Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie Gelar Valskrie 2025, Ajak Gen Z Lestarikan Permainan Tradisional
Minggu, 07 Desember 2025 - 19:29 WIB
loading...
pWakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, S.I.Kom mengikuti Permainan Boi-Boian bersama mahasiswa. Foto/Dok Universitas Bakrie
A
A
A
JAKARTA - Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menyelenggarakan Festival Seni Budaya Bakrie, VALSKRIE 2025: “Gebyar Dolan, Mari Tong Lestarikan!”di Kampus Plaza Festival.Festival ini menghadirkan tujuh permainan tradisional Nusantara dan melibatkan lebih ratusan mahasiswa serta peserta eksternal dari kalangan siswa SMA.
Valskrie merupakan agenda tahunan mahasiswa Ilmu Komunikasi sebagai proyek akhir mata kuliahKomunikasi Lintas Budaya. Seluruh rangkaian dirancang dan dijalankan sendiri oleh mahasiswa sebagai bentuk pembelajaran berbasis pengalaman, sejalan dengan tagline Universitas Bakrie“Experience The Real Things”. Tahun ini, tema permainan tradisional diangkat sebagai respon terhadap keseharian Gen Z yang akrab dengan gadget dan game online, agar tidak melupakan akar budaya sendiri.
Di area kampus, pengunjung dapat mencoba langsung tujuh permainan tradisional yang dikemas interaktif:Patah Kaleng, Engklek, Boi-Boian, Bola Bekel, Lompat Karet, Kerajinan Kulit Jeruk, dan Rangku Alu.Setiap permainan menonjolkan nilai kerja sama, ketangkasan, kreativitas, dan interaksi antar peserta.
Baca Juga : Cetak Sejarah, Kampus Ternama Amerika Ini Ajarkan Mata Kuliah Khusus G-Dragon
Acara ini juga turut dihadirioleh Wakil Menteri Kebudayaan Indonesia, Bapak Giring Ganesha Djumaryo, S.I.Kom.,Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie,Dra. Suharyanti, M.S.M., Ph.D.,serta Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Ketua Acara Valskrie 2025Ruth Putryani Saragih, S.I.Kom., M.Si. Wakil Menteri Kebudayaan, BapakGiring Ganesha Djumaryo, menekankan bahwa permainan tradisional adalah identitas penting bangsa yang tidak dimiliki negara lain.
“Nenek moyang kita mengajarkan begitu banyak permainan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Terima kasih karena melalui Valskrie kalian ikut melestarikan warisan ini” ujarnya.Ia juga menegaskan peran Gen Z dalam mempromosikan budaya di era digital.“Kita punya kekuatan luar biasa. Dengan media sosial, promosi kebudayaan bisa mendunia. Banyak hal menjadi viral karena konten yang kalian buat. Pelestarian kebudayaan dan peluang permainan tradisional untuk mendunia ada di tangan kalian” tambah beliau.
Ketua Acara Valskrie 2025,Ruth Putryani Saragih,menjelaskan bahwa persiapan festival sudah dilakukan sejak awal semester sebagai bagian dari tugas besar mata kuliah.“Setiap tahun tantangan kami adalah memilih konsep yang relevan dengan audiens.
Baca Juga : Mendikdasmen Serukan Kebangkitan Pendidikan di Sumatera Usai Bencana
Tahun ini kami sengaja mengangkat permainan tradisional agar mahasiswa dan peserta eksternal merasakan langsung komunikasi yang paling natural: bertemu, berinteraksi, dan tertawa bersama saat bermain” jelasnya. “Mahasiswa sebagaidigital nativekami ajak untuk tidak hanya akrab dengangame online, tetapi juga kembali tertarik pada permainan tradisional” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie,Ibu Suharyanti menegaskan bahwa Valskrie merupakan implementasi nyata metodeexperiential learningdi kampus.
“Kegiatan ini adalah ruang praktik bagi mahasiswa untuk menerapkan teori komunikasi lintas budaya dalam situasi nyata” paparnya. “Gen Z dekat dengan dunia digital. Kedekatan itu bisa menjadi kekuatan untuk menghidupkan kembali tradisi serta memperkenalkan budaya Indonesia ke publik yang lebih luas” tambah Suharyanti.
Dari sisi peserta, festival ini juga memberi pengalaman berbeda.Archaesa dan Agfany, siswa SMA yang mengikuti Valskrie 2025, mengaku tertarik karena bisa merasakan permainan yang selama ini hanya mereka dengar dari orang tua.
“Sehari-hari fokus kami lebih banyak ke gadget dan sosmed” ujar mereka. “Di Valskrie 2025 ini kami diajak kembali mengenal permainan tradisional dan ternyata seru, sekaligus bikin kami lebih dekat satu sama lain”.
