Membesarkan Pemikir Digital: Literasi AI Menjadi Kebutuhan Dasar Pendidikan Anak
Kamis, 20 November 2025 - 09:08 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari sistem navigasi hingga rekomendasi media sosial. Sebagaimana inovasi besar lainnya, AI membawa potensi luar biasa sekaligus tantangan serius, seperti kemalasan berpikir, bias algoritmik, dan disinformasi.
Dalam konteks ini, pendidikan memegang peran krusial. Peran tersebut bukanlah melarang teknologi, melainkan membekali anak-anak dengan keterampilan hidup esensial, termasuk berpikir kritis, bertanggung jawab, dan berpusat pada nilai kemanusiaan.
Research & Development for Advancement (Redea) Institute yang menaungi HighScope Indonesia Institute, menyelenggarakan Parent Workshop bertajuk “Membesarkan Pemikir Digital: Membantu Anak Berkembang di Era AI” pada Selasa, 18 November 2025. Acara ini menghadirkan Ken Shelton, seorang ahli teknologi pendidikan dari Amerika Serikat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Shelton adalah penulis buku The Promises and Perils of AI in Education dan penerima sejumlah penghargaan, termasuk Digital Equity Professional Learning Network Excellence Award.
AI Sebagai Literasi Baru
Dalam sesinya, Shelton menegaskan bahwa AI telah menjadi hal biasa bagi anak-anak—mulai dari chatbot hingga sistem personalisasi digital—dan generasi mereka akan hidup berdampingan dengan teknologi yang jauh lebih maju.
“Versi AI saat ini adalah versi terburuk yang akan pernah ada,” ujarnya, mengajak orang tua dan pendidik untuk melihat pendidikan AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai literasi baru yang sama pentingnya dengan baca, tulis, dan hitung. Menurutnya, AI seharusnya tidak menjadi penghalang belajar, tetapi hadir sebagai sarana yang menuntun siswa merumuskan pertanyaan yang tepat dan menggali pengetahuan lebih dalam.
Tim Redea Institute dalam pembukaan workshop menekankan bahwa literasi AI merupakan bagian penting dari tujuan utama pembelajaran, yakni membentuk generasi pemimpin yang memiliki regulasi diri kuat dan pandangan ke depan bagi masyarakat.
Tim Redea juga menjelaskan kerangka literasi AI yang telah dikembangkan dan diintegrasikan dengan capaian pembelajaran jangka panjang, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA. Kerangka ini tidak hanya mengajarkan pola pikir untuk menggunakan AI, tetapi juga cara memahami, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan penggunaannya.
Literasi AI didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab agar alat seperti ChatGPT dan Gemini dimanfaatkan untuk kebaikan pembelajaran. Pendekatan di sekolah dilakukan secara bertahap:
- Konsumsi: Menggunakan alat sederhana (misalnya Siri atau Bee-Bots).
- Kreasi: Melakukan coding dan pemecahan masalah.
- Invasi: Mendorong siswa mengembangkan solusi teknologi baru.
Pendekatan serupa diberikan kepada orang tua melalui sesi literasi digital, termasuk pelatihan bersama psikolog mengenai kesehatan emosional saat menggunakan teknologi.
Shelton mengajak para orang tua untuk bereksperimen langsung dengan fenomena bias algoritmik, saat Redea Institute menunjukkan bagaimana model bahasa besar (Large Language Models/LLM) dapat menghasilkan jawaban yang bias secara geopolitik maupun sosial.
“AI bukan otoritas kebenaran. Kitalah yang memegang otoritas itu. Tugas kita adalah bertanya, memverifikasi, dan mengajarkan anak melakukan hal yang sama,” tegas Shelton. “Generasi pelajar hari ini tidak akan pernah hidup di dunia tanpa kehadiran AI.”
Para orang tua yang hadir, baik secara luring maupun daring, menyampaikan beragam harapan—seperti penguatan proses berpikir dan peningkatan produktivitas—serta kekhawatiran, seperti risiko ketergantungan, potensi penyalahgunaan untuk menyontek, hingga ancaman disinformasi.
Redea Institute menanggapi aspirasi dan kegelisahan ini dengan pendekatan yang menempatkan keterampilan berpikir, etika, dan karakter sebagai fondasi utama sebelum teknologi itu sendiri. Literasi AI, dalam pandangan Redea, bukan hanya persoalan kemampuan teknis, tetapi juga pembangunan empati, tanggung jawab, dan kesadaran atas konsekuensi penggunaan teknologi.
Selain berbicara dalam sesi untuk orang tua, Ken Shelton juga berdiskusi dengan siswa SMP dan SMA, serta memimpin rangkaian pelatihan bagi guru PAUD hingga SMA di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang. Keterlibatan aktif para pendidik ini penting untuk memastikan pendekatan literasi AI diterapkan secara konsisten di ruang kelas.
Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menyampaikan apresiasi kepada seluruh partisipan. “Kini saatnya kita memikirkan kembali peran kecerdasan buatan dalam pendidikan dan bagaimana kita dapat mempersiapkan anak-anak sebagai pemikir digital yang siap menghadapi tantangan masa depan.”
Dalam konteks ini, pendidikan memegang peran krusial. Peran tersebut bukanlah melarang teknologi, melainkan membekali anak-anak dengan keterampilan hidup esensial, termasuk berpikir kritis, bertanggung jawab, dan berpusat pada nilai kemanusiaan.
Research & Development for Advancement (Redea) Institute yang menaungi HighScope Indonesia Institute, menyelenggarakan Parent Workshop bertajuk “Membesarkan Pemikir Digital: Membantu Anak Berkembang di Era AI” pada Selasa, 18 November 2025. Acara ini menghadirkan Ken Shelton, seorang ahli teknologi pendidikan dari Amerika Serikat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Shelton adalah penulis buku The Promises and Perils of AI in Education dan penerima sejumlah penghargaan, termasuk Digital Equity Professional Learning Network Excellence Award.
AI Sebagai Literasi Baru
Dalam sesinya, Shelton menegaskan bahwa AI telah menjadi hal biasa bagi anak-anak—mulai dari chatbot hingga sistem personalisasi digital—dan generasi mereka akan hidup berdampingan dengan teknologi yang jauh lebih maju.
“Versi AI saat ini adalah versi terburuk yang akan pernah ada,” ujarnya, mengajak orang tua dan pendidik untuk melihat pendidikan AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai literasi baru yang sama pentingnya dengan baca, tulis, dan hitung. Menurutnya, AI seharusnya tidak menjadi penghalang belajar, tetapi hadir sebagai sarana yang menuntun siswa merumuskan pertanyaan yang tepat dan menggali pengetahuan lebih dalam.
Tim Redea Institute dalam pembukaan workshop menekankan bahwa literasi AI merupakan bagian penting dari tujuan utama pembelajaran, yakni membentuk generasi pemimpin yang memiliki regulasi diri kuat dan pandangan ke depan bagi masyarakat.
Tim Redea juga menjelaskan kerangka literasi AI yang telah dikembangkan dan diintegrasikan dengan capaian pembelajaran jangka panjang, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA. Kerangka ini tidak hanya mengajarkan pola pikir untuk menggunakan AI, tetapi juga cara memahami, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan penggunaannya.
Literasi AI didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab agar alat seperti ChatGPT dan Gemini dimanfaatkan untuk kebaikan pembelajaran. Pendekatan di sekolah dilakukan secara bertahap:
- Konsumsi: Menggunakan alat sederhana (misalnya Siri atau Bee-Bots).
- Kreasi: Melakukan coding dan pemecahan masalah.
- Invasi: Mendorong siswa mengembangkan solusi teknologi baru.
Pendekatan serupa diberikan kepada orang tua melalui sesi literasi digital, termasuk pelatihan bersama psikolog mengenai kesehatan emosional saat menggunakan teknologi.
Shelton mengajak para orang tua untuk bereksperimen langsung dengan fenomena bias algoritmik, saat Redea Institute menunjukkan bagaimana model bahasa besar (Large Language Models/LLM) dapat menghasilkan jawaban yang bias secara geopolitik maupun sosial.
“AI bukan otoritas kebenaran. Kitalah yang memegang otoritas itu. Tugas kita adalah bertanya, memverifikasi, dan mengajarkan anak melakukan hal yang sama,” tegas Shelton. “Generasi pelajar hari ini tidak akan pernah hidup di dunia tanpa kehadiran AI.”
Para orang tua yang hadir, baik secara luring maupun daring, menyampaikan beragam harapan—seperti penguatan proses berpikir dan peningkatan produktivitas—serta kekhawatiran, seperti risiko ketergantungan, potensi penyalahgunaan untuk menyontek, hingga ancaman disinformasi.
Redea Institute menanggapi aspirasi dan kegelisahan ini dengan pendekatan yang menempatkan keterampilan berpikir, etika, dan karakter sebagai fondasi utama sebelum teknologi itu sendiri. Literasi AI, dalam pandangan Redea, bukan hanya persoalan kemampuan teknis, tetapi juga pembangunan empati, tanggung jawab, dan kesadaran atas konsekuensi penggunaan teknologi.
Selain berbicara dalam sesi untuk orang tua, Ken Shelton juga berdiskusi dengan siswa SMP dan SMA, serta memimpin rangkaian pelatihan bagi guru PAUD hingga SMA di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang. Keterlibatan aktif para pendidik ini penting untuk memastikan pendekatan literasi AI diterapkan secara konsisten di ruang kelas.
Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menyampaikan apresiasi kepada seluruh partisipan. “Kini saatnya kita memikirkan kembali peran kecerdasan buatan dalam pendidikan dan bagaimana kita dapat mempersiapkan anak-anak sebagai pemikir digital yang siap menghadapi tantangan masa depan.”
(unt)
Lihat Juga :