Cerita Eifie, Atlet Disabilitas yang Sukses Tembus UGM lewat Jalur PBUTM 2025
Senin, 04 Agustus 2025 - 08:45 WIB
loading...
Eifie Julian Hikmah, atlet disabilitas berhasil diterima di UGM jurusan Akuntansi. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Eifie Julian Hikmah (19), remaja asal Jamsaren, Kediri, Jawa Timur, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi besar.
Terlahir dengan satu tangan dan berasal dari keluarga sederhana, putri pasangan Mochamad Farid (alm.) dan Eny Nawangsih ini resmi diterima sebagai mahasiswa Akuntansi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ( UGM ) melalui jalur PBUTM 2025.
Baca juga: 9 Alumni UGM Jadi Menteri dan Wamen Era Prabowo, Nomor 4 dari Fakultas Kehutanan
Namanya yang indah, “Julian Hikmah,” adalah doa penuh makna: hikmah yang lahir di bulan Juli. Sejak kecil, Eifie tumbuh sebagai anak ceria dan cerdas, meskipun tak jarang mendapat perlakuan tak menyenangkan karena disabilitas daksa pada tangan kanannya.
“Tangannya putul, tangannya putul,” kenang ibunya, Eny, mengingat teriakan polos anak-anak di sekitar rumah, melansir laman UGM, Senin (4/8/2025). Tak jarang Eifie menitikkan air mata, meski terlihat percaya diri.
Meski sempat dihadapkan pada dilema antara menyekolahkan Eifie di SLB atau SD umum, sang ibu mantap memilih sekolah inklusif. Hasilnya luar biasa—Eifie langganan juara kelas dari kelas 1 hingga 6 SD. Kepercayaan dirinya tumbuh seiring prestasi akademik yang ia raih.
Baca juga: Kisah Devita, Anak Sopir Truk yang Lolos UGM dengan Subsidi UKT Penuh
“Dengan keadaan seperti ini, aku masih bisa beraktivitas, berprestasi, dan belajar. Jadi buat apa dengerin omongan orang?” katanya tegas.
Kisah inspiratif Eifie tak berhenti di prestasi akademik. Dunia atletik mulai ia tekuni sejak bertemu Pak Karmani, pelatih sekaligus penjual es krim keliling yang jeli melihat potensi. Awalnya hanya ikut-ikutan, Eifie kemudian serius berlatih. Meski hanya bermodalkan sepatu sekolah, ia tak gentar ikut lomba. Untuk membeli sepatu paku pertamanya, orang tua Eifie harus mengumpulkan uang seadanya—momen haru yang tak pernah ia lupakan.
Baca juga: Pendidikan Sugiono, 'Anak Ideologis Prabowo' Menlu dan Juga Sekjen Gerindra
Usahanya membuahkan hasil. Di kejuaraan pertamanya, ia langsung meraih juara dua nomor lari 200 meter dalam Walikota Cup Surabaya. Sejak itu, Eifie terus konsisten di lintasan: 100 meter, 200 meter, lompat jauh, hingga tolak peluru.
Namun, tak semua berjalan mulus. Ia pernah gugup hingga kehilangan fokus saat lomba. Bahkan, selisih 0,0 detik sempat menggagalkannya meraih medali. Pukulan paling berat datang saat ayahnya meninggal, sebulan sebelum Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2024. Meski belum pulih secara mental, ia tetap berlaga dan menyumbang perunggu di nomor 400 meter. Ia juga pernah meraih emas lompat jauh dalam ajang Paralimpiade Pelajar Nasional 2023 di Palembang.
Sejak SMP, Eifie bercita-cita kuliah. Keinginan itu makin kuat setelah mendengar cerita ayahnya yang gagal melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Impian tersebut makin bulat saat ia menonton video kegiatan PPSMB Palapa UGM di media sosial. “Aku langsung bilang mau kuliah di UGM, pakai almamater karung goni, dan nyanyi lagu PPSMB,” tuturnya.
Namun, perjuangan masuk UGM tak mudah. Ia sempat gagal di SNBT dan UM UGM CBT. Ketika pengumuman PBU tiba, Eifie bahkan tak berani membuka hasilnya. “Aku minta maaf dulu ke Ibu kalau gagal lagi,” katanya.
Namun kali ini, semesta berpihak. Eifie resmi diterima di Program Studi Akuntansi, FEB UGM. Tangis haru pun pecah di pelukan sang ibu. “Langsung peluk Ibu. Nangis banget,” ucapnya.
Ketertarikannya pada akuntansi tumbuh sejak SMA, berkat guru yang inspiratif dan cara belajar yang menyenangkan. Ia berharap bisa menjadi akuntan atau auditor profesional, sembari tetap mengejar mimpi menjadi atlet nasional bahkan internasional.
Kini, Eifie bersyukur bisa kuliah di UGM dengan bantuan subsidi UKT 100%. Ia bertekad memanfaatkan masa kuliahnya sebaik mungkin: aktif organisasi, ikut lomba, hingga program magang. Meski sibuk sebagai mahasiswa, ia tetap menjalani latihan tiga kali seminggu untuk menjaga performa atletik. “Aku mau mecahin rekor pribadi dan ngalahin lawan-lawan yang selama ini susah dikalahkan,” ujarnya penuh semangat.
Bagi Eifie, pendidikan adalah kunci untuk membentuk prinsip hidup dan keteguhan dalam mengambil keputusan. Ia menutup kisahnya dengan pesan menyentuh untuk anak muda lainnya:
“Nggak usah dengerin omongan orang yang menjatuhkan. Semua punya waktunya masing-masing.”