Melalui Valskrie 2025, Universitas Bakrie menghadirkan pengalaman belajar yang relevan secara akademik dan memperkuat pengetahuan budaya anak muda. Keterlibatan penuh mahasiswa sebagai penyelenggara, dukungan pemerintah, serta partisipasi siswa SMA menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan secara kolaborasi lintas generasi.
Valskrie merupakan agenda tahunan mahasiswa Ilmu Komunikasi sebagai proyek akhir mata kuliahKomunikasi Lintas Budaya. Seluruh rangkaian dirancang dan dijalankan sendiri oleh mahasiswa sebagai bentuk pembelajaran berbasis pengalaman, sejalan dengan tagline Universitas Bakrie“Experience The Real Things”. Tahun ini, tema permainan tradisional diangkat sebagai respon terhadap keseharian Gen Z yang akrab dengan gadget dan game online, agar tidak melupakan akar budaya sendiri.
Di area kampus, pengunjung dapat mencoba langsung tujuh permainan tradisional yang dikemas interaktif:Patah Kaleng, Engklek, Boi-Boian, Bola Bekel, Lompat Karet, Kerajinan Kulit Jeruk, dan Rangku Alu.Setiap permainan menonjolkan nilai kerja sama, ketangkasan, kreativitas, dan interaksi antar peserta.
Baca Juga : Cetak Sejarah, Kampus Ternama Amerika Ini Ajarkan Mata Kuliah Khusus G-Dragon
Acara ini juga turut dihadirioleh Wakil Menteri Kebudayaan Indonesia, Bapak Giring Ganesha Djumaryo, S.I.Kom.,Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie,Dra. Suharyanti, M.S.M., Ph.D.,serta Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Ketua Acara Valskrie 2025Ruth Putryani Saragih, S.I.Kom., M.Si. Wakil Menteri Kebudayaan, BapakGiring Ganesha Djumaryo, menekankan bahwa permainan tradisional adalah identitas penting bangsa yang tidak dimiliki negara lain.
“Nenek moyang kita mengajarkan begitu banyak permainan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Terima kasih karena melalui Valskrie kalian ikut melestarikan warisan ini” ujarnya.Ia juga menegaskan peran Gen Z dalam mempromosikan budaya di era digital.“Kita punya kekuatan luar biasa. Dengan media sosial, promosi kebudayaan bisa mendunia. Banyak hal menjadi viral karena konten yang kalian buat. Pelestarian kebudayaan dan peluang permainan tradisional untuk mendunia ada di tangan kalian” tambah beliau.
Ketua Acara Valskrie 2025,Ruth Putryani Saragih,menjelaskan bahwa persiapan festival sudah dilakukan sejak awal semester sebagai bagian dari tugas besar mata kuliah.“Setiap tahun tantangan kami adalah memilih konsep yang relevan dengan audiens.
Baca Juga : Mendikdasmen Serukan Kebangkitan Pendidikan di Sumatera Usai Bencana
Tahun ini kami sengaja mengangkat permainan tradisional agar mahasiswa dan peserta eksternal merasakan langsung komunikasi yang paling natural: bertemu, berinteraksi, dan tertawa bersama saat bermain” jelasnya. “Mahasiswa sebagaidigital nativekami ajak untuk tidak hanya akrab dengangame online, tetapi juga kembali tertarik pada permainan tradisional” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie,Ibu Suharyanti menegaskan bahwa Valskrie merupakan implementasi nyata metodeexperiential learningdi kampus.
“Kegiatan ini adalah ruang praktik bagi mahasiswa untuk menerapkan teori komunikasi lintas budaya dalam situasi nyata” paparnya. “Gen Z dekat dengan dunia digital. Kedekatan itu bisa menjadi kekuatan untuk menghidupkan kembali tradisi serta memperkenalkan budaya Indonesia ke publik yang lebih luas” tambah Suharyanti.
Dari sisi peserta, festival ini juga memberi pengalaman berbeda.Archaesa dan Agfany, siswa SMA yang mengikuti Valskrie 2025, mengaku tertarik karena bisa merasakan permainan yang selama ini hanya mereka dengar dari orang tua.
“Sehari-hari fokus kami lebih banyak ke gadget dan sosmed” ujar mereka. “Di Valskrie 2025 ini kami diajak kembali mengenal permainan tradisional dan ternyata seru, sekaligus bikin kami lebih dekat satu sama lain”.
Melalui Valskrie 2025, Universitas Bakrie menghadirkan pengalaman belajar yang relevan secara akademik dan memperkuat pengetahuan budaya anak muda. Keterlibatan penuh mahasiswa sebagai penyelenggara, dukungan pemerintah, serta partisipasi siswa SMA menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan secara kolaborasi lintas generasi.
(wur)
Lihat Juga :