Kolaborasi Tingkatkan Pembelajaran Sains Bermuatan Literasi Lingkungan
Rabu, 17 September 2025 - 09:47 WIB
loading...
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menjalin kolaborasi dengan SD Yohannes Gabriel Surabaya dalam sebuah program kemitraan masyarakat. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menjalin kolaborasi dengan SD Yohannes Gabriel Surabaya dalam sebuah program kemitraan masyarakat. Program ini diwujudkan melalui kegiatan Pendampingan Penyusunan Media Pembelajaran Sains Bermuatan Literasi Lingkungan dengan Pendekatan Investigative Science Learning Environment (ISLE).
Kolaborasi ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar. Tujuan utama program ini adalah memperkuat kapasitas guru dalam mengimplementasikan pembelajaran sains yang inovatif sekaligus menanamkan literasi lingkungan kepada siswa sejak dini. Melalui integrasi literasi lingkungan dalam pembelajaran sains, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap kelestarian alam serta mampu berkontribusi menghadapi tantangan global seperti polusi dan perubahan iklim.
Rangkaian kegiatan akan meliputi beberapa workshop bagi para guru. Workshop pertama berfokus pada pemahaman pendekatan ISLE yang menekankan penyelidikan ilmiah, pembelajaran bermakna melalui pengalaman langsung, serta penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Urgensi Literasi Ekonomi Ramah Lingkungan
Dengan pendampingan ini, para guru didorong mendesain pembelajaran sains yang lebih interaktif dan kontekstual. Selain itu, guru juga akan dibekali keterampilan menyusun media eksperimen berbasis literasi lingkungan. Media ini nantinya dapat dimanfaatkan di kelas sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis.
Kepala Sekolah SD Yohannes Gabriel Widiatmoko Antonius menyambut positif program ini. Ia menekankan bahwa sekolah memang telah memiliki laboratorium IPA, tetapi pemanfaatannya masih bisa dioptimalkan. Dengan adanya pelatihan dan pengembangan media inovatif, pembelajaran sains diharapkan semakin hidup dan relevan dengan kebutuhan siswa.
Ketua Tim UKWMS Elisabeth Pratidhina menjelaskan bahwa pembelajaran sains idealnya tidak hanya berorientasi pada pemahaman konsep, tetapi juga membentuk sikap dan keterampilan siswa untuk menjaga lingkungan.
"Pendekatan ISLE sesuai untuk mendorong siswa berpikir kritis, melakukan investigasi, sekaligus mengambil aksi nyata dalam pelestarian lingkungan," ujarnya, Selasa (16/9/2025).
Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Selain mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, program ini juga sejalan dengan komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan kampus yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar. Tujuan utama program ini adalah memperkuat kapasitas guru dalam mengimplementasikan pembelajaran sains yang inovatif sekaligus menanamkan literasi lingkungan kepada siswa sejak dini. Melalui integrasi literasi lingkungan dalam pembelajaran sains, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap kelestarian alam serta mampu berkontribusi menghadapi tantangan global seperti polusi dan perubahan iklim.
Rangkaian kegiatan akan meliputi beberapa workshop bagi para guru. Workshop pertama berfokus pada pemahaman pendekatan ISLE yang menekankan penyelidikan ilmiah, pembelajaran bermakna melalui pengalaman langsung, serta penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Urgensi Literasi Ekonomi Ramah Lingkungan
Dengan pendampingan ini, para guru didorong mendesain pembelajaran sains yang lebih interaktif dan kontekstual. Selain itu, guru juga akan dibekali keterampilan menyusun media eksperimen berbasis literasi lingkungan. Media ini nantinya dapat dimanfaatkan di kelas sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis.
Kepala Sekolah SD Yohannes Gabriel Widiatmoko Antonius menyambut positif program ini. Ia menekankan bahwa sekolah memang telah memiliki laboratorium IPA, tetapi pemanfaatannya masih bisa dioptimalkan. Dengan adanya pelatihan dan pengembangan media inovatif, pembelajaran sains diharapkan semakin hidup dan relevan dengan kebutuhan siswa.
Ketua Tim UKWMS Elisabeth Pratidhina menjelaskan bahwa pembelajaran sains idealnya tidak hanya berorientasi pada pemahaman konsep, tetapi juga membentuk sikap dan keterampilan siswa untuk menjaga lingkungan.
"Pendekatan ISLE sesuai untuk mendorong siswa berpikir kritis, melakukan investigasi, sekaligus mengambil aksi nyata dalam pelestarian lingkungan," ujarnya, Selasa (16/9/2025).
Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Selain mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, program ini juga sejalan dengan komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan kampus yang berdampak nyata bagi masyarakat.
(zik)
Lihat Juga :