Riwayat Pendidikan Soegondo Djojopoespito, Ketua Kongres Lahirnya Sumpah Pemuda
Senin, 27 Oktober 2025 - 12:06 WIB
loading...
Soegondo Djojopoespito, Ketua Kongres Pemuda II tahun 1928 yang memimpin lahirnya keputusan bersejarah: Sumpah Pemuda. Foto/IAIN Tuban.
A
A
A
JAKARTA - Setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda selalu membawa kita pada sosok penting di balik lahirnya ikrar persatuan itu yaitu Soegondo Djojopoespito, Ketua Kongres Pemuda II tahun 1928 yang memimpin lahirnya keputusan bersejarah: Sumpah Pemuda .
Namun di balik kiprah politik dan nasionalismenya, perjalanan pendidikan Soegondo menyimpan kisah inspiratif tentang semangat belajar dan perjuangan di masa penjajahan.
Soegondo Djojopoespito lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 22 Februari 1904. Ia merupakan putra dari Kromosardjono, seorang penghulu dan mantri juru tulis desa di Tuban, dan ibunya adalah putri dari Khotib Djojoatmadjo.
Baca juga: 10 Ucapan Hari Sumpah Pemuda 2025 untuk Caption Medsos atau Status WhatsApp
Melansir laman Dinas Kebudayaan DIY, Soegondo memiliki seorang adik perempuan bernama Soenarjati. Sejak kecil, ia bersama adiknya diasuh oleh pamannya yang bekerja sebagai kolektor pajak di Blora, yang juga membiayai pendidikan mereka.
Perjalanan pendidikan Soegondo dimulai di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Tuban, sekolah dasar khusus pribumi yang dikelola pemerintah kolonial Belanda.
Ia menempuh pendidikan selama tujuh tahun, mulai 1911 hingga 1918. Setelah lulus, Soegondo melanjutkan pendidikannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya pada 1918–1921, yang setara dengan sekolah menengah pertama saat ini.
Baca juga: Jelang Peringatan Sumpah Pemuda, Hasto Ingatkan Pesan Bung Karno
Selama bersekolah di Surabaya, Soegondo tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, tokoh pergerakan Islam dan nasionalisme yang juga dikenal sebagai “Guru Bangsa”.
Di rumah inilah, ia bertemu dengan Soekarno, yang saat itu sudah lebih tua dan banyak membaca buku-buku politik serta filsafat. Dari diskusi-diskusi yang sering mereka lakukan, Soegondo mulai tertarik pada pemikiran kebangsaan dan semangat perjuangan kemerdekaan.
Setelah menamatkan pendidikan di MULO, Soegondo melanjutkan studi ke AMS/B Afdeling (setingkat SMA jurusan ilmu pasti dan alam) di Yogyakarta pada 1921–1924. Di kota ini, ia tinggal di rumah keluarga Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswa. Pengaruh kuat dari Ki Hadjar Dewantara membentuk karakter nasionalis dan idealisme Soegondo muda terhadap pentingnya pendidikan dan kemerdekaan bangsa.
Baca juga: Menggali Kembali Semangat dari Teks Sumpah Pemuda yang Dibacakan 28 Oktober 1928
Pada tahun 1924, setelah lulus AMS, Soegondo diterima di RHS (Rechtshoogeschool) di Batavia, sekolah tinggi hukum yang kini menjadi cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Meskipun hanya menempuh pendidikan hingga tingkat Propadeuse (setara dua tahun pertama), masa kuliah ini memperluas pandangan politiknya dan mempertemukannya dengan berbagai tokoh pergerakan muda Indonesia.
Selain aktif dalam dunia pendidikan, Soegondo juga dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional. Ia mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia bersama Sigit, Gularso, dan Darwis sebagai wadah perjuangan kaum muda terpelajar.
Pada 27–28 Oktober 1928, Soegondo dipercaya menjadi Ketua Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan keputusan monumental: Sumpah Pemuda — tonggak persatuan bangsa Indonesia.
