Riset Bioflok Antarkan Peneliti IPB Julie Ekasari ke Daftar 2% Ilmuwan Terbaik Dunia 2025
Sabtu, 01 November 2025 - 12:13 WIB
loading...
Julie Ekasari, peneliti bidang perikanan dan ilmu kelautan IPB University, masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists Worldwide 2025. Foto/IPB University.
A
A
A
JAKARTA - Julie Ekasari, peneliti bidang perikanan dan ilmu kelautan IPB University , masuk dalam daftar ilmuwan World’s Top 2% Scientists Worldwide 2025 yang dirilis oleh Elsevier dan Stanford University.
Selama hampir dua dekade berkarier di dunia riset sejak 2006, ia dikenal sebagai salah satu pionir dalam pengembangan teknologi bioflok untuk akuakultur.
“Saya kira karena saya termasuk peneliti awal yang meneliti teknologi ini (bioflok), sehingga penelitian saya banyak disitasi oleh peneliti selanjutnya,” ujarnya, melalui siaran pers, Sabtu (1/11/2025).
Baca juga: I Made Joni, Dosen Unpad Masuk 2% Ilmuwan Dunia Berkat Riset dan Paten Nanoteknologi
“Saya sangat bersyukur dan senang dengan pencapaian ini, terutama karena pencapaian ini juga merupakan pencapaian bersama mahasiswa dan tim. Saya sangat berterima kasih dan bangga kepada mereka,” ucapnya.
Julie memandang bahwa perikanan budi daya di Indonesia merupakan sektor yang penting dan potensial untuk dikembangkan. Hanya saja, penelitian terkait perikanan budidaya yang dilakukan saat ini belum banyak menyentuh permasalahan yang dihadapi di lapangan.
“Seorang peneliti seharusnya banyak terjun ke lapangan dan dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi para pembudi daya untuk kemudian dicarikan solusinya melalui penelitian,” paparnya.
Baca juga: Kisah Eka, Dosen Muda UGM yang Masuk Jajaran Ilmuwan Berpengaruh Dunia 2025
Masalah yang dihadapi oleh pembudi daya juga umumnya sangat kompleks dan memerlukan pendekatan ilmu multi/interdisiplin. Karena itu, sebutnya, peneliti perlu bekerja sama dengan peneliti dari berbagai bidang ilmu, pembuat kebijakan, dan stakeholder terkait.
Pencapaian Julie Ekasari masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 ini disusun berdasarkan sejumlah indikator objektif, seperti jumlah sitasi, H-index, hingga dampak publikasi secara global. Parameter tersebut menjadi standar internasional dalam menilai seberapa besar kontribusi seorang peneliti terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.
Penelitiannya bukan hanya memperkaya literatur ilmiah, tetapi juga memberi arah baru bagi kebijakan akuakultur yang berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya kelautan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui karyanya, Julie Ekasari menegaskan bahwa ilmuwan Indonesia mampu bersaing di panggung dunia. Bukan hanya melalui publikasi, melainkan juga lewat dedikasi dan kontribusi nyata untuk keberlanjutan pangan dan lingkungan.
Selama hampir dua dekade berkarier di dunia riset sejak 2006, ia dikenal sebagai salah satu pionir dalam pengembangan teknologi bioflok untuk akuakultur.
“Saya kira karena saya termasuk peneliti awal yang meneliti teknologi ini (bioflok), sehingga penelitian saya banyak disitasi oleh peneliti selanjutnya,” ujarnya, melalui siaran pers, Sabtu (1/11/2025).
Baca juga: I Made Joni, Dosen Unpad Masuk 2% Ilmuwan Dunia Berkat Riset dan Paten Nanoteknologi
“Saya sangat bersyukur dan senang dengan pencapaian ini, terutama karena pencapaian ini juga merupakan pencapaian bersama mahasiswa dan tim. Saya sangat berterima kasih dan bangga kepada mereka,” ucapnya.
Julie memandang bahwa perikanan budi daya di Indonesia merupakan sektor yang penting dan potensial untuk dikembangkan. Hanya saja, penelitian terkait perikanan budidaya yang dilakukan saat ini belum banyak menyentuh permasalahan yang dihadapi di lapangan.
“Seorang peneliti seharusnya banyak terjun ke lapangan dan dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi para pembudi daya untuk kemudian dicarikan solusinya melalui penelitian,” paparnya.
Baca juga: Kisah Eka, Dosen Muda UGM yang Masuk Jajaran Ilmuwan Berpengaruh Dunia 2025
Masalah yang dihadapi oleh pembudi daya juga umumnya sangat kompleks dan memerlukan pendekatan ilmu multi/interdisiplin. Karena itu, sebutnya, peneliti perlu bekerja sama dengan peneliti dari berbagai bidang ilmu, pembuat kebijakan, dan stakeholder terkait.
Pencapaian Julie Ekasari masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 ini disusun berdasarkan sejumlah indikator objektif, seperti jumlah sitasi, H-index, hingga dampak publikasi secara global. Parameter tersebut menjadi standar internasional dalam menilai seberapa besar kontribusi seorang peneliti terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.
Penelitiannya bukan hanya memperkaya literatur ilmiah, tetapi juga memberi arah baru bagi kebijakan akuakultur yang berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya kelautan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui karyanya, Julie Ekasari menegaskan bahwa ilmuwan Indonesia mampu bersaing di panggung dunia. Bukan hanya melalui publikasi, melainkan juga lewat dedikasi dan kontribusi nyata untuk keberlanjutan pangan dan lingkungan.
(nnz)
Lihat Juga :