Kuliah S1 sampai S3 Gratis di UGM, Ini Kisah Sukses Apia Dewi
Rabu, 30 Juli 2025 - 19:06 WIB
loading...
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Apia Dewi Agustin. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Apia Dewi Agustin, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), yang berhasil menempuh pendidikan dari jenjang Sarjana (S1) hingga Doktor (S3) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) t anpa mengeluarkan biaya sedikit pun.
Apia baru saja menyelesaikan studi Magister Sains Akuntansi di FEB UGM dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96, hanya dalam waktu 1 tahun 4 bulan 29 hari.
Yang menarik, saat menyelesaikan program magister, Apia juga telah tercatat sebagai mahasiswa semester pertama Program Doktor Ilmu Akuntansi FEB UGM.
Baca juga: Anak Penjual Soto Lolos FEB UGM dan Kuliah Gratis, Ini Kisah Anyndha yang Menginspirasi
Perjalanan akademiknya didukung oleh sejumlah beasiswa seperti Bidikmisi, Kafegama, dan Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
"Di sini, saya belajar dan bertumbuh dengan nilai, bukan sekadar nilai akademik,” katanya mengenai kesan menempuh Pendidikan di UGM, mengutip laman UGM, Rabu (30/7/2025).
Apia lulus cumlaude dari Program S1 Akuntansi UGM pada 2022, lalu sempat bekerja sebagai project management analyst di perusahaan multinasional. Namun, tekadnya untuk terus belajar dan menjadi akademisi mendorongnya melanjutkan studi pascasarjana melalui jalur beasiswa PMDSU pada 2023.
Baca juga: Lolos Kedokteran UGM, Anak Buruh Sawit dari Merauke Wujudkan Mimpi sejak Kelas 5 SD
Di balik kisah sukses ini, Apia menyimpan perjalanan penuh tantangan. Lahir dari keluarga sederhana di daerah terpencil, sang ayah yang seorang petani tak pernah menempuh pendidikan formal dan meninggal saat Apia duduk di semester lima. Ibunya hanya lulusan sekolah dasar dan mengelola warung kelontong. Meski begitu, kedua orang tuanya selalu menanamkan pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah nasib.
Perjuangan menempuh pendidikan tidaklah ringan, terutama saat mengikuti program percepatan dari Magister ke Doktor dalam waktu maksimal 4 tahun. Ia mengakui bahwa manajemen waktu dan pengendalian emosi menjadi tantangan besar. Beruntung, ia mendapat dukungan luar biasa dari lingkungan FEB UGM, mulai dari dosen pembimbing, promotor, staf, hingga rekan mahasiswa.
Baca juga: Kisah Dirga, Anak Tukang Bubur yang Tembus UGM Lewat Prestasi Tenis Nasional
Apia secara khusus mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Prof. Mahfud Sholihin, Ph.D, promotor yang sabar dan konsisten membimbingnya. "Komunikasi dan kolaborasi yang kuat dengan promotor adalah kunci. Prof. Mahfud menjadi teladan saya dalam dunia akademik," ujarnya.
Tak hanya fokus belajar, Apia aktif mengikuti konferensi internasional, meraih penghargaan sebagai best paper dan best presenter, serta menjadi asisten riset di Pusat Kajian Akuntabilitas dan Governansi (PAKAR) FEB UGM dan pengajar kelas S1.
Baca juga: Kisah Haru Soraya, Anak Penjual Kelontong yang Lolos Kuliah Gratis di UGM
Tesis magisternya membahas pengungkapan iklim (climate-related disclosure) oleh perusahaan di Asia Pasifik, menyoroti peran kinerja keuangan, lingkungan, serta budaya masyarakat dalam mendorong keterbukaan informasi iklim. Hasil risetnya kini telah dikembangkan menjadi buku dan berhasil memperoleh hibah Penelitian Kompetitif Unggulan FEB UGM bersama dosen pembimbing dan penguji tesisnya.
Apia menegaskan bahwa nilai-nilai integritas, objektivitas, dan kesetaraan yang ia pelajari di FEB UGM sangat membantunya, bukan hanya dalam studi tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. “Integritas bukan sekadar kejujuran, tapi juga komitmen dan keberanian. Di FEB, saya merasa diterima tanpa memandang latar belakang,” ungkapnya.
Kini, Apia tengah menjalani semester ketiga di Program Doktor FEB UGM. Bagi Apia, tantangan pasti akan terus ada, namun semangat dan keyakinan menjadi bahan bakar utama untuk terus melangkah. “Jangan takut bermimpi besar. Meski penuh keterbatasan, dengan doa dan usaha sungguh-sungguh, jalan akan terbuka. Teruslah berbuat baik,” tutupnya.
