Ikan Cupang, Bisnis Rumahan Anti-Gagal yang Tahan Krisis Menurut Dosen IPB

Jum'at, 01 Agustus 2025 - 07:00 WIB
loading...
Ikan Cupang, Bisnis...
Di tengah semakin sulitnya lapangan pekerjaan, budi daya ikan hias dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Foto/Shutterstock.
A A A
JAKARTA - Di tengah semakin sulitnya lapangan pekerjaan, budi daya ikan hias dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Salah satu jenis ikan hias yang patut, terutama bagi yang baru ingin mencoba, adalah ikan cupang .

Menurut Irzal Effendi, dosen Departemen Budidaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University , ikan hias yang dapat dibudidayakan oleh pemula dengan modal kecil dan dapat dipasarkan secara lokal adalah ikan cupang.

“Ikan cupang merupakan pilihan paling tepat bagi pemula karena memerlukan modal kecil dan mudah dipelihara,” jelasnya.

Baca juga: 7 Jenis Ikan Cupang Paling Mahal di Dunia

Irzal menjelaskan bahwa ikan cupang memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi kualitas air. Oleh karena itu, ikan ini bisa dibudidayakan dalam wadah kecil seperti toples, secara individual.

Di beberapa kawasan sentra produksi ikan hias di Kabupaten Bogor, ikan hias diusahakan dalam kantong plastik 1/2 kg yang digantung berjejer 3-5 tingkat di dinding samping rumah, sehingga menjadi sumber pendapatan keluarga.

Usaha budidaya ikan hias ini bisa dilakukan di kawasan perkotaan (urban aquaculture atau urban farming) yang lahan dan airnya terbatas.

Baca juga: Bagaimana Cara Ikan Cupang Kawin? Jawabannya Ada di Sini

Untuk memudahkan pemasaran, ia menyarankan agar pembudi daya memilih jenis ikan cupang dengan bentuk sirip serta warna tubuh yang menarik atau memiliki kombinasi warna yang unik.

“Dari segi pakan, ikan ini juga mudah dipelihara karena dapat diberi cacing merah, cacing sutra, jentik nyamuk, serta pakan buatan yang semuanya mudah diperoleh di lapangan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Irzal menekankan bahwa usaha budi daya ikan hias terbukti mampu meningkatkan perekonomian, baik di tingkat lokal maupun nasional.

“Usaha budi daya ikan hias terbukti tahan terhadap guncangan perekonomian nasional dan global. Pada masa krisis moneter dan pandemi COVID-19, terbukti usaha ini relatif mampu bertahan,” ungkapnya.

Pada masa-masa sulit tersebut, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pembatasan mobilitas yang menyebabkan meningkatnya stres masyarakat. Salah satu bentuk pelarian psikologis masyarakat adalah dengan memelihara ikan hias di rumah.

“Hal ini menyebabkan permintaan ikan hias tetap tinggi. Perekonomian lokal tetap bergairah dan berdampak positif terhadap perekonomian nasional,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa sektor perikanan belum sepenuhnya mampu menyejahterakan pembudi daya ikan hias secara merata. Irzal mendorong pembudi daya untuk berhimpun dalam kelompok usaha seperti kelompok pembudi daya ikan (Pokdakan), kelompok usaha bersama (KUB), atau koperasi.

“Ini supaya pembudi daya memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi pembeli maupun pemasok sarana produksi dalam agribisnis atau rantai pasok ikan hias,” sebutnya.

Sebagai masukan kepada pemerintah pusat maupun daerah, Irzal menekankan pentingnya strategi untuk mendukung peningkatan ekonomi melalui sektor perikanan.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya fasilitasi pendanaan murah dari lembaga keuangan, pendampingan teknis dan manajerial, serta dukungan pemasaran produk ke pasar domestik, antarpulau, maupun internasional.

Salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan adalah melalui promosi dalam bentuk kontes ikan hias, festival, dan bazar di dalam maupun luar negeri.

“Pemerintah juga perlu mendorong pembentukan serta kemandirian kelembagaan usaha budi daya ikan hias seperti pokdakan, KUB, atau koperasi, dan melindungi pembudi daya dari regulasi yang tidak afirmatif bahkan merugikan,” pungkasnya.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengapa Kunang-Kunang...
Mengapa Kunang-Kunang Semakin Sulit Ditemukan? Pakar IPB Ungkap Penyebabnya
Bukan Hanya Umur, Pakar...
Bukan Hanya Umur, Pakar IPB Sebut 6 Aspek Kesiapan Anak Sebelum Masuk SD
IPB University dan Pesantren...
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
SNI Bukan Sekadar Regulasi,...
SNI Bukan Sekadar Regulasi, Mahasiswa IPB Diajak Memahami Budaya Mutu di Industri Pangan
Distribusi MBG Dinilai...
Distribusi MBG Dinilai Bermasalah, Pakar IPB Tawarkan Solusi Berbasis KIP dan KIS
Bukan Pelangi Biasa,...
Bukan Pelangi Biasa, Ini Fakta Awan Warna-Warni di Jonggol Menurut Ahli IPB
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
Mitos atau Fakta Golongan...
Mitos atau Fakta Golongan Darah O Rentan Kolesterol Tinggi? Ini Penjelasan Pakar IPB
Dirut Perkebunan Nusantara...
Dirut Perkebunan Nusantara III Dorong Pemuda Jadi Motor Transformasi Perkebunan
Rekomendasi
Replik, Kubu Roy Suryo...
Replik, Kubu Roy Suryo Tetap Minta Hakim Nyatakan Penangkapannya Tidak Sah
Norwegia Lolos ke 16...
Norwegia Lolos ke 16 Besar usai Singkirkan Pantai Gading 2-1
Hakim: Kerugian Negara...
Hakim: Kerugian Negara Akibat Kasus Chromebook Nadiem Rp1,5 Triliun
Berita Terkini
Guru Bisa Dapat Bantuan...
Guru Bisa Dapat Bantuan Pendidikan S1/D4, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Beasiswa LPDP Tahap...
Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Dibuka Hari Ini, Intip Perubahan Kebijakannya
Cara Mudah Cek Kelulusan...
Cara Mudah Cek Kelulusan UM PTKIN 2026 yang Diumumkan Sore Ini
Cerita Leni, Anak Buruh...
Cerita Leni, Anak Buruh Tani yang Lolos Akuntansi UGM Lewat SNBP dan Kuliah Gratis
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Diumumkan Besok, Ini...
Diumumkan Besok, Ini Link Resmi Hasil Seleksi SMMPTN-Barat 2026
Infografis
Fenomena Ikan yang Hidup...
Fenomena Ikan yang Hidup di Laut Dalam Bermunculan ke Permukaan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved