5 Ilmuwan UIN Masuk Daftar Top 2% Peneliti Dunia Versi Stanford-Elsevier 2025
Rabu, 24 September 2025 - 17:33 WIB
loading...
Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, salah satu ilmuwan yang masuk daftar peneliti dunia Top2% Stanford. Foto/uinjkt.ac.id.
A
A
A
JAKARTA - Lima ilmuwan dari Universitas Islam Negeri (UIN) berhasil menorehkan prestasi internasional dengan tercatat dalam daftar Top 2% Scientist Worldwide 2025 yang dirilis oleh tim peneliti Stanford University bekerja sama dengan Elsevier.
Peringkat bergengsi ini disusun oleh tim yang dipimpin Prof. John P. A. Ioannidis (Stanford) dengan menggunakan basis data Scopus. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator terstandar, seperti jumlah sitasi, indeks H, pengaruh co-authorship, hingga performa di sub-bidang masing-masing peneliti.
Baca juga: 9 Menteri dan Wamen Lulusan ITB di Kabinet Prabowo, Nomor 1 Ilmuwan Nanoteknologi
Dataset tahunan ini dipublikasikan melalui platform data Elsevier pada 19 September 2025, dan diakui luas karena metodologinya yang transparan, lintas-disiplin, serta berbasis data sitasi internasional.
1. Prof. Maila Dinia Husni Rahiem – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (bidang Education; Artificial Intelligence & Image Processing).
2. Prof. Saiful Mujani – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (bidang History; International Relations).
3. Prof. Muhammad Siddiq Armia – UIN Ar-Raniry Banda Aceh (bidang Law; Education).
4. Prof. Mursyid Djawas – UIN Ar-Raniry Banda Aceh (bidang History; Historical Studies).
5. Dr. Habibis Saleh – UIN Sultan Syarif Kasim Riau (bidang Mechanical Engineering & Transports; Energy).
Baca juga: Sosok Moneim Ramadan, Ilmuwan Atom Mesir Diduga Dihabisi Mossad karena Selidiki Nuklir Israel
Kementerian Agama mencatat, pada 2023 dan 2024 hanya ada satu nama dari PTKIN yang masuk daftar tersebut, yakni Prof. Maila Dinia Husni Rahiem. Tahun ini, jumlahnya meningkat menjadi lima orang. Khusus Prof. Maila, pengakuan ini menjadi pencapaian tiga tahun berturut-turut, yang menunjukkan konsistensi produktivitas riset dan dampak sitasi internasionalnya.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menegaskan bahwa capaian ini lahir dari tata kelola riset yang kuat. “Kami membangun research road-mapping, memperkuat etika riset, menyediakan unit pendampingan publikasi, hingga menjalin kerja sama dengan penerbit dan asosiasi ilmiah. Standardisasi data riset dan manajemen yang akuntabel di PTKIN menjadi kunci agar hasilnya terukur di indeks global,” ujarnya, melalui siaran pers, Rabu (24/9/2025).
Baca juga: KSTI 2025 Hadirkan Ilmuwan Fisika Peraih Nobel, Indonesia Mantapkan Arah Riset
Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dosen-peneliti. “Kami memperluas program research clinic, mentoring publikasi bereputasi, serta hibah kolaboratif lintas kampus dan negara. Lima nama ini adalah bukti bahwa PTKIN siap bersaing secara global. Target ke depan bukan hanya masuk daftar, tetapi menghasilkan riset yang berdampak nyata bagi bangsa,” jelasnya.
Sahiron juga menyebutkan tiga makna strategis dari prestasi ini. Pertama, memberikan legitimasi ilmiah internasional karena riset PTKIN diakui melalui metrik global yang objektif. Kedua, menjadi pendorong kultur akademik agar dosen dan mahasiswa semakin termotivasi menulis di jurnal bereputasi dan berkolaborasi lintas disiplin. Ketiga, memperkuat mutu kebijakan, kurikulum, serta pengabdian masyarakat berbasis bukti.
