memengaruhi performa. Psikologi bukan sekadar teori, tapi tentang menyentuh hati dan membantu orang memahami dirinya,” jelasnya.
Didukung Keluarga Penuh Cinta
Dirga merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Epi Yandri (51), bekerja sebagai buruh jasa dan penjual bubur ayam, sementara ibunya, Kuswandari Tri Astuti (53), adalah ibu rumah tangga. Meski hidup dalam keterbatasan, semangat kedua orang tua Dirga dalam mendukung pendidikan anak-anaknya tak pernah surut. Sang ayah bahkan rela menjual Vespa kesayangannya demi biaya pendidikan.
Momen diterima di UGM menjadi kenangan yang mengharukan. Saat menjalani seleksi, kedua orang tuanya datang diam-diam memberikan dukungan langsung dari pinggir lapangan. “Saya kaget melihat Mama sudah ada di pinggir lapangan tanpa memberi kabar sebelumnya. Itu bentuk cinta yang tak banyak kata, tapi sangat terasa,” ungkapnya.
Kebanggaan orang tuanya pun tak bisa disembunyikan. Saat pengumuman kelulusan keluar, air mata haru pun mengalir. “Kami menangis bahagia. Semua perjuangan dan pengorbanan rasanya terbayar,” ujar Epi dengan penuh emosi.
(nnz)
Lihat Juga :