Karier politiknya terus berlanjut setelah kemerdekaan. Soegondo pernah menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) bersama Sutan Syahrir, serta menjabat sebagai Menteri Pembangunan Masyarakat dalam Kabinet Halim. Atas jasanya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama pada 7 Agustus 1978, dan menetapkan Soegondo Djojopoespito sebagai Anggota Perintis Kemerdekaan Indonesia.
Namun di balik kiprah politik dan nasionalismenya, perjalanan pendidikan Soegondo menyimpan kisah inspiratif tentang semangat belajar dan perjuangan di masa penjajahan.
Soegondo Djojopoespito lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 22 Februari 1904. Ia merupakan putra dari Kromosardjono, seorang penghulu dan mantri juru tulis desa di Tuban, dan ibunya adalah putri dari Khotib Djojoatmadjo.
Baca juga: 10 Ucapan Hari Sumpah Pemuda 2025 untuk Caption Medsos atau Status WhatsApp
Melansir laman Dinas Kebudayaan DIY, Soegondo memiliki seorang adik perempuan bernama Soenarjati. Sejak kecil, ia bersama adiknya diasuh oleh pamannya yang bekerja sebagai kolektor pajak di Blora, yang juga membiayai pendidikan mereka.
Riwayat PendidikanSoegondo Djojopoespito
Perjalanan pendidikan Soegondo dimulai di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Tuban, sekolah dasar khusus pribumi yang dikelola pemerintah kolonial Belanda.
Ia menempuh pendidikan selama tujuh tahun, mulai 1911 hingga 1918. Setelah lulus, Soegondo melanjutkan pendidikannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya pada 1918–1921, yang setara dengan sekolah menengah pertama saat ini.
Baca juga: Jelang Peringatan Sumpah Pemuda, Hasto Ingatkan Pesan Bung Karno
Selama bersekolah di Surabaya, Soegondo tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, tokoh pergerakan Islam dan nasionalisme yang juga dikenal sebagai “Guru Bangsa”.
Di rumah inilah, ia bertemu dengan Soekarno, yang saat itu sudah lebih tua dan banyak membaca buku-buku politik serta filsafat. Dari diskusi-diskusi yang sering mereka lakukan, Soegondo mulai tertarik pada pemikiran kebangsaan dan semangat perjuangan kemerdekaan.
Setelah menamatkan pendidikan di MULO, Soegondo melanjutkan studi ke AMS/B Afdeling (setingkat SMA jurusan ilmu pasti dan alam) di Yogyakarta pada 1921–1924. Di kota ini, ia tinggal di rumah keluarga Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswa. Pengaruh kuat dari Ki Hadjar Dewantara membentuk karakter nasionalis dan idealisme Soegondo muda terhadap pentingnya pendidikan dan kemerdekaan bangsa.
Baca juga: Menggali Kembali Semangat dari Teks Sumpah Pemuda yang Dibacakan 28 Oktober 1928
Pada tahun 1924, setelah lulus AMS, Soegondo diterima di RHS (Rechtshoogeschool) di Batavia, sekolah tinggi hukum yang kini menjadi cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Meskipun hanya menempuh pendidikan hingga tingkat Propadeuse (setara dua tahun pertama), masa kuliah ini memperluas pandangan politiknya dan mempertemukannya dengan berbagai tokoh pergerakan muda Indonesia.
Selain aktif dalam dunia pendidikan, Soegondo juga dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional. Ia mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia bersama Sigit, Gularso, dan Darwis sebagai wadah perjuangan kaum muda terpelajar.
Pada 27–28 Oktober 1928, Soegondo dipercaya menjadi Ketua Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan keputusan monumental: Sumpah Pemuda — tonggak persatuan bangsa Indonesia.
Karier politiknya terus berlanjut setelah kemerdekaan. Soegondo pernah menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) bersama Sutan Syahrir, serta menjabat sebagai Menteri Pembangunan Masyarakat dalam Kabinet Halim. Atas jasanya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama pada 7 Agustus 1978, dan menetapkan Soegondo Djojopoespito sebagai Anggota Perintis Kemerdekaan Indonesia.
(nnz)
Lihat Juga :