Terlahir dengan satu tangan dan berasal dari keluarga sederhana, putri pasangan Mochamad Farid (alm.) dan Eny Nawangsih ini resmi diterima sebagai mahasiswa Akuntansi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ( UGM ) melalui jalur PBUTM 2025.
Baca juga: 9 Alumni UGM Jadi Menteri dan Wamen Era Prabowo, Nomor 4 dari Fakultas Kehutanan
Namanya yang indah, “Julian Hikmah,” adalah doa penuh makna: hikmah yang lahir di bulan Juli. Sejak kecil, Eifie tumbuh sebagai anak ceria dan cerdas, meskipun tak jarang mendapat perlakuan tak menyenangkan karena disabilitas daksa pada tangan kanannya.
“Tangannya putul, tangannya putul,” kenang ibunya, Eny, mengingat teriakan polos anak-anak di sekitar rumah, melansir laman UGM, Senin (4/8/2025). Tak jarang Eifie menitikkan air mata, meski terlihat percaya diri.
Meski sempat dihadapkan pada dilema antara menyekolahkan Eifie di SLB atau SD umum, sang ibu mantap memilih sekolah inklusif. Hasilnya luar biasa—Eifie langganan juara kelas dari kelas 1 hingga 6 SD. Kepercayaan dirinya tumbuh seiring prestasi akademik yang ia raih.
Baca juga: Kisah Devita, Anak Sopir Truk yang Lolos UGM dengan Subsidi UKT Penuh
“Dengan keadaan seperti ini, aku masih bisa beraktivitas, berprestasi, dan belajar. Jadi buat apa dengerin omongan orang?” katanya tegas.
Awal Perjalanan di Dunia Atletik
Kisah inspiratif Eifie tak berhenti di prestasi akademik. Dunia atletik mulai ia tekuni sejak bertemu Pak Karmani, pelatih sekaligus penjual es krim keliling yang jeli melihat potensi. Awalnya hanya ikut-ikutan, Eifie kemudian serius berlatih. Meski hanya bermodalkan sepatu sekolah, ia tak gentar ikut lomba. Untuk membeli sepatu paku pertamanya, orang tua Eifie harus mengumpulkan uang seadanya—momen haru yang tak pernah ia lupakan.
Baca juga: Pendidikan Sugiono, 'Anak Ideologis Prabowo' Menlu dan Juga Sekjen Gerindra
Usahanya membuahkan hasil. Di kejuaraan pertamanya, ia langsung meraih juara dua nomor lari 200 meter dalam Walikota Cup Surabaya. Sejak itu, Eifie terus konsisten di lintasan: 100 meter, 200 meter, lompat jauh, hingga tolak peluru.
Namun, tak semua berjalan mulus. Ia pernah gugup hingga kehilangan fokus saat lomba. Bahkan, selisih 0,0 detik sempat menggagalkannya meraih medali. Pukulan paling berat datang saat ayahnya meninggal, sebulan sebelum Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2024. Meski belum pulih secara mental, ia tetap berlaga dan menyumbang perunggu di nomor 400 meter. Ia juga pernah meraih emas lompat jauh dalam ajang Paralimpiade Pelajar Nasional 2023 di Palembang.
Menggapai Mimpi Kuliah di UGM
Sejak SMP, Eifie bercita-cita kuliah. Keinginan itu makin kuat setelah mendengar cerita ayahnya yang gagal melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Impian tersebut makin bulat saat ia menonton video kegiatan PPSMB Palapa UGM di media sosial. “Aku langsung bilang mau kuliah di UGM, pakai almamater karung goni, dan nyanyi lagu PPSMB,” tuturnya.
Namun, perjuangan masuk UGM tak mudah. Ia sempat gagal di SNBT dan UM UGM CBT. Ketika pengumuman PBU tiba, Eifie bahkan tak berani membuka hasilnya. “Aku minta maaf dulu ke Ibu kalau gagal lagi,” katanya.
Namun kali ini, semesta berpihak. Eifie resmi diterima di Program Studi Akuntansi, FEB UGM. Tangis haru pun pecah di pelukan sang ibu. “Langsung peluk Ibu. Nangis banget,” ucapnya.
Ketertarikannya pada akuntansi tumbuh sejak SMA, berkat guru yang inspiratif dan cara belajar yang menyenangkan. Ia berharap bisa menjadi akuntan atau auditor profesional, sembari tetap mengejar mimpi menjadi atlet nasional bahkan internasional.
Tekad Kuat dan Pesan untuk Generasi Muda
Kini, Eifie bersyukur bisa kuliah di UGM dengan bantuan subsidi UKT 100%. Ia bertekad memanfaatkan masa kuliahnya sebaik mungkin: aktif organisasi, ikut lomba, hingga program magang. Meski sibuk sebagai mahasiswa, ia tetap menjalani latihan tiga kali seminggu untuk menjaga performa atletik. “Aku mau mecahin rekor pribadi dan ngalahin lawan-lawan yang selama ini susah dikalahkan,” ujarnya penuh semangat.
Bagi Eifie, pendidikan adalah kunci untuk membentuk prinsip hidup dan keteguhan dalam mengambil keputusan. Ia menutup kisahnya dengan pesan menyentuh untuk anak muda lainnya:
“Nggak usah dengerin omongan orang yang menjatuhkan. Semua punya waktunya masing-masing.”
(nnz)
Lihat Juga :