Mendikdasmen Sebut 85 Persen Sekolah di Aceh-Sumatera Sudah Bisa Beroperasi
Selasa, 30 Desember 2025 - 19:31 WIB
loading...
Mendikdasmen, Abdul Muti menyebutkan, sebanyak 85 persen sekolah kawasan bencana Sumatera dan Aceh sudah bisa beroperasi. Foto/Ari Sandita.
A
A
A
JAKARTA - Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyebutkan sebanyak 85 persen sekolah yang ada di lokasi terdampak bencana di kawasan Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat sudah bisa beroperasi.
"Total keseluruhan sekolah yang sudah bisa beroperasi 85 persen," ujarnya di BNPB, Jakarta pada Selasa (30/12/2025).
Baca juga: Prabowo Percepat Kampung Haji dan Hunian Warga Terdampak Bencana Sumatera
Menurutnya, persiapan pembelajaran di 3 provinsi terdampak bencana itu dilakukan bersama Dinas Pendidikan di 3 Provinsi dan UPT Kemendikdasmendi Aceh, Sumut, dan Sumbar. Selain itu, Tim SPAB sudah ke lapangan sejak musibah terjadi dan terus bekerja sama dengan semua pihak, termasuk TNI-Polri, lembaga kemanusiaan hingga relawan, termasuk guru, murid dan masyarakat umum melalukan pendataan dan pembersihan sekolah.
"Dapat kami sampaikan sampai saat ini kami menyampaikan jumlah sekolah yang terdampak secara keseluruhan ada 4.149," tuturnya.
Baca juga: KSAD Sebut Penanganan Bencana Sumatera Lebih Cepat dari Bencana Lain
Dia menerangkan, dari 4.149 sekolah terdampak itu, sebanyak 2.756 sekolah ada di Aceh, sebanyak 443 sekolah di Sumatera Barat, dan sebanyak 950 sekolah di Sumatera Utara. Sekolah yang sudah bisa beroperasi di Aceh ada sebanyak 2.226 atau 81 persen, lalu di Sumbar 380 atau 86 persen, dan di Sumut ada 902 atau 95 persen sehingga total secara keseluruhan sekolah yang sudah bisa beroperasi di 3 provinsi terdampak bencana mencapai 85 persen.
"Masih ada 54 yang memang belum bisa kita gunakan karena kerusakan yang sangat serius bahkan sebagian sekolah memang sudah rusak total sehingga mereka harus belajar di tenda dan sudah kita siapkan 54 tenda, 14 di Aceh, 21 di Sumbar, dan 19 di Sumut," jelasnya.
"Kemudian yang masih di dalam proses pembersihan ada 516 di Aceh, 42 di Sumbar, dan 29 di Sumut. Total yang masih pembersihan ada 587. Masih proses pembersihan kami terus lakukan karena memang tingkat kerusakan dan dampak dari banjir itu sangat berat sehingga prosesnya membutuhkan waktu lebih lama dari sekolah lainnya," kata Abdul Mu'ti lagi
"Total keseluruhan sekolah yang sudah bisa beroperasi 85 persen," ujarnya di BNPB, Jakarta pada Selasa (30/12/2025).
Baca juga: Prabowo Percepat Kampung Haji dan Hunian Warga Terdampak Bencana Sumatera
Menurutnya, persiapan pembelajaran di 3 provinsi terdampak bencana itu dilakukan bersama Dinas Pendidikan di 3 Provinsi dan UPT Kemendikdasmendi Aceh, Sumut, dan Sumbar. Selain itu, Tim SPAB sudah ke lapangan sejak musibah terjadi dan terus bekerja sama dengan semua pihak, termasuk TNI-Polri, lembaga kemanusiaan hingga relawan, termasuk guru, murid dan masyarakat umum melalukan pendataan dan pembersihan sekolah.
"Dapat kami sampaikan sampai saat ini kami menyampaikan jumlah sekolah yang terdampak secara keseluruhan ada 4.149," tuturnya.
Baca juga: KSAD Sebut Penanganan Bencana Sumatera Lebih Cepat dari Bencana Lain
Dia menerangkan, dari 4.149 sekolah terdampak itu, sebanyak 2.756 sekolah ada di Aceh, sebanyak 443 sekolah di Sumatera Barat, dan sebanyak 950 sekolah di Sumatera Utara. Sekolah yang sudah bisa beroperasi di Aceh ada sebanyak 2.226 atau 81 persen, lalu di Sumbar 380 atau 86 persen, dan di Sumut ada 902 atau 95 persen sehingga total secara keseluruhan sekolah yang sudah bisa beroperasi di 3 provinsi terdampak bencana mencapai 85 persen.
"Masih ada 54 yang memang belum bisa kita gunakan karena kerusakan yang sangat serius bahkan sebagian sekolah memang sudah rusak total sehingga mereka harus belajar di tenda dan sudah kita siapkan 54 tenda, 14 di Aceh, 21 di Sumbar, dan 19 di Sumut," jelasnya.
"Kemudian yang masih di dalam proses pembersihan ada 516 di Aceh, 42 di Sumbar, dan 29 di Sumut. Total yang masih pembersihan ada 587. Masih proses pembersihan kami terus lakukan karena memang tingkat kerusakan dan dampak dari banjir itu sangat berat sehingga prosesnya membutuhkan waktu lebih lama dari sekolah lainnya," kata Abdul Mu'ti lagi
(nnz)
Lihat Juga :