Riwayat Pendidikan WR Supratman, Pencipta Lagu Indonesia Raya di Kongres Pemuda 1928
Senin, 27 Oktober 2025 - 15:36 WIB
loading...
WR Supratman menjadi salah satu tokoh Sumpah Pemuda yang patut dikenang karena jasanya. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 jatuh besok, Selasa (28/10/2025). WR Supratman menjadi salah satu tokoh Sumpah Pemuda yang patut dikenang karena jasanya.
WR Supratman, tokoh penting dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia sekaligus pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, memiliki perjalanan pendidikan yang penuh semangat dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan seni.
Mengutip laman Sumpah Pemuda, sosok bernama lengkap Wage Rudolf Soepratman ini lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903 dan mengawali pendidikannya di Frobelschool (setara taman kanak-kanak) Jakarta pada tahun 1907, saat usianya baru empat tahun.
Baca juga: Sejarah Hari Sumpah Pemuda yang Diperingati Tiap 28 Oktober
Setelah pindah ke Makassar dan tinggal bersama kakaknya, Ny. Rukiyem, Soepratman melanjutkan pendidikan di Tweede Inlandscheschool (Sekolah Angka Dua) hingga lulus pada tahun 1917. Dua tahun kemudian, ia menuntaskan ujian Klein Ambtenaar Examen (KAE), yang merupakan ujian bagi calon pegawai pemerintahan tingkat rendah.
Tak berhenti di situ, WR Supratman kemudian melanjutkan pendidikannya di Normaalschool atau Sekolah Pendidikan Guru, menunjukkan minat besarnya terhadap dunia pendidikan.
Perjalanan hidupnya berubah arah ketika ia mulai mengenal dunia musik berkat kakak iparnya, W.M. Van Eldick. Pada usia 17 tahun, ia menerima hadiah sebuah biola dari Van Eldick dan bersama-sama membentuk grup Black and White Jazz Band.
Baca juga: Menggali Kembali Semangat dari Teks Sumpah Pemuda yang Dibacakan 28 Oktober 1928
Bakat bermusik WR Supratman berkembang pesat, dan semangat kebangsaannya pun terpancar lewat lagu-lagu perjuangan yang diciptakannya — salah satunya menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia, Indonesia Raya.
Karier jurnalistik WR Supratman dimulai saat ia pindah ke Bandung dan bergabung dengan surat kabar Kaoem Moeda pada 1924. Setahun kemudian, ia bekerja di surat kabar Sin Po di Jakarta. Pekerjaan ini membawanya berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional serta menghadiri rapat-rapat organisasi pemuda dan partai politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Dalam peristiwa bersejarah Kongres Pemuda Kedua pada 27–28 Oktober 1928, WR Supratman turut ambil bagian dengan memperdengarkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya menggunakan gesekan biolanya. Lagu tersebut menggema di hadapan seluruh peserta kongres sesaat sebelum dibacakannya putusan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Momen tersebut menandai kelahiran simbol persatuan bangsa Indonesia melalui musik.
Baca juga: Riwayat Pendidikan Soegondo Djojopoespito, Ketua Kongres Lahirnya Sumpah Pemuda
Namun, ketenaran lagu Indonesia Raya membuat Supratman diawasi ketat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Lirik yang mengandung kata “Merdeka, Merdeka” dianggap mengancam kekuasaan kolonial, sehingga pada tahun 1930, lagu tersebut dilarang dinyanyikan di ruang publik. Meski demikian, semangat nasionalismenya tidak pernah padam.
Pada masa-masa sulit di akhir hidupnya, WR Supratman sempat berpindah tempat dari Jakarta ke Cimahi dan Pemalang sebelum akhirnya menetap di Surabaya karena sakit. Ia wafat pada 17 Agustus 1938 di Jalan Mangga No. 21 Tambak Sari, Surabaya, dalam usia 35 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kapasan, Jalan Tambak Segaran Wetan, Surabaya.
WR Supratman, tokoh penting dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia sekaligus pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, memiliki perjalanan pendidikan yang penuh semangat dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan seni.
Mengutip laman Sumpah Pemuda, sosok bernama lengkap Wage Rudolf Soepratman ini lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903 dan mengawali pendidikannya di Frobelschool (setara taman kanak-kanak) Jakarta pada tahun 1907, saat usianya baru empat tahun.
Baca juga: Sejarah Hari Sumpah Pemuda yang Diperingati Tiap 28 Oktober
Setelah pindah ke Makassar dan tinggal bersama kakaknya, Ny. Rukiyem, Soepratman melanjutkan pendidikan di Tweede Inlandscheschool (Sekolah Angka Dua) hingga lulus pada tahun 1917. Dua tahun kemudian, ia menuntaskan ujian Klein Ambtenaar Examen (KAE), yang merupakan ujian bagi calon pegawai pemerintahan tingkat rendah.
Tak berhenti di situ, WR Supratman kemudian melanjutkan pendidikannya di Normaalschool atau Sekolah Pendidikan Guru, menunjukkan minat besarnya terhadap dunia pendidikan.
Perjalanan hidupnya berubah arah ketika ia mulai mengenal dunia musik berkat kakak iparnya, W.M. Van Eldick. Pada usia 17 tahun, ia menerima hadiah sebuah biola dari Van Eldick dan bersama-sama membentuk grup Black and White Jazz Band.
Baca juga: Menggali Kembali Semangat dari Teks Sumpah Pemuda yang Dibacakan 28 Oktober 1928
Bakat bermusik WR Supratman berkembang pesat, dan semangat kebangsaannya pun terpancar lewat lagu-lagu perjuangan yang diciptakannya — salah satunya menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia, Indonesia Raya.
Karier jurnalistik WR Supratman dimulai saat ia pindah ke Bandung dan bergabung dengan surat kabar Kaoem Moeda pada 1924. Setahun kemudian, ia bekerja di surat kabar Sin Po di Jakarta. Pekerjaan ini membawanya berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional serta menghadiri rapat-rapat organisasi pemuda dan partai politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Dalam peristiwa bersejarah Kongres Pemuda Kedua pada 27–28 Oktober 1928, WR Supratman turut ambil bagian dengan memperdengarkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya menggunakan gesekan biolanya. Lagu tersebut menggema di hadapan seluruh peserta kongres sesaat sebelum dibacakannya putusan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Momen tersebut menandai kelahiran simbol persatuan bangsa Indonesia melalui musik.
Baca juga: Riwayat Pendidikan Soegondo Djojopoespito, Ketua Kongres Lahirnya Sumpah Pemuda
Namun, ketenaran lagu Indonesia Raya membuat Supratman diawasi ketat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Lirik yang mengandung kata “Merdeka, Merdeka” dianggap mengancam kekuasaan kolonial, sehingga pada tahun 1930, lagu tersebut dilarang dinyanyikan di ruang publik. Meski demikian, semangat nasionalismenya tidak pernah padam.
Pada masa-masa sulit di akhir hidupnya, WR Supratman sempat berpindah tempat dari Jakarta ke Cimahi dan Pemalang sebelum akhirnya menetap di Surabaya karena sakit. Ia wafat pada 17 Agustus 1938 di Jalan Mangga No. 21 Tambak Sari, Surabaya, dalam usia 35 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kapasan, Jalan Tambak Segaran Wetan, Surabaya.
(nnz)
Lihat Juga :