Dulu Nyaris Tak Kuliah, Kini Anak Petani Ini Jadi Wisudawan Terbaik Unesa dengan IPK 3,93
Rabu, 01 Oktober 2025 - 06:00 WIB
loading...
Wisudawan terbaik FIP Unesa Ela Dwita Sari berfoto bersama ibu dan ayahnya. Foto/Unesa.
A
A
A
JAKARTA - Menjadi anak petani bukan halangan untuk meraih pendidikan tinggi. Kalimat itu dibuktikan langsung oleh Ela Dwita Sari, mahasiswi asal Jombang yang resmi dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Wisuda ke-116.
Ela, sapaan akrabnya, merupakan lulusan Program Studi S-1 PGSD dengan capaian IPK nyaris sempurna, yakni 3,93 predikat pujian. Di balik prestasinya, tersimpan perjuangan panjang anak seorang petani yang tak pernah gentar bermimpi besar.
Baca juga: Cerita Alexander Weynard, Wisudawan Terbaik ITS dengan Nilai IPK Tertinggi
Sejak lulus SMA, mahasiswi angkatan 2021 ini telah meneguhkan tekad untuk kuliah. Bukan hanya dorongan pribadi, semangat itu juga datang dari kedua orang tuanya — sang ayah, Mihartono, yang berprofesi sebagai petani sekaligus penjahit konveksi, serta ibunya, Siti Fatimah, seorang ibu rumah tangga. Bagi keluarga sederhana itu, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan.
“Alhamdulillah saya lolos seleksi beasiswa. Saya ingin membuat orang tua bangga memiliki saya. Saya tidak mau mereka kecewa kalau saya tidak bersungguh-sungguh menjalani kewajiban saya sebagai mahasiswa penerima bantuan pemerintah,” ungkapnya penuh haru, melansir laman Unesa, Rabu (1/10/2025).
Baca juga: Kisah Inspiratif Qori, Anak Driver Ojol Lulus Cumlaude dari Undip dengan IPK 3,95
Melalui beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah), Ela menempuh pendidikannya tanpa membebani orang tua. Kesempatan emas itu ia manfaatkan sebaik mungkin dengan aktif mengikuti berbagai program Kampus Merdeka, mulai dari Program Kampus Mengajar di SDN Lakarsantri I/472 Surabaya hingga Program Surabaya Mengajar.
Awalnya Ela bercita-cita menjadi psikolog. Namun, setelah berdiskusi dengan keluarga, ia mantap memilih jurusan PGSD. “Saya merasa menjadi guru adalah profesi paling sesuai dengan diri saya. Hal ini dibuktikan dengan saya sangat enjoy menjalaninya,” tuturnya.
Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah saat praktik mengajar. Berhadapan dengan murid-murid dengan karakteristik beragam membuatnya sempat kewalahan. Namun, perlahan ia belajar memahami dan mengelola kelas dengan baik. Dari pengalaman itu lahirlah skripsi berjudul Pengembangan LKPD Happy Notes Mengacu Pemahaman Sosial pada Materi Hak dan Kewajiban Pendidikan Pancasila Kelas IV SD.
Baca juga: Kisah Demetria Dahayu, Mahasiswa UGM yang Menjadi Lulusan S1 Tercepat
Tak hanya unggul secara akademis, Ela juga menorehkan prestasi di berbagai lomba. Ia pernah meraih juara III Lomba Media Pembelajaran Hima PGSD Universitas Hasyim Asy’ari dan juara III Lomba LKTIQ Juara Ukhuwah BEM FIP Unesa 2024.
Di balik panggung wisuda, sang ibu tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya.
Baca juga: Cerita Stephani, Lulus UGM Jurusan Hukum dengan IPK 4.00: Ingin Membanggakan Orang Tua
“Sebagai orang tua tentu saya sangat bersyukur dan bangga. Sejak kecil Ela memang anak yang tekun dan tidak pernah menyerah meski dalam keterbatasan. Harapan saya, semoga ilmu yang ia dapatkan bisa bermanfaat, dan tetap istiqomah menjalankan perintah Allah,” ucap Siti Fatimah haru.