Apia baru saja menyelesaikan studi Magister Sains Akuntansi di FEB UGM dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96, hanya dalam waktu 1 tahun 4 bulan 29 hari.
Yang menarik, saat menyelesaikan program magister, Apia juga telah tercatat sebagai mahasiswa semester pertama Program Doktor Ilmu Akuntansi FEB UGM.
Baca juga: Anak Penjual Soto Lolos FEB UGM dan Kuliah Gratis, Ini Kisah Anyndha yang Menginspirasi
Perjalanan akademiknya didukung oleh sejumlah beasiswa seperti Bidikmisi, Kafegama, dan Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
"Di sini, saya belajar dan bertumbuh dengan nilai, bukan sekadar nilai akademik,” katanya mengenai kesan menempuh Pendidikan di UGM, mengutip laman UGM, Rabu (30/7/2025).
Apia lulus cumlaude dari Program S1 Akuntansi UGM pada 2022, lalu sempat bekerja sebagai project management analyst di perusahaan multinasional. Namun, tekadnya untuk terus belajar dan menjadi akademisi mendorongnya melanjutkan studi pascasarjana melalui jalur beasiswa PMDSU pada 2023.
Baca juga: Lolos Kedokteran UGM, Anak Buruh Sawit dari Merauke Wujudkan Mimpi sejak Kelas 5 SD
Di balik kisah sukses ini, Apia menyimpan perjalanan penuh tantangan. Lahir dari keluarga sederhana di daerah terpencil, sang ayah yang seorang petani tak pernah menempuh pendidikan formal dan meninggal saat Apia duduk di semester lima. Ibunya hanya lulusan sekolah dasar dan mengelola warung kelontong. Meski begitu, kedua orang tuanya selalu menanamkan pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah nasib.
Perjuangan menempuh pendidikan tidaklah ringan, terutama saat mengikuti program percepatan dari Magister ke Doktor dalam waktu maksimal 4 tahun. Ia mengakui bahwa manajemen waktu dan pengendalian emosi menjadi tantangan besar. Beruntung, ia mendapat dukungan luar biasa dari lingkungan FEB UGM, mulai dari dosen pembimbing, promotor, staf, hingga rekan mahasiswa.
Baca juga: Kisah Dirga, Anak Tukang Bubur yang Tembus UGM Lewat Prestasi Tenis Nasional
Apia secara khusus mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Prof. Mahfud Sholihin, Ph.D, promotor yang sabar dan konsisten membimbingnya. "Komunikasi dan kolaborasi yang kuat dengan promotor adalah kunci. Prof. Mahfud menjadi teladan saya dalam dunia akademik," ujarnya.
Tak hanya fokus belajar, Apia aktif mengikuti konferensi internasional, meraih penghargaan sebagai best paper dan best presenter, serta menjadi asisten riset di Pusat Kajian Akuntabilitas dan Governansi (PAKAR) FEB UGM dan pengajar kelas S1.
Baca juga: Kisah Haru Soraya, Anak Penjual Kelontong yang Lolos Kuliah Gratis di UGM
Tesis magisternya membahas pengungkapan iklim (climate-related disclosure) oleh perusahaan di Asia Pasifik, menyoroti peran kinerja keuangan, lingkungan, serta budaya masyarakat dalam mendorong keterbukaan informasi iklim. Hasil risetnya kini telah dikembangkan menjadi buku dan berhasil memperoleh hibah Penelitian Kompetitif Unggulan FEB UGM bersama dosen pembimbing dan penguji tesisnya.
Apia menegaskan bahwa nilai-nilai integritas, objektivitas, dan kesetaraan yang ia pelajari di FEB UGM sangat membantunya, bukan hanya dalam studi tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. “Integritas bukan sekadar kejujuran, tapi juga komitmen dan keberanian. Di FEB, saya merasa diterima tanpa memandang latar belakang,” ungkapnya.
Kini, Apia tengah menjalani semester ketiga di Program Doktor FEB UGM. Bagi Apia, tantangan pasti akan terus ada, namun semangat dan keyakinan menjadi bahan bakar utama untuk terus melangkah. “Jangan takut bermimpi besar. Meski penuh keterbatasan, dengan doa dan usaha sungguh-sungguh, jalan akan terbuka. Teruslah berbuat baik,” tutupnya.
(nnz)
Lihat Juga :