Anak Penjual Es Teh Jadi Wisudawan dengan IPK Tertinggi di UNY, Ini Kisah Betran Yunior
Jum'at, 26 Desember 2025 - 13:22 WIB
loading...
Betran Yunior berhasil mencatatkan namanya sebagai lulusan dengan IPK tertinggi jenjang S1 UNY. Foto/UNY.
A
A
A
JAKARTA - Lahir dari keluarga sederhana di Palembang, Betran Yunior berhasil mencatatkan namanya sebagai wisudawan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi jenjang sarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Wisuda Periode Desember 2025.
Prosesi wisuda yang berlangsung di GOR UNY, Selasa (23/12/2025) itu menjadi momen bersejarah bagi Betran. Dari anak penjual es teh di pinggir sekolah, ia kini berdiri di panggung wisuda dengan capaian IPK 3,98, tertinggi di antara seluruh lulusan sarjana UNY.
Baca juga: Novita Wijayanti dan Inggrid Kansil Ikut Wisuda LPT YAI 2025
Betran tumbuh dalam keluarga yang jauh dari kemewahan. Ayah dan ibunya, Zulkarnain dan Wanida, tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi dan pernah menggantungkan hidup dengan berjualan es teh.
Meski demikian, kedua orang tuanya menanamkan satu prinsip kuat sejak dini, yakni pendidikan sebagai jalan utama untuk mengubah masa depan.
“Tugasmu adalah belajar, biar pintar, tidak usah pikirkan yang lain,” pesan sang ayah yang terus diingat Betran hingga kini, dikutip dari laman UNY, Jumat (26/12/2025).
Baca juga: Momen Bahagia Dude Harlino Wisuda Didampingi sang Istri Alyssa Soebandono
Masuk sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY, Betran menyadari bahwa keseriusan belajar adalah modal terbesarnya. Tanpa fasilitas berlebih, ia memilih untuk aktif di kelas, menyimak setiap penjelasan dosen, serta mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, keaktifan selama perkuliahan membuat proses belajar di luar kelas menjadi lebih efektif.
Pendekatan tersebut membantunya menjaga prestasi akademik sekaligus tetap terlibat dalam aktivitas nonakademik. Meski begitu, tantangan tetap hadir, salah satunya saat menghadapi mata kuliah Metodologi Penelitian. Alih-alih menyerah, Betran justru semakin intens berdiskusi dan bertanya kepada dosen. Ia menilai peran dosen sangat penting dalam membantu mahasiswa memahami materi yang kompleks sebelum mendalaminya secara mandiri.
Baca juga: Momen Hangat Ashanty dan Keluarga Hadiri Wisuda Sarah Menzel, Netizen: Calon Mertua Idaman
Perjalanan akademik Betran juga tidak lepas dari dukungan beasiswa. Sejak SMA, ia telah merasakan pendidikan berbasis afirmasi melalui sekolah berasrama unggulan di Sumatra Selatan tanpa biaya. Saat kuliah di UNY, ia kembali mendapat kepercayaan melalui KIP Kuliah, yang sangat membantu secara finansial sekaligus memberinya kebanggaan karena tidak membebani orang tua.
Adaptasi di awal perkuliahan menjadi fase terberat baginya. Datang ke Yogyakarta seorang diri tanpa keluarga dan kenalan sempat membuatnya merasa kesepian. Namun seiring waktu, dukungan dari teman-teman seperjuangan menjadi kekuatan yang menemaninya hingga menyelesaikan studi.
Bagi alumni SMA Negeri Sumatra Selatan ini, wisuda bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol keberhasilan dan pembuktian, terlebih karena Betran merupakan sarjana pertama di keluarganya. “Wisuda ini sangat berharga bagi saya dan keluarga. Ini membuktikan bahwa dengan niat dan tekad yang kuat, pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang mustahil,” ujarnya.
Ke depan, warga Kelurahan Duku, Kecamatan Ilir Timur Tiga, Kota Palembang itu bercita-cita berkarier di industri kreatif. Selama kuliah, ia aktif mengikuti program magang dan kegiatan sukarelawan untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Ia berharap ilmu yang dimilikinya kelak dapat memberi manfaat tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain.
