Papan Interaktif Digital di SLB Triguna Bantu Siswa Berkebutuhan Khusus Akses Teknologi
Senin, 13 Oktober 2025 - 18:59 WIB
loading...
SLB Triguna di Subang, Jawa Barat, menjadi salah satu sekolah luar biasa yang memperoleh bantuan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai bagian dari upaya pemanfaatan teknologi pembelajaran yang ramah disabilitas. Foto/SINDOnews.
A
A
A
JAKARTA - SLB Triguna menjadi salah satu sekolah luar biasa yang memperoleh bantuan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai bagian dari upaya pemanfaatan teknologi pembelajaran yang ramah disabilitas.
Selain masuk dalam Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, sekolah ini kini memperluas akses belajar digital bagi seluruh siswanya, termasuk penyandang disabilitas netra, autisme, dan tunagrahita.
Penggunaan IFP tidak hanya menjadi pelengkap infrastruktur, tetapi juga membuka pengalaman belajar baru yang lebih interaktif, visual, dan inklusif. Setiap kelas di SLB Triguna mendapat giliran menggunakan IFP agar semua siswa mendapatkan kesempatan yang setara dalam mengakses teknologi digital.
Baca juga: Teknologi Digital dalam Pembelajaran Modern Dorong Kreativitas Inovasi
Berbeda dengan papan tulis konvensional, Papan Interaktif Digital berbasis layar sentuh ini memiliki sistem operasi Android dan berbagai fitur aksesibilitas bawaan. Salah satu yang paling membantu siswa tunanetra adalah fitur talkback.
Talkback bekerja dengan membacakan teks yang muncul di layar melalui suara (text-to-speech). Saat siswa menyentuh, menggeser, atau membuka aplikasi, perangkat memberikan umpan balik audio. Dengan fitur ini, murid tunanetra bisa menjawab kuis, mengikuti materi pelajaran, dan mengeksplorasi teknologi secara mandiri.
Guru SLB Triguna, Edwin, merasakan langsung perubahan suasana belajar setelah pemanfaatan IFP. Menurutnya, kehadiran visual dan audio yang beragam membuat siswa lebih fokus dan antusias.
Baca juga: Penggunaan Teknologi di Belajar Mengajar Siswa Harus Selaras dengan Budaya Bermedia Digital
“Sebelum ada IFP, kami pakai media apa saja yang ada, biasanya hanya In Focus. Sebagai guru SLB, kami terbiasa pakai media konkret, misalnya ke lapangan kalau belajar tumbuhan. Tapi sekarang dengan IFP, pembelajaran visual jadi lebih menarik. Anak tidak cepat bosan,” jelasnya.
Edwin menambahkan, teknologi ini mendukung materi yang sebelumnya sulit dijelaskan secara abstrak. Melalui gambar, suara, dan aplikasi pembelajaran, anak-anak bisa memahami pelajaran dengan lebih cepat.
Irfan Agustian, salah satu siswa berkebutuhan khusus, merasakan manfaat langsung dari penggunaan IFP. Menurutnya, pembelajaran terasa lebih seru dibandingkan sebelumnya.
“Senang belajar pakai IFP karena ada warnanya dan suaranya bagus. Ada Google juga. Biasanya fitur kayak talkback atau lihat video cuma di HP, sekarang pakai IFP. Semoga ada di semua kelas,” ungkap Irfan yang gemar belajar Matematika.
Irfan juga menyebut tampilan visual membuat pelajaran lebih jelas dan tidak membosankan. Ia bercita-cita menjadi pengusaha sembako dan berharap pembelajaran digital bisa terus berkembang di sekolahnya.
Sementara Raka, salah satu siswa tunanetra mengaku sangat senang belajar di kelas dengan IFP. "Pengalamannya seru, Alhamdulillah support untuk anak-anak disabilitas yang memiliki hambatan penglihatan," ujarnya murid kelas 10 ini.
Raka yang bercita-cita menjadi musisi ini menjelaskan, adanya fitur talkback sangat membantu dia dalam belajar. Pasalnya ia sebelumnya belajar hanya dengan braille yang masih manual. Ia pun mengungkapkan semangat ke sekolah karena ilmu yang ia dapat dengan IFP semakin banyak.