Perjalanan Ela membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan. Dengan tekad, doa orang tua, dan kesempatan beasiswa, seorang anak petani pun bisa berdiri di podium kehormatan sebagai lulusan terbaik.
Ela, sapaan akrabnya, merupakan lulusan Program Studi S-1 PGSD dengan capaian IPK nyaris sempurna, yakni 3,93 predikat pujian. Di balik prestasinya, tersimpan perjuangan panjang anak seorang petani yang tak pernah gentar bermimpi besar.
Baca juga: Cerita Alexander Weynard, Wisudawan Terbaik ITS dengan Nilai IPK Tertinggi
Sejak lulus SMA, mahasiswi angkatan 2021 ini telah meneguhkan tekad untuk kuliah. Bukan hanya dorongan pribadi, semangat itu juga datang dari kedua orang tuanya — sang ayah, Mihartono, yang berprofesi sebagai petani sekaligus penjahit konveksi, serta ibunya, Siti Fatimah, seorang ibu rumah tangga. Bagi keluarga sederhana itu, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan.
“Alhamdulillah saya lolos seleksi beasiswa. Saya ingin membuat orang tua bangga memiliki saya. Saya tidak mau mereka kecewa kalau saya tidak bersungguh-sungguh menjalani kewajiban saya sebagai mahasiswa penerima bantuan pemerintah,” ungkapnya penuh haru, melansir laman Unesa, Rabu (1/10/2025).
Baca juga: Kisah Inspiratif Qori, Anak Driver Ojol Lulus Cumlaude dari Undip dengan IPK 3,95
Melalui beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah), Ela menempuh pendidikannya tanpa membebani orang tua. Kesempatan emas itu ia manfaatkan sebaik mungkin dengan aktif mengikuti berbagai program Kampus Merdeka, mulai dari Program Kampus Mengajar di SDN Lakarsantri I/472 Surabaya hingga Program Surabaya Mengajar.
Awalnya Ela bercita-cita menjadi psikolog. Namun, setelah berdiskusi dengan keluarga, ia mantap memilih jurusan PGSD. “Saya merasa menjadi guru adalah profesi paling sesuai dengan diri saya. Hal ini dibuktikan dengan saya sangat enjoy menjalaninya,” tuturnya.
Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah saat praktik mengajar. Berhadapan dengan murid-murid dengan karakteristik beragam membuatnya sempat kewalahan. Namun, perlahan ia belajar memahami dan mengelola kelas dengan baik. Dari pengalaman itu lahirlah skripsi berjudul Pengembangan LKPD Happy Notes Mengacu Pemahaman Sosial pada Materi Hak dan Kewajiban Pendidikan Pancasila Kelas IV SD.
Baca juga: Kisah Demetria Dahayu, Mahasiswa UGM yang Menjadi Lulusan S1 Tercepat
Tak hanya unggul secara akademis, Ela juga menorehkan prestasi di berbagai lomba. Ia pernah meraih juara III Lomba Media Pembelajaran Hima PGSD Universitas Hasyim Asy’ari dan juara III Lomba LKTIQ Juara Ukhuwah BEM FIP Unesa 2024.
Di balik panggung wisuda, sang ibu tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya.
Baca juga: Cerita Stephani, Lulus UGM Jurusan Hukum dengan IPK 4.00: Ingin Membanggakan Orang Tua
“Sebagai orang tua tentu saya sangat bersyukur dan bangga. Sejak kecil Ela memang anak yang tekun dan tidak pernah menyerah meski dalam keterbatasan. Harapan saya, semoga ilmu yang ia dapatkan bisa bermanfaat, dan tetap istiqomah menjalankan perintah Allah,” ucap Siti Fatimah haru.
Perjalanan Ela membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan. Dengan tekad, doa orang tua, dan kesempatan beasiswa, seorang anak petani pun bisa berdiri di podium kehormatan sebagai lulusan terbaik.
(nnz)
Lihat Juga :