Menutup kisahnya, Betran membagikan pesan inspiratif bagi sesama mahasiswa. “Duduk di bangku kuliah adalah sebuah privilese. Nikmati prosesnya, perbanyak teman, dan eksplor sebanyak mungkin pengalaman,” pesannya.
Prosesi wisuda yang berlangsung di GOR UNY, Selasa (23/12/2025) itu menjadi momen bersejarah bagi Betran. Dari anak penjual es teh di pinggir sekolah, ia kini berdiri di panggung wisuda dengan capaian IPK 3,98, tertinggi di antara seluruh lulusan sarjana UNY.
Baca juga: Novita Wijayanti dan Inggrid Kansil Ikut Wisuda LPT YAI 2025
Betran tumbuh dalam keluarga yang jauh dari kemewahan. Ayah dan ibunya, Zulkarnain dan Wanida, tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi dan pernah menggantungkan hidup dengan berjualan es teh.
Meski demikian, kedua orang tuanya menanamkan satu prinsip kuat sejak dini, yakni pendidikan sebagai jalan utama untuk mengubah masa depan.
“Tugasmu adalah belajar, biar pintar, tidak usah pikirkan yang lain,” pesan sang ayah yang terus diingat Betran hingga kini, dikutip dari laman UNY, Jumat (26/12/2025).
Baca juga: Momen Bahagia Dude Harlino Wisuda Didampingi sang Istri Alyssa Soebandono
Masuk sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY, Betran menyadari bahwa keseriusan belajar adalah modal terbesarnya. Tanpa fasilitas berlebih, ia memilih untuk aktif di kelas, menyimak setiap penjelasan dosen, serta mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, keaktifan selama perkuliahan membuat proses belajar di luar kelas menjadi lebih efektif.
Pendekatan tersebut membantunya menjaga prestasi akademik sekaligus tetap terlibat dalam aktivitas nonakademik. Meski begitu, tantangan tetap hadir, salah satunya saat menghadapi mata kuliah Metodologi Penelitian. Alih-alih menyerah, Betran justru semakin intens berdiskusi dan bertanya kepada dosen. Ia menilai peran dosen sangat penting dalam membantu mahasiswa memahami materi yang kompleks sebelum mendalaminya secara mandiri.
Baca juga: Momen Hangat Ashanty dan Keluarga Hadiri Wisuda Sarah Menzel, Netizen: Calon Mertua Idaman
Perjalanan akademik Betran juga tidak lepas dari dukungan beasiswa. Sejak SMA, ia telah merasakan pendidikan berbasis afirmasi melalui sekolah berasrama unggulan di Sumatra Selatan tanpa biaya. Saat kuliah di UNY, ia kembali mendapat kepercayaan melalui KIP Kuliah, yang sangat membantu secara finansial sekaligus memberinya kebanggaan karena tidak membebani orang tua.
Adaptasi di awal perkuliahan menjadi fase terberat baginya. Datang ke Yogyakarta seorang diri tanpa keluarga dan kenalan sempat membuatnya merasa kesepian. Namun seiring waktu, dukungan dari teman-teman seperjuangan menjadi kekuatan yang menemaninya hingga menyelesaikan studi.
Bagi alumni SMA Negeri Sumatra Selatan ini, wisuda bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol keberhasilan dan pembuktian, terlebih karena Betran merupakan sarjana pertama di keluarganya. “Wisuda ini sangat berharga bagi saya dan keluarga. Ini membuktikan bahwa dengan niat dan tekad yang kuat, pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang mustahil,” ujarnya.
Ke depan, warga Kelurahan Duku, Kecamatan Ilir Timur Tiga, Kota Palembang itu bercita-cita berkarier di industri kreatif. Selama kuliah, ia aktif mengikuti program magang dan kegiatan sukarelawan untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Ia berharap ilmu yang dimilikinya kelak dapat memberi manfaat tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain.
Menutup kisahnya, Betran membagikan pesan inspiratif bagi sesama mahasiswa. “Duduk di bangku kuliah adalah sebuah privilese. Nikmati prosesnya, perbanyak teman, dan eksplor sebanyak mungkin pengalaman,” pesannya.
(nnz)
Lihat Juga :