Kemenag menegaskan, pencapaian tahun 2025 akan dijadikan titik awal akselerasi riset PTKIN. Fokus utama diarahkan pada penguatan kolaborasi riset nasional dan internasional, penerapan open science, literasi data dan AI untuk penelitian, serta peningkatan kualitas penulisan hibah dan visibilitas riset di tingkat global.
Peringkat bergengsi ini disusun oleh tim yang dipimpin Prof. John P. A. Ioannidis (Stanford) dengan menggunakan basis data Scopus. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator terstandar, seperti jumlah sitasi, indeks H, pengaruh co-authorship, hingga performa di sub-bidang masing-masing peneliti.
Baca juga: 9 Menteri dan Wamen Lulusan ITB di Kabinet Prabowo, Nomor 1 Ilmuwan Nanoteknologi
Dataset tahunan ini dipublikasikan melalui platform data Elsevier pada 19 September 2025, dan diakui luas karena metodologinya yang transparan, lintas-disiplin, serta berbasis data sitasi internasional.
Adapun lima nama ilmuwan PTKIN yang masuk daftar Top 2% Scientist Worldwide 2025 adalah:
1. Prof. Maila Dinia Husni Rahiem – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (bidang Education; Artificial Intelligence & Image Processing).
2. Prof. Saiful Mujani – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (bidang History; International Relations).
3. Prof. Muhammad Siddiq Armia – UIN Ar-Raniry Banda Aceh (bidang Law; Education).
4. Prof. Mursyid Djawas – UIN Ar-Raniry Banda Aceh (bidang History; Historical Studies).
5. Dr. Habibis Saleh – UIN Sultan Syarif Kasim Riau (bidang Mechanical Engineering & Transports; Energy).
Baca juga: Sosok Moneim Ramadan, Ilmuwan Atom Mesir Diduga Dihabisi Mossad karena Selidiki Nuklir Israel
Kementerian Agama mencatat, pada 2023 dan 2024 hanya ada satu nama dari PTKIN yang masuk daftar tersebut, yakni Prof. Maila Dinia Husni Rahiem. Tahun ini, jumlahnya meningkat menjadi lima orang. Khusus Prof. Maila, pengakuan ini menjadi pencapaian tiga tahun berturut-turut, yang menunjukkan konsistensi produktivitas riset dan dampak sitasi internasionalnya.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menegaskan bahwa capaian ini lahir dari tata kelola riset yang kuat. “Kami membangun research road-mapping, memperkuat etika riset, menyediakan unit pendampingan publikasi, hingga menjalin kerja sama dengan penerbit dan asosiasi ilmiah. Standardisasi data riset dan manajemen yang akuntabel di PTKIN menjadi kunci agar hasilnya terukur di indeks global,” ujarnya, melalui siaran pers, Rabu (24/9/2025).
Baca juga: KSTI 2025 Hadirkan Ilmuwan Fisika Peraih Nobel, Indonesia Mantapkan Arah Riset
Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dosen-peneliti. “Kami memperluas program research clinic, mentoring publikasi bereputasi, serta hibah kolaboratif lintas kampus dan negara. Lima nama ini adalah bukti bahwa PTKIN siap bersaing secara global. Target ke depan bukan hanya masuk daftar, tetapi menghasilkan riset yang berdampak nyata bagi bangsa,” jelasnya.
Sahiron juga menyebutkan tiga makna strategis dari prestasi ini. Pertama, memberikan legitimasi ilmiah internasional karena riset PTKIN diakui melalui metrik global yang objektif. Kedua, menjadi pendorong kultur akademik agar dosen dan mahasiswa semakin termotivasi menulis di jurnal bereputasi dan berkolaborasi lintas disiplin. Ketiga, memperkuat mutu kebijakan, kurikulum, serta pengabdian masyarakat berbasis bukti.
Kemenag menegaskan, pencapaian tahun 2025 akan dijadikan titik awal akselerasi riset PTKIN. Fokus utama diarahkan pada penguatan kolaborasi riset nasional dan internasional, penerapan open science, literasi data dan AI untuk penelitian, serta peningkatan kualitas penulisan hibah dan visibilitas riset di tingkat global.
(nnz)
Lihat Juga :