Bukan Sekadar Pengenalan Kampus, PKKMB Universitas Pancasila Lahirkan Generasi Berintegritas
Senin, 15 September 2025 - 15:46 WIB
loading...
Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) untuk menyambut 2.685 mahasiswa baru Tahun Akademik 2025/2026
A
A
A
Universitas Pancasila (UP) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) untuk menyambut 2.685 mahasiswa baru Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Universitas Pancasila, pada (15/9). Tercatat mahasiswa baru dari berbagai jenjang, mulai dari diploma, profesi, sarjana, hingga magister. Angka ini menunjukkan kenaikan 20% dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi bukti kuat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di universitas tersebut.
Mengusung tema “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Sinergi, Inovasi, dan Prestasi”, kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus memperkenalkan kehidupan akademik, organisasi, dan budaya kampus kepada mahasiswa baru sebagai bekal dalam menempuh pendidikan tinggi.
Rektor Universitas Pancasila Prof. Adnan Hamid usai resmi melantik mengungkapkan rasa syukurnya atas tingginya minat pendaftar. "Jumlah ini menunjukkan bahwa publik masih memiliki kepercayaan yang tinggi pada Universitas Pancasila," ujarnya. Ia menambahkan, di beberapa fakultas unggulan seperti Hukum, Teknik, dan Farmasi, pendaftaran bahkan harus ditutup lebih awal karena kuota telah terpenuhi.
Sebagai salah satu dari 64 universitas di Indonesia yang mendapatkan predikat "Unggul" dari total 3.000 institusi, UP berkomitmen penuh menjaga kualitas akademiknya. "Kami berkewajiban untuk menjaga kualitas akademik bagi mahasiswa," tegas Prof. Adnan.
Untuk memastikan mutu pendidikan tetap terjaga, UP disokong oleh tiga lembaga utama yakni pertama Lembaga Jaminan Mutu. Lembaga ini ungkap Rektor bertanggung jawab menjaga standar pembelajaran sesuai regulasi pemerintah. Kedua Lembaga Implementasi Pancasila yang memiliki tugas mengarahkan seluruh civitas akademika untuk selalu bertindak sesuai nilai-nilai Pancasila, sejalan dengan nama besar universitas. Selanjutnya adalah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang tugasnya memastikan dosen dan mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhanas RI) Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si yang menyampaikan materi tentang semangat anak muda harus tetap dijaga, karena anak muda sebagai embrio kemerdekaan Indonesia.
"Karena anak muda pula Reformasi tahun 1998 juga terjadi, sehingga kita sekarang bisa menikmati demokrasi di Indonesia yang Menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak muda termasuk mahasiswa juga menjadi penggerak dan penentu kemajuan Indonesia," ungkapnya.
Membangun Karakter Mahasiswa Gen Z: Keterbukaan dan Kolaborasi
Dalam kesempatan tersebut Rektor juga menyoroti tantangan dalam membimbing mahasiswa generasi Z yang memiliki karakteristik berbeda. Ia mengakui, perbedaan usianya yang mencapai 63 tahun dengan mahasiswa membuat strategi pendekatan harus disesuaikan.
"Strateginya adalah menempatkan Wakil Rektor III dari kalangan muda," jelas Prof. Adnan. Langkah ini diambil untuk menjembatani kesenjangan antara mahasiswa dan manajemen kampus, menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dan mudah.
Menurutnya, generasi Z adalah generasi yang terbuka dan ingin menyelesaikan masalah dengan cepat. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah dengan merangkul mereka, menjelaskan segala hal secara transparan, dan mendorong mereka untuk tidak hanya menyampaikan aspirasi, tetapi juga memikirkan solusi yang bertanggung jawab.
"Kami tidak bisa memaksa mereka ikut cara kami, tetapi kami ajak bicara, kami arahkan," katanya. Prof. Adnan menjamin kebebasan akademik dan hak menyampaikan aspirasi mahasiswa, namun dengan penekanan pada tanggung jawab dan tidak melanggar hak orang lain.
