Kisah Demetria Dahayu, Mahasiswa UGM yang Menjadi Lulusan S1 Tercepat
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 16:44 WIB
loading...
Demetria Dahayu Kayla Didrika menjadi lulusan S1 tercepat di wisuda program sarjana dan sarjana terapan UGM pada Rabu (27/8/2025) lalu. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Demetria Dahayu Kayla Didrika menjadi lulusan S1 tercepat di wisuda program sarjana dan sarjana terapan UGM pada Rabu (27/8/2025) lalu. Di UGM Kayla kuliah di Fakultas Teknik jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).
Diketahui, rata-rata masa studi untuk 3.150 lulusan program sarjana adalah 4 tahun 2 bulan namun Kayla berhasil menyelesaikan kuliahnya hanya dalam Waktu 3 tahun 8 bulan 5 hari.
Kayla memang mahasiswa yang disiplin baik dalam Waktu dan juga belajar. Ia juga sudah menargetkan untuk menyelesaikan studinya dengan tepat Waktu.
Baca juga: Cerita Lintang, Lulusan Tercepat UGM dengan Predikat Cumlaude yang Aktif Berorganisasi
“Jadi, untuk bisa berhasil mencapai target yang sudah saya rencanakan, saya harus bekerja semaksimal mungkin selama di perkuliahan,” katanya, melansir laman UGM, Jumat (29/8/2025).
Namun demikian Kayla mengaku terkejut bahwa kedisiplinanya itu membawanya meraih status lulusan tercepat jenjang sarjana dan sarjana terapan di kampus yang berlokasi di Yogyakarta ini.
Peran keluarga, teman, dan dosen tentu juga menjadi faktor penting dalam perjalanan studinya. Ia mengaku banyak dosen yang memberikan inspirasi serta motivasi dalam menetapkan target-target hidupnya.
Sementara itu, keluarga juga menjadi alasan terbesar mengapa Kayla bisa bertahan hingga ke titik ini. Bagi Kayla, doa dan semangat dari orang tua menjadi sumber kekuatan utama sekaligus sistem pendukung yang membuatnya yakin bahwa ia mampu mencapai target-target yang telah ia rencanakan.
Selain itu, Kayla juga mengatakan bahwa teman-teman seangkatannya juga menjadi tempat terbaik untuknya berkeluh kesah dan tetap termotivasi untuk belajar. Kayla menyampaikan bahwa teman-temannya selalu menjadi tempat aman baginya ketika merasa jatuh atau kehilangan semangat belajar.
“Mereka selalu menyemangati saya untuk bangkit lagi. Jadi saya sangat berterimakasih dan bersyukur karena adanya teman-teman PWK angkatan 2021 yang sudah menjadi keluarga saya selama di Jogja,” ujarnya penuh rasa syukur.
Meski lulus lebih cepat, Kayla mengaku selama kuliah tidak hanya mengejar prestasi akademik namun ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan non-akademik seperti terlibat dalam kegiatan organisasi maupun kepanitiaan.
Mulai dari menjadi Ketua Himpunan, mengikuti berbagai kepanitiaan di tingkat Fakultas dan Prodi, menjadi Co-Fasilitator di PPSMB Palapa 2022, hingga mengikuti lomba seperti saat bimbingan pendanaan PKM. Dari keterlibatan tersebut, Kayla merasa mendapatkan kesempatan untuk bertemu banyak orang hebat yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
Lahir dan besar di Semarang, Kayla mengaku telah memiliki motivasi untuk merantau dan melanjutkan studinya di UGM. Kayla mengungkapkan bahwa alasannya memilih UGM karena ia kagum dengan konsep UGM yang memihak ke kaum marginal, dan hal ini juga berkaitan dengan prodi yang ia pilih.
Baca juga: Kisah Adi, Wisudawan Terbaik Program Doktor UM dengan IPK 4
“Karena salah satu tujuan utama PWK adalah untuk menyetarakan akses ke seluruh lapisan masyarakat dalam mendapatkan kualitas hidup yang baik melalui perencanaan spasial, jadi menurut saya konsep ini dan visi UGM adalah kombinasi yang cocok dengan motivasi diri saya,” ujarnya.
Tidak hanya itu, pengalaman akademik untuk belajar di Program Studi PWK menjadi bagian paling berkesan baginya. Setiap semester, ia mengikuti mata kuliah studio yang menuntut kerja kelompok sekaligus praktek lapangan.
Dinamika ini, menurut Kayla, sangat membentuk dirinya. Dari yang semula cenderung individualis dan kurang percaya diri berbicara di depan umum, ia belajar berkomunikasi, menyelaraskan pekerjaan dengan tim, serta berani menyuarakan pendapat.
