Cerita Naomi dan Shanelle, 2 Mahasiswi BINUS Ciptakan Brand Fashion dari Tugas Kuliah
Sabtu, 18 Oktober 2025 - 12:46 WIB
loading...
Naomi Hilya dan Shanelle Callista Hendra, mahasiswa semester tujuh jurusan Fashion Design BINUS University. Foto/BINUS.
A
A
A
JAKARTA - BINUS University tak hanya melahirkan para ahli bidang teknologi, namun juga banyakentrepreneur muda berbakat di industri kreatif.
Salah satunya Naomi Hilya dan Shanelle Callista Hendra, mahasiswa semester tujuh jurusan Fashion Design BINUS University, yang sudah berani meluncurkan fashion brand mereka sendiri bernama SANANE ketika masih berkuliah. Seperti apa perjalanan mereka?
Cerita SANANE dimulai dari sebuah tugas kuliah. Alih-alih sekadar menyelesaikan untuk nilai, keduanya justru menyeriusi ide tersebut dan menjadikannya sebuah brand siap pakai.
Baca juga: 10 Jurusan yang Mulai Ditinggalkan dan 6 Prodi Primadona Baru dari Ahli Harvard
“Awalnya untuk tugas sustainability, kita bikin clutch dari recycled denim,” cerita Naomi. “Di awal kita masih coba-coba, termasuk dengan produk sustainable. Tapi setelah tes pasar, ternyata yang lebih jalan justru ready to wear ini. Walaupun akhirnya SANANE berkembang menjadi merek yang ready to wear, kami tetap berkomitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam setiap langkah ke depannya, termasuk nilai-nilai sustainability,” katanya, melalui siaran pers, Sabtu (18/10/2025).
Bagi Naomi dan Shanelle, keputusan untuk memilih jalur Entrepreneurship Track jadi titik balik. Awalnya, mereka sempat mempertimbangkan magang di rumah mode atau jadi asisten desainer. Namun setelah merasakan kelas-kelas kewirausahaan, termasuk seminar dan bimbingan mingguan, mereka mantap untuk melangkah lebih jauh.
Dengan adanya mentoring intensif, mahasiswa bisa menguji ide bisnis sejak dini dan belajar menghadapi realita pasar. Bagi BINUS University, inilah bentuk nyata dukungan agar mahasiswa tak hanya jadi pekerja, tapi juga pencipta lapangan kerja.
“Kalau polosan aja kan boring, jadi kita tambahin elemen-elemen ini biar tetap casual, tapi ada sesuatu yang beda,” jelas Shanelle.
Selain koleksi payet, brand fashion kedua mahasiswi itu juga punya basic collection dengan desain multifungsi. Ada model cascade yang bisa dipakai sebagai dress atau atasan, serta koleksi dengan detail karet di bagian belakang agar lebih nyaman untuk berbagai bentuk tubuh. Warna-warna dasar seperti hitam dan putih jadi pilihan utama, sehingga koleksi ini fleksibel untuk di-mix and match.
Hal menarik lainnya, brand ini pun tidak hanya fokus pada desain. Justru, mereka juga menyoroti pemberdayaan. Produksinya melibatkan ibu-ibu rumah tangga yang bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan peran utama mereka. Hal ini sejalan dengan semangat banyak fashion brand masa kini yang menekankan nilai keberlanjutan dan komunitas.
“Kita pengin ibu-ibu daerah bisa tetap punya penghasilan meskipun kerjanya dari rumah,” kata Naomi.
Kini, SANANE sudah mulai dikenal lewat Instagram dan TikTok, dengan pemesanan dilakukan via direct message. Mereka juga sedang mempersiapkan toko resmi di platform e-commerce tanah air agar bisa menjangkau pasar lebih luas.
Keduanya tak mau berhenti di tank top saja. Mereka sudah menyiapkan rencana untuk mengeksplor bahan dan model lain, namun tetap dengan sentuhan khas yang mereka bangun sejak awal. “Yang penting brand ini selalu punya karakter, tapi fleksibel mengikuti kebutuhan pasar,” kata Naomi.
Kerja keras pada akhirnya membuahkan hasil. SANANE sukses menembus kurasi ketat Sunday Space Market, sebuah event fashion dan lifestyle populer di Jakarta. Ajang yang digelar di The Brickhall, Fatmawati pada 13-14 September 2025 lalu bukan sekadar bazar biasa. Sebab, hanya brand terpilih dengan konsep dan kualitas kuat yang bisa ikut serta.
