Cegah Rabies Sejak Dini, Program Edukasi Interaktif Sentuh 85 Sekolah di Bali
Sabtu, 10 Januari 2026 - 19:02 WIB
loading...
PT Boehringer Ingelheim resmi menyelesaikan program SD4G 2025 – Stop Rabies Education yang dijalankan selama empat bulan bersama Bali Animal Welfare Association (BAWA). Foto/Ist.
A
A
A
JAKARTA - PT Boehringer Ingelheim resmi menyelesaikan program Sustainable Development for Generation (SD4G) 2025 – Stop Rabies Education yang dijalankan selama empat bulan bersama Bali Animal Welfare Association (BAWA).
Program yang berlangsung sejak Juli hingga November 2025 ini berhasil melampaui target awal 10.000 peserta dan telah menjangkau 12.356 siswa sekolah dasar di 85 sekolah di Tabanan dan Gianyar.
Menghadapi tingginya ancaman rabies di Bali—salah satu wilayah dengan tingkat kasus endemik paling tinggi—program ini diluncurkan untuk melindungi anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan terdampak.
Baca juga: Jadi Kasus Pertama, Anjing Laut Terkena Rabies Berperilaku Agresif
Menurut World Health Organization (WHO), anak-anak mencakup 40% dari seluruh korban rabies di dunia, dengan sebagian besar kasus terjadi di Wilayah Asia dan Afrika .
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali per 20 Juli 2025, terdapat 34.845 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) yang menyebabkan 12 kasus kematian.
Dengan menargetkan siswa sekolah dasar, pendekatan yang interaktif dan latihan langsung menjadi pilihan utama untuk menciptakan program yang menarik dan berkesan.
Para siswa yang berpartisipasi mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari pemberian materi dasar tentang kesejahteraan hewan dan penyakit rabies, mengisi buku panduan, melakukan role-play situasi nyata, kuis untuk memperkuat pemahaman, hingga permainan kelompok yang mendorong kerja sama dan penerapan materi.
Melalui kegiatan-kegiatan ini, para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan keterampilan untuk melindungi diri serta mencegah penyebaran rabies di lingkungan sekitar.
Argho Das, President Director Boehringer Ingelheim Indonesia, menyampaikan, “Rasanya sangat membanggakan dapat melihat program ini berdampak positif secara langsung. Rata-rata skor siswa yang mengikuti program ini meningkat dari 5 pada saat pre-test menjadi 8 pada saat post-test," katanya, melalui siaran pers, Jumat (9/1/2025).
Dia menjelaskan, para siswa sangat aktif dalam berpartisipasi di role-play, berinteraksi dengan booklet edukasi, dan bahkan membawa pulang poster untuk dipelajari lebih lanjut.
"Menyaksikan mereka lebih percaya diri, memahami cara menjaga keselamatan diri, serta membagikan pengetahuan ini kepada keluarga dan komunitas membuktikan bahwa pendidikan hari ini menciptakan masa depan yang lebih sehat dan aman. Inilah yang menjadi tujuan kami, untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan juga hewan," tambahnya.
Dalam pelaksanaan kampanye edukasi SD4G 2025 – Stop Rabies, Boehringer Ingelheim menggandeng BAWA berkat pengalaman panjang, jangkauan komunitas yang kuat, serta kemampuan organisasi dalam berinteraksi secara efektif dengan anak-anak.
Sejak 2017, BAWA telah memberikan edukasi kepada lebih dari 414.000 siswa di seluruh Bali melalui berbagai program terkait kesejahteraan hewan, mulai dari pengendalian rabies, sterilisasi, hingga kesiapsiagaan bencana.
Cynthia, Event, Fundraising, and Communication Coordinator BAWA, mengatakan, rabies masih menjadi ancaman serius, dan banyak anggota masyarakat belum sepenuhnya memahami bahayanya.
"Dengan populasi anjing liar lebih dari 500.000 ekor di Bali dan banyaknya anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan, sangat penting untuk terus mendorong perilaku aman melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), memperkuat keterlibatan masyarakat, serta mendukung upaya pemberantasan rabies yang berkelanjutan," ujarnya.
"BAWA juga berharap anak-anak di Bali dapat semakin memahami pencegahan rabies serta tumbuh dengan rasa sayang dan kepedulian terhadap hewan melalui program edukasi yang dilakukan BAWA bekerjasama dengan Boehringer Ingelheim Indonesia," pungkasnya.
Program yang berlangsung sejak Juli hingga November 2025 ini berhasil melampaui target awal 10.000 peserta dan telah menjangkau 12.356 siswa sekolah dasar di 85 sekolah di Tabanan dan Gianyar.
Menghadapi tingginya ancaman rabies di Bali—salah satu wilayah dengan tingkat kasus endemik paling tinggi—program ini diluncurkan untuk melindungi anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan terdampak.
Baca juga: Jadi Kasus Pertama, Anjing Laut Terkena Rabies Berperilaku Agresif
Menurut World Health Organization (WHO), anak-anak mencakup 40% dari seluruh korban rabies di dunia, dengan sebagian besar kasus terjadi di Wilayah Asia dan Afrika .
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali per 20 Juli 2025, terdapat 34.845 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) yang menyebabkan 12 kasus kematian.
Dengan menargetkan siswa sekolah dasar, pendekatan yang interaktif dan latihan langsung menjadi pilihan utama untuk menciptakan program yang menarik dan berkesan.
Para siswa yang berpartisipasi mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari pemberian materi dasar tentang kesejahteraan hewan dan penyakit rabies, mengisi buku panduan, melakukan role-play situasi nyata, kuis untuk memperkuat pemahaman, hingga permainan kelompok yang mendorong kerja sama dan penerapan materi.
Melalui kegiatan-kegiatan ini, para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan keterampilan untuk melindungi diri serta mencegah penyebaran rabies di lingkungan sekitar.
Argho Das, President Director Boehringer Ingelheim Indonesia, menyampaikan