Saat Isu Brainrot Menggema, Para Jenius Gen Z Ini Tawarkan Solusi Cerdas untuk Masalah Bangsa
Selasa, 26 Agustus 2025 - 23:27 WIB
loading...
Gen Z ternyata menyimpan kepedulian mendalam dan gagasan brilian yang mereka tuangkan lewat essay. Foto: Djarum Foundation
A
A
A
BALI - Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang fenomena brainrot atau "pembusukan otak" dan cap generasi penggerutu yang seringkali dilekatkan pada Gen Z, sekelompok mahasiswa-mahasiswi dari seluruh penjuru Indonesia justru datang membawa obor solusi.
Dalam panggung intelektual yang digelar di Bali, mereka tidak hanya bersuara, tetapi juga membedah luka-luka sunyi bangsa dan menawarkan resep penyembuhnya.
Ini adalah panggung final nasional Essay Contest Beswan Djarum 2024/2025, ajang yang secara telak mematahkan stereotip dan membuktikan bahwa di balik layar gawai mereka, Gen Z menyimpan kepedulian mendalam dan gagasan brilian.
“Kesehatan mental pada ibu, saat ini masih jadi hal tabu. Di balik ketangguhan ibu, ada sisi rentan. Setiap ibu itu layak disembuhkan, tidak hanya dipuji ketangguhannya,” ujar Utin dalam presentasinya.
Namun, Utin tidak berhenti pada empati. Ia datang dengan sebuah solusi konkret: Motherhood Care Intervention (MCI), sebuah layanan terintegrasi dengan Posyandu dan Puskesmas yang melibatkan psikolog, dengan pendekatan 5A (Ask, Assess, Advice, Assist, Arrange) untuk mendampingi para ibu secara praktis dan psikologis.
Sementara itu, sang juara ketiga, Putri Malahayati dari Universitas Sriwijaya, Palembang, dengan berani membongkar "borok" di dunia pendidikan kedokteran: perundungan terhadap dokter residen.
Untuk memutus rantai kekerasan senioritas ini, Putri mengusulkan adopsi konsep AWARE (Altering Workplace Attitudes for Resident Education) yang bahkan sudah mulai ia terapkan di level organisasi mahasiswa kedokteran.
Melihat ketajaman analisis para finalis, Maman Suherman, penulis dan pegiat literasi yang menjadi juri, memberikan penegasan kuat.
“Ini bukti bahwa Gen Z bukan generasi penggerutu, tetapi Gen Z yang ada di sini (Beswan Djarum) adalah bukti jika mereka semua adalah sekumpulan orang-orang yang bermutu. Mereka lebih kritis, terbuka dan memiliki ide-ide serta terobosan baru,” ujar Kang Maman, sapaan akrabnya.
Felicia Hanitio, Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, menambahkan bahwa kompetisi ini dirancang untuk menempa para pemimpin masa depan.
“Melalui Essay Contest, para Beswan dilatih untuk mengasah welas asih, berpikir kritis, dan keberanian menawarkan solusi. Keterampilan kepemimpinan yang semakin penting di tengah dunia yang tak pasti,”jelasFelicia.
Dalam panggung intelektual yang digelar di Bali, mereka tidak hanya bersuara, tetapi juga membedah luka-luka sunyi bangsa dan menawarkan resep penyembuhnya.
Ini adalah panggung final nasional Essay Contest Beswan Djarum 2024/2025, ajang yang secara telak mematahkan stereotip dan membuktikan bahwa di balik layar gawai mereka, Gen Z menyimpan kepedulian mendalam dan gagasan brilian.
Menyembuhkan Luka Sunyi Para Ibu
Salah satu suara paling lantang datang dari sang juara pertama, Utin Richa Rinjani, mahasiswi Universitas Tanjungpura, Pontianak. Ia tidak memilih isu populer, melainkan mengangkat sebuah "luka" yang seringkali tak terlihat dan tabu untuk dibicarakan: kesehatan mental ibu pasca-melahirkan (baby blues).“Kesehatan mental pada ibu, saat ini masih jadi hal tabu. Di balik ketangguhan ibu, ada sisi rentan. Setiap ibu itu layak disembuhkan, tidak hanya dipuji ketangguhannya,” ujar Utin dalam presentasinya.
Namun, Utin tidak berhenti pada empati. Ia datang dengan sebuah solusi konkret: Motherhood Care Intervention (MCI), sebuah layanan terintegrasi dengan Posyandu dan Puskesmas yang melibatkan psikolog, dengan pendekatan 5A (Ask, Assess, Advice, Assist, Arrange) untuk mendampingi para ibu secara praktis dan psikologis.
Dari Perang Skincare hingga Rantai Kekerasan di Dunia Kedokteran
Di posisi kedua, Muhammad Faruq Azhar dari Politeknik Negeri Batam menyoroti "medan perang" lain yang akrab dengan Gen Z: lautan hoaks dan overclaim produk skincare. Solusinya tajam dan komprehensif, mulai dari pengawasan digital proaktif hingga program pemulihan korban yang humanis.Sementara itu, sang juara ketiga, Putri Malahayati dari Universitas Sriwijaya, Palembang, dengan berani membongkar "borok" di dunia pendidikan kedokteran: perundungan terhadap dokter residen.
Untuk memutus rantai kekerasan senioritas ini, Putri mengusulkan adopsi konsep AWARE (Altering Workplace Attitudes for Resident Education) yang bahkan sudah mulai ia terapkan di level organisasi mahasiswa kedokteran.
Bukan Generasi Penggerutu, tapi Generasi Bermutu
Ketiga isu tersebut hanyalah puncak dari gunung es. Para finalis lainnya—total 16 orang yang terseleksi dari 534 Beswan Djarum—mengangkat berbagai masalah yang seringkali luput dari perhatian, mulai dari penyalahgunaan antibiotik, sampah digital, hingga kesetaraan bagi pengguna tangan kiri.Melihat ketajaman analisis para finalis, Maman Suherman, penulis dan pegiat literasi yang menjadi juri, memberikan penegasan kuat.
“Ini bukti bahwa Gen Z bukan generasi penggerutu, tetapi Gen Z yang ada di sini (Beswan Djarum) adalah bukti jika mereka semua adalah sekumpulan orang-orang yang bermutu. Mereka lebih kritis, terbuka dan memiliki ide-ide serta terobosan baru,” ujar Kang Maman, sapaan akrabnya.
Felicia Hanitio, Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, menambahkan bahwa kompetisi ini dirancang untuk menempa para pemimpin masa depan.
“Melalui Essay Contest, para Beswan dilatih untuk mengasah welas asih, berpikir kritis, dan keberanian menawarkan solusi. Keterampilan kepemimpinan yang semakin penting di tengah dunia yang tak pasti,”jelasFelicia.
(dan)
Lihat Juga :