"Saya suka semuanya. Saya tuh enggak terpatok pada satu pelajaran. Pengen belajar semuanya. Yang paling berkesan itu tentang pengetahuan alam, kayak melihat suasana alam. Kita kan tunanetra susah ya. Karena ada orang atau robotik yang membantu kita, kita jadi terbayang mengimajinasikan itu," ungkapnya.
"Terima kasih buat pak presiden, pak menteri, dengan alat IFP ini kami disabilitas sangat terbantu," pungkasnya.
Selain masuk dalam Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, sekolah ini kini memperluas akses belajar digital bagi seluruh siswanya, termasuk penyandang disabilitas netra, autisme, dan tunagrahita.
Penggunaan IFP tidak hanya menjadi pelengkap infrastruktur, tetapi juga membuka pengalaman belajar baru yang lebih interaktif, visual, dan inklusif. Setiap kelas di SLB Triguna mendapat giliran menggunakan IFP agar semua siswa mendapatkan kesempatan yang setara dalam mengakses teknologi digital.
Baca juga: Teknologi Digital dalam Pembelajaran Modern Dorong Kreativitas Inovasi
Berbeda dengan papan tulis konvensional, Papan Interaktif Digital berbasis layar sentuh ini memiliki sistem operasi Android dan berbagai fitur aksesibilitas bawaan. Salah satu yang paling membantu siswa tunanetra adalah fitur talkback.
Talkback bekerja dengan membacakan teks yang muncul di layar melalui suara (text-to-speech). Saat siswa menyentuh, menggeser, atau membuka aplikasi, perangkat memberikan umpan balik audio. Dengan fitur ini, murid tunanetra bisa menjawab kuis, mengikuti materi pelajaran, dan mengeksplorasi teknologi secara mandiri.
Guru SLB Triguna, Edwin, merasakan langsung perubahan suasana belajar setelah pemanfaatan IFP. Menurutnya, kehadiran visual dan audio yang beragam membuat siswa lebih fokus dan antusias.
Baca juga: Penggunaan Teknologi di Belajar Mengajar Siswa Harus Selaras dengan Budaya Bermedia Digital
“Sebelum ada IFP, kami pakai media apa saja yang ada, biasanya hanya In Focus. Sebagai guru SLB, kami terbiasa pakai media konkret, misalnya ke lapangan kalau belajar tumbuhan. Tapi sekarang dengan IFP, pembelajaran visual jadi lebih menarik. Anak tidak cepat bosan,” jelasnya.
Edwin menambahkan, teknologi ini mendukung materi yang sebelumnya sulit dijelaskan secara abstrak. Melalui gambar, suara, dan aplikasi pembelajaran, anak-anak bisa memahami pelajaran dengan lebih cepat.
Irfan Agustian, salah satu siswa berkebutuhan khusus, merasakan manfaat langsung dari penggunaan IFP. Menurutnya, pembelajaran terasa lebih seru dibandingkan sebelumnya.
“Senang belajar pakai IFP karena ada warnanya dan suaranya bagus. Ada Google juga. Biasanya fitur kayak talkback atau lihat video cuma di HP, sekarang pakai IFP. Semoga ada di semua kelas,” ungkap Irfan yang gemar belajar Matematika.
Irfan juga menyebut tampilan visual membuat pelajaran lebih jelas dan tidak membosankan. Ia bercita-cita menjadi pengusaha sembako dan berharap pembelajaran digital bisa terus berkembang di sekolahnya.
Sementara Raka, salah satu siswa tunanetra mengaku sangat senang belajar di kelas dengan IFP. "Pengalamannya seru, Alhamdulillah support untuk anak-anak disabilitas yang memiliki hambatan penglihatan," ujarnya murid kelas 10 ini.
Raka yang bercita-cita menjadi musisi ini menjelaskan, adanya fitur talkback sangat membantu dia dalam belajar. Pasalnya ia sebelumnya belajar hanya dengan braille yang masih manual. Ia pun mengungkapkan semangat ke sekolah karena ilmu yang ia dapat dengan IFP semakin banyak.
"Saya suka semuanya. Saya tuh enggak terpatok pada satu pelajaran. Pengen belajar semuanya. Yang paling berkesan itu tentang pengetahuan alam, kayak melihat suasana alam. Kita kan tunanetra susah ya. Karena ada orang atau robotik yang membantu kita, kita jadi terbayang mengimajinasikan itu," ungkapnya.
"Terima kasih buat pak presiden, pak menteri, dengan alat IFP ini kami disabilitas sangat terbantu," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :