FSRD IKJ Gelar Pameran Beyond Perception, Eksplorasi Seni Lintas Disiplin
Senin, 27 Oktober 2025 - 10:58 WIB
loading...
Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (FSRD IKJ) kembali menggelar pameran rutin para pengajar dengan tema Beyond Perception. Foto/IKJ.
A
A
A
JAKARTA - Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (FSRD IKJ) kembali menggelar pameran rutin para pengajar dengan tema “Beyond Perception”. Pameran ini berlangsung dari 25 Oktober hingga 2 November 2025 di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, dan secara resmi dibuka pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 19.00 WIB.
Pameran ini diinisiasi sebagai bentuk kolaborasi lintas program studi di FSRD IKJ, melibatkan dosen dari Program Studi Seni Rupa Murni, Desain Komunikasi Visual, Kriya Seni, Desain Interior, serta Desain Produk (Mode dan Busana). Melalui kolaborasi ini, para pengajar menghadirkan pendekatan, teknik, dan pengalaman artistik yang beragam untuk menafsirkan tema besar “Beyond Perception” atau “Melampaui Persepsi”.
Rektor IKJ Prof. Dr. M. Syamsul Maarif dalam sambutannya menyampaikan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang penampilan karya seni, tetapi juga merupakan refleksi intelektual dan artistik para pendidik IKJ.
“Tema Beyond Perception menelusuri dan menantang batas konvensi realitas visual yang kita hadapi. Di era budaya, nilai, dan teknologi seperti sekarang, seni menjadi sarana penting untuk membaca ulang realitas,” ujarnya.
Samsul menambahkan, teknologi kini harus dimanfaatkan secara baik dalam kehidupan seni dan budaya, karena ketika dunia seni telah menyatu dengan kehidupan, maka seni akan menjadi bagian dari keseharian manusia. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin yang telah terwujud dalam pameran ini.
“Saya berharap kolaborasi ini tidak hanya terjadi di FSRD IKJ, tetapi juga antar fakultas di IKJ agar bisa menyelenggarakan pameran bersama. Seni tidak hanya bersifat estetik, tetapi juga menjadi medium riset terhadap pengalaman manusia,” tuturnya.
Tahun ini, pameran dikuratori oleh Firman Lie yang menafsirkan tema “Beyond Perception” sebagai upaya untuk menggugat batas-batas persepsi konvensional di tengah era visual yang semakin kompleks. Menurut Firman, persepsi manusia terhadap dunia kini semakin dimediasi oleh teknologi, budaya, dan nilai-nilai yang tidak selalu tampak di permukaan. Dalam konteks ini, seni rupa menjadi alat penting untuk menguji dan melampaui persepsi tersebut.
Pameran “Beyond Perception” mengajak pengunjung untuk meninjau ulang bagaimana manusia memahami realitas melalui indera, serta bagaimana seni dapat membuka ruang pemahaman baru di luar yang tampak atau terdengar. Melalui keberagaman latar belakang para pengajar dari berbagai program studi, pameran ini menghadirkan keragaman medium, perspektif, dan bahasa visual yang memperkaya cara pandang terhadap persepsi dan realitas.
Sebanyak 44 pengajar FSRD IKJ dari lima program studi berpartisipasi dalam pameran ini. Selain pameran utama, kegiatan juga akan dilengkapi dengan workshop pada 29–30 Oktober 2025 dan artist talk pada 31 Oktober 2025, yang terbuka bagi pengunjung dan masyarakat umum.
Pameran ini diinisiasi sebagai bentuk kolaborasi lintas program studi di FSRD IKJ, melibatkan dosen dari Program Studi Seni Rupa Murni, Desain Komunikasi Visual, Kriya Seni, Desain Interior, serta Desain Produk (Mode dan Busana). Melalui kolaborasi ini, para pengajar menghadirkan pendekatan, teknik, dan pengalaman artistik yang beragam untuk menafsirkan tema besar “Beyond Perception” atau “Melampaui Persepsi”.
Rektor IKJ Prof. Dr. M. Syamsul Maarif dalam sambutannya menyampaikan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang penampilan karya seni, tetapi juga merupakan refleksi intelektual dan artistik para pendidik IKJ.
“Tema Beyond Perception menelusuri dan menantang batas konvensi realitas visual yang kita hadapi. Di era budaya, nilai, dan teknologi seperti sekarang, seni menjadi sarana penting untuk membaca ulang realitas,” ujarnya.
Samsul menambahkan, teknologi kini harus dimanfaatkan secara baik dalam kehidupan seni dan budaya, karena ketika dunia seni telah menyatu dengan kehidupan, maka seni akan menjadi bagian dari keseharian manusia. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin yang telah terwujud dalam pameran ini.
“Saya berharap kolaborasi ini tidak hanya terjadi di FSRD IKJ, tetapi juga antar fakultas di IKJ agar bisa menyelenggarakan pameran bersama. Seni tidak hanya bersifat estetik, tetapi juga menjadi medium riset terhadap pengalaman manusia,” tuturnya.
Tahun ini, pameran dikuratori oleh Firman Lie yang menafsirkan tema “Beyond Perception” sebagai upaya untuk menggugat batas-batas persepsi konvensional di tengah era visual yang semakin kompleks. Menurut Firman, persepsi manusia terhadap dunia kini semakin dimediasi oleh teknologi, budaya, dan nilai-nilai yang tidak selalu tampak di permukaan. Dalam konteks ini, seni rupa menjadi alat penting untuk menguji dan melampaui persepsi tersebut.
Pameran “Beyond Perception” mengajak pengunjung untuk meninjau ulang bagaimana manusia memahami realitas melalui indera, serta bagaimana seni dapat membuka ruang pemahaman baru di luar yang tampak atau terdengar. Melalui keberagaman latar belakang para pengajar dari berbagai program studi, pameran ini menghadirkan keragaman medium, perspektif, dan bahasa visual yang memperkaya cara pandang terhadap persepsi dan realitas.
Sebanyak 44 pengajar FSRD IKJ dari lima program studi berpartisipasi dalam pameran ini. Selain pameran utama, kegiatan juga akan dilengkapi dengan workshop pada 29–30 Oktober 2025 dan artist talk pada 31 Oktober 2025, yang terbuka bagi pengunjung dan masyarakat umum.
(nnz)
Lihat Juga :