Salah satunya Naomi Hilya dan Shanelle Callista Hendra, mahasiswa semester tujuh jurusan Fashion Design BINUS University, yang sudah berani meluncurkan fashion brand mereka sendiri bernama SANANE ketika masih berkuliah. Seperti apa perjalanan mereka?
Awal Mula Fashion Brand SANANE
Cerita SANANE dimulai dari sebuah tugas kuliah. Alih-alih sekadar menyelesaikan untuk nilai, keduanya justru menyeriusi ide tersebut dan menjadikannya sebuah brand siap pakai.
Baca juga: 10 Jurusan yang Mulai Ditinggalkan dan 6 Prodi Primadona Baru dari Ahli Harvard
“Awalnya untuk tugas sustainability, kita bikin clutch dari recycled denim,” cerita Naomi. “Di awal kita masih coba-coba, termasuk dengan produk sustainable. Tapi setelah tes pasar, ternyata yang lebih jalan justru ready to wear ini. Walaupun akhirnya SANANE berkembang menjadi merek yang ready to wear, kami tetap berkomitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam setiap langkah ke depannya, termasuk nilai-nilai sustainability,” katanya, melalui siaran pers, Sabtu (18/10/2025).
Bagi Naomi dan Shanelle, keputusan untuk memilih jalur Entrepreneurship Track jadi titik balik. Awalnya, mereka sempat mempertimbangkan magang di rumah mode atau jadi asisten desainer. Namun setelah merasakan kelas-kelas kewirausahaan, termasuk seminar dan bimbingan mingguan, mereka mantap untuk melangkah lebih jauh.
Dengan adanya mentoring intensif, mahasiswa bisa menguji ide bisnis sejak dini dan belajar menghadapi realita pasar. Bagi BINUS University, inilah bentuk nyata dukungan agar mahasiswa tak hanya jadi pekerja, tapi juga pencipta lapangan kerja.
Unik Karena Detail Payet dan Pemberdayaan Perempuan
SANANE hadir dengan identitas jelas, yaitu tank top kasual yang dipermanis dengan aplikasi payet berwarna-warni. Tren tank top memang sudah ramai di media sosial, tapi keduanya melihat celah khusus di Jakarta.“Kalau polosan aja kan boring, jadi kita tambahin elemen-elemen ini biar tetap casual, tapi ada sesuatu yang beda,” jelas Shanelle.
Selain koleksi payet, brand fashion kedua mahasiswi itu juga punya basic collection dengan desain multifungsi. Ada model cascade yang bisa dipakai sebagai dress atau atasan, serta koleksi dengan detail karet di bagian belakang agar lebih nyaman untuk berbagai bentuk tubuh. Warna-warna dasar seperti hitam dan putih jadi pilihan utama, sehingga koleksi ini fleksibel untuk di-mix and match.
Hal menarik lainnya, brand ini pun tidak hanya fokus pada desain. Justru, mereka juga menyoroti pemberdayaan. Produksinya melibatkan ibu-ibu rumah tangga yang bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan peran utama mereka. Hal ini sejalan dengan semangat banyak fashion brand masa kini yang menekankan nilai keberlanjutan dan komunitas.
“Kita pengin ibu-ibu daerah bisa tetap punya penghasilan meskipun kerjanya dari rumah,” kata Naomi.
Belum Lulus, Sudah Produksi Massal
Kini, SANANE sudah mulai dikenal lewat Instagram dan TikTok, dengan pemesanan dilakukan via direct message. Mereka juga sedang mempersiapkan toko resmi di platform e-commerce tanah air agar bisa menjangkau pasar lebih luas.
Keduanya tak mau berhenti di tank top saja. Mereka sudah menyiapkan rencana untuk mengeksplor bahan dan model lain, namun tetap dengan sentuhan khas yang mereka bangun sejak awal. “Yang penting brand ini selalu punya karakter, tapi fleksibel mengikuti kebutuhan pasar,” kata Naomi.
Kerja keras pada akhirnya membuahkan hasil. SANANE sukses menembus kurasi ketat Sunday Space Market, sebuah event fashion dan lifestyle populer di Jakarta. Ajang yang digelar di The Brickhall, Fatmawati pada 13-14 September 2025 lalu bukan sekadar bazar biasa. Sebab, hanya brand terpilih dengan konsep dan kualitas kuat yang bisa ikut serta.
(nnz)
Lihat Juga :