KSTI 2025 Hadirkan Ilmuwan Fisika Peraih Nobel, Indonesia Mantapkan Arah Riset
Kamis, 07 Agustus 2025 - 18:16 WIB
loading...
Prof. Konstantin Novoselov, fisikawan Rusia–Inggris dan penerima Nobel Fisika 2010 menjadi salah satu pembicara di KSTI 2025. Foto/Diktisaintek.
A
A
A
BANDUNG - Dua peraih Nobel Fisika dunia, Prof. Konstantin Novoselov dan Prof. Brian Schmidt, hadir sebagai pembicara utama dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ( Kemendiktisaintek ) pada 7–9 Agustus 2025 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kehadiran para ilmuwan kelas dunia ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045 melalui pengembangan riset, inovasi, dan industri nasional berbasis sains dan teknologi.
Baca juga: Momen Presiden Prabowo Sapa Menteri Sambil Sebut Almamater Kampus Mereka di KSTI 2025
KSTI 2025 mengusung tema besar “Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi”. Konvensi ini tidak hanya mempertemukan para peneliti, akademisi, dan pelaku industri, tetapi juga menjadi momen strategis dalam menyusun peta jalan riset dan inovasi nasional, khususnya pada delapan sektor strategis: energi; pertahanan; digitalisasi (termasuk AI dan semikonduktor); hilirisasi dan industrialisasi; kesehatan; pangan; maritim; serta material dan manufaktur maju.
“KSTI 2025 merupakan ruang strategis untuk mempertemukan kekuatan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, daya cipta industri, dan ketegasan arah kebijakan negara. Hal ini adalah wujud tekad kita bersama, menjadikan sains dan teknologi sebagai salah satu senjata perjuangan bangsa,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.
Baca juga: Lebih dari Seribu Peneliti Unggul Hadiri Konvensi Sains Teknologi KSTI 2025
2 ilmuwan peraih nobel itu yakni Prof. Konstantin Novoselov, fisikawan Rusia–Inggris dan penerima Nobel Fisika 2010 atas penemuan graphene, hadir membagikan perspektif tentang revolusi material 2D.
Penelitiannya telah membuka jalan baru dalam pengembangan teknologi elektronika dan energi masa depan. Ia saat ini menjabat di National University of Singapore dan University of Manchester.
Sementara itu, Prof. Brian Schmidt, peraih Nobel Fisika 2011, dikenal luas lewat temuan percepatan ekspansi alam semesta. Rektor Australian National University ini merupakan pemimpin tim High-Z Supernova Search Team yang menjadi pionir dalam pengembangan astrofisika modern.
Selain dua peraih Nobel tersebut, KSTI 2025 juga menghadirkan Prof. Chennupati Jagadish, ilmuwan fisika dan nanoteknologi dari ANU serta Presiden Australian Academy of Science, yang fokus pada pengembangan semikonduktor, fotonik, dan sensor.
Turut hadir pula Prof. Lam Khin Yong, ilmuwan terkemuka dan Vice President (Industry) di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, yang dikenal lewat kontribusinya dalam kolaborasi riset industri-akademik. Ia merupakan penerima President’s Science and Technology Medal dan Legion of Honour dari Pemerintah Prancis.
KSTI 2025 menjadi tonggak dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam penguasaan teknologi, kemandirian industri nasional, dan pembangunan manusia unggul.
“Penguasaan sains dan teknologi harus maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Para peneliti dan akademisi memiliki tugas mulia dalam memajukan industri dan menghasilkan SDM unggul,” tegas Menteri Brian.
Dengan menjadikan riset dan inovasi sebagai tulang punggung pembangunan, pemerintah menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi, melainkan pencipta dan pemimpin dalam lanskap industri global.
Kehadiran para ilmuwan kelas dunia ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045 melalui pengembangan riset, inovasi, dan industri nasional berbasis sains dan teknologi.
Baca juga: Momen Presiden Prabowo Sapa Menteri Sambil Sebut Almamater Kampus Mereka di KSTI 2025
KSTI 2025 mengusung tema besar “Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi”. Konvensi ini tidak hanya mempertemukan para peneliti, akademisi, dan pelaku industri, tetapi juga menjadi momen strategis dalam menyusun peta jalan riset dan inovasi nasional, khususnya pada delapan sektor strategis: energi; pertahanan; digitalisasi (termasuk AI dan semikonduktor); hilirisasi dan industrialisasi; kesehatan; pangan; maritim; serta material dan manufaktur maju.
“KSTI 2025 merupakan ruang strategis untuk mempertemukan kekuatan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, daya cipta industri, dan ketegasan arah kebijakan negara. Hal ini adalah wujud tekad kita bersama, menjadikan sains dan teknologi sebagai salah satu senjata perjuangan bangsa,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.
Baca juga: Lebih dari Seribu Peneliti Unggul Hadiri Konvensi Sains Teknologi KSTI 2025
2 ilmuwan peraih nobel itu yakni Prof. Konstantin Novoselov, fisikawan Rusia–Inggris dan penerima Nobel Fisika 2010 atas penemuan graphene, hadir membagikan perspektif tentang revolusi material 2D.
Penelitiannya telah membuka jalan baru dalam pengembangan teknologi elektronika dan energi masa depan. Ia saat ini menjabat di National University of Singapore dan University of Manchester.
Sementara itu, Prof. Brian Schmidt, peraih Nobel Fisika 2011, dikenal luas lewat temuan percepatan ekspansi alam semesta. Rektor Australian National University ini merupakan pemimpin tim High-Z Supernova Search Team yang menjadi pionir dalam pengembangan astrofisika modern.
Selain dua peraih Nobel tersebut, KSTI 2025 juga menghadirkan Prof. Chennupati Jagadish, ilmuwan fisika dan nanoteknologi dari ANU serta Presiden Australian Academy of Science, yang fokus pada pengembangan semikonduktor, fotonik, dan sensor.
Turut hadir pula Prof. Lam Khin Yong, ilmuwan terkemuka dan Vice President (Industry) di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, yang dikenal lewat kontribusinya dalam kolaborasi riset industri-akademik. Ia merupakan penerima President’s Science and Technology Medal dan Legion of Honour dari Pemerintah Prancis.
KSTI 2025 menjadi tonggak dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam penguasaan teknologi, kemandirian industri nasional, dan pembangunan manusia unggul.
“Penguasaan sains dan teknologi harus maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Para peneliti dan akademisi memiliki tugas mulia dalam memajukan industri dan menghasilkan SDM unggul,” tegas Menteri Brian.
Dengan menjadikan riset dan inovasi sebagai tulang punggung pembangunan, pemerintah menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi, melainkan pencipta dan pemimpin dalam lanskap industri global.
(nnz)
Lihat Juga :