“Saya yang dulunya tidak adventurous jadi terbiasa turun lapangan, mulai dari survei ke hutan, menjelajah kampung, tersesat di jalan, hingga harus membawa motor di jalur Pantura yang penuh dengan truk besar. Itu pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, tetapi justru membentuk siapa saya hari ini,” ungkapnya.
Diketahui, rata-rata masa studi untuk 3.150 lulusan program sarjana adalah 4 tahun 2 bulan namun Kayla berhasil menyelesaikan kuliahnya hanya dalam Waktu 3 tahun 8 bulan 5 hari.
Kayla memang mahasiswa yang disiplin baik dalam Waktu dan juga belajar. Ia juga sudah menargetkan untuk menyelesaikan studinya dengan tepat Waktu.
Baca juga: Cerita Lintang, Lulusan Tercepat UGM dengan Predikat Cumlaude yang Aktif Berorganisasi
“Jadi, untuk bisa berhasil mencapai target yang sudah saya rencanakan, saya harus bekerja semaksimal mungkin selama di perkuliahan,” katanya, melansir laman UGM, Jumat (29/8/2025).
Namun demikian Kayla mengaku terkejut bahwa kedisiplinanya itu membawanya meraih status lulusan tercepat jenjang sarjana dan sarjana terapan di kampus yang berlokasi di Yogyakarta ini.
Support System
Peran keluarga, teman, dan dosen tentu juga menjadi faktor penting dalam perjalanan studinya. Ia mengaku banyak dosen yang memberikan inspirasi serta motivasi dalam menetapkan target-target hidupnya.
Sementara itu, keluarga juga menjadi alasan terbesar mengapa Kayla bisa bertahan hingga ke titik ini. Bagi Kayla, doa dan semangat dari orang tua menjadi sumber kekuatan utama sekaligus sistem pendukung yang membuatnya yakin bahwa ia mampu mencapai target-target yang telah ia rencanakan.
Selain itu, Kayla juga mengatakan bahwa teman-teman seangkatannya juga menjadi tempat terbaik untuknya berkeluh kesah dan tetap termotivasi untuk belajar. Kayla menyampaikan bahwa teman-temannya selalu menjadi tempat aman baginya ketika merasa jatuh atau kehilangan semangat belajar.
“Mereka selalu menyemangati saya untuk bangkit lagi. Jadi saya sangat berterimakasih dan bersyukur karena adanya teman-teman PWK angkatan 2021 yang sudah menjadi keluarga saya selama di Jogja,” ujarnya penuh rasa syukur.
Aktif di Organisasi
Meski lulus lebih cepat, Kayla mengaku selama kuliah tidak hanya mengejar prestasi akademik namun ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan non-akademik seperti terlibat dalam kegiatan organisasi maupun kepanitiaan.
Mulai dari menjadi Ketua Himpunan, mengikuti berbagai kepanitiaan di tingkat Fakultas dan Prodi, menjadi Co-Fasilitator di PPSMB Palapa 2022, hingga mengikuti lomba seperti saat bimbingan pendanaan PKM. Dari keterlibatan tersebut, Kayla merasa mendapatkan kesempatan untuk bertemu banyak orang hebat yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
Alasan Memilih UGM dan Prodi PWK
Lahir dan besar di Semarang, Kayla mengaku telah memiliki motivasi untuk merantau dan melanjutkan studinya di UGM. Kayla mengungkapkan bahwa alasannya memilih UGM karena ia kagum dengan konsep UGM yang memihak ke kaum marginal, dan hal ini juga berkaitan dengan prodi yang ia pilih.
Baca juga: Kisah Adi, Wisudawan Terbaik Program Doktor UM dengan IPK 4
“Karena salah satu tujuan utama PWK adalah untuk menyetarakan akses ke seluruh lapisan masyarakat dalam mendapatkan kualitas hidup yang baik melalui perencanaan spasial, jadi menurut saya konsep ini dan visi UGM adalah kombinasi yang cocok dengan motivasi diri saya,” ujarnya.
Tidak hanya itu, pengalaman akademik untuk belajar di Program Studi PWK menjadi bagian paling berkesan baginya. Setiap semester, ia mengikuti mata kuliah studio yang menuntut kerja kelompok sekaligus praktek lapangan.
Dinamika ini, menurut Kayla, sangat membentuk dirinya. Dari yang semula cenderung individualis dan kurang percaya diri berbicara di depan umum, ia belajar berkomunikasi, menyelaraskan pekerjaan dengan tim, serta berani menyuarakan pendapat.
“Saya yang dulunya tidak adventurous jadi terbiasa turun lapangan, mulai dari survei ke hutan, menjelajah kampung, tersesat di jalan, hingga harus membawa motor di jalur Pantura yang penuh dengan truk besar. Itu pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, tetapi justru membentuk siapa saya hari ini,” ungkapnya.
(nnz)
Lihat Juga :