Ia mencontohkan, saat mahasiswa hendak menyampaikan aspirasi terkait isu DPR, pihak kampus memberikan pendampingan agar mereka memahami bagaimana menyampaikan aspirasi dengan benar dan tidak sekadar ikut-ikutan. "Kami buka ruang diskusi. Kami katakan, apapun yang kita capai harus melewati proses," pungkasnya.
Mengusung tema “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Sinergi, Inovasi, dan Prestasi”, kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus memperkenalkan kehidupan akademik, organisasi, dan budaya kampus kepada mahasiswa baru sebagai bekal dalam menempuh pendidikan tinggi.
Rektor Universitas Pancasila Prof. Adnan Hamid usai resmi melantik mengungkapkan rasa syukurnya atas tingginya minat pendaftar. "Jumlah ini menunjukkan bahwa publik masih memiliki kepercayaan yang tinggi pada Universitas Pancasila," ujarnya. Ia menambahkan, di beberapa fakultas unggulan seperti Hukum, Teknik, dan Farmasi, pendaftaran bahkan harus ditutup lebih awal karena kuota telah terpenuhi.
Sebagai salah satu dari 64 universitas di Indonesia yang mendapatkan predikat "Unggul" dari total 3.000 institusi, UP berkomitmen penuh menjaga kualitas akademiknya. "Kami berkewajiban untuk menjaga kualitas akademik bagi mahasiswa," tegas Prof. Adnan.
Untuk memastikan mutu pendidikan tetap terjaga, UP disokong oleh tiga lembaga utama yakni pertama Lembaga Jaminan Mutu. Lembaga ini ungkap Rektor bertanggung jawab menjaga standar pembelajaran sesuai regulasi pemerintah. Kedua Lembaga Implementasi Pancasila yang memiliki tugas mengarahkan seluruh civitas akademika untuk selalu bertindak sesuai nilai-nilai Pancasila, sejalan dengan nama besar universitas. Selanjutnya adalah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang tugasnya memastikan dosen dan mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhanas RI) Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si yang menyampaikan materi tentang semangat anak muda harus tetap dijaga, karena anak muda sebagai embrio kemerdekaan Indonesia.
"Karena anak muda pula Reformasi tahun 1998 juga terjadi, sehingga kita sekarang bisa menikmati demokrasi di Indonesia yang Menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak muda termasuk mahasiswa juga menjadi penggerak dan penentu kemajuan Indonesia," ungkapnya.
Membangun Karakter Mahasiswa Gen Z: Keterbukaan dan Kolaborasi
Dalam kesempatan tersebut Rektor juga menyoroti tantangan dalam membimbing mahasiswa generasi Z yang memiliki karakteristik berbeda. Ia mengakui, perbedaan usianya yang mencapai 63 tahun dengan mahasiswa membuat strategi pendekatan harus disesuaikan.
"Strateginya adalah menempatkan Wakil Rektor III dari kalangan muda," jelas Prof. Adnan. Langkah ini diambil untuk menjembatani kesenjangan antara mahasiswa dan manajemen kampus, menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dan mudah.
Menurutnya, generasi Z adalah generasi yang terbuka dan ingin menyelesaikan masalah dengan cepat. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah dengan merangkul mereka, menjelaskan segala hal secara transparan, dan mendorong mereka untuk tidak hanya menyampaikan aspirasi, tetapi juga memikirkan solusi yang bertanggung jawab.
"Kami tidak bisa memaksa mereka ikut cara kami, tetapi kami ajak bicara, kami arahkan," katanya. Prof. Adnan menjamin kebebasan akademik dan hak menyampaikan aspirasi mahasiswa, namun dengan penekanan pada tanggung jawab dan tidak melanggar hak orang lain.
Ia mencontohkan, saat mahasiswa hendak menyampaikan aspirasi terkait isu DPR, pihak kampus memberikan pendampingan agar mereka memahami bagaimana menyampaikan aspirasi dengan benar dan tidak sekadar ikut-ikutan. "Kami buka ruang diskusi. Kami katakan, apapun yang kita capai harus melewati proses," pungkasnya.
(unt)
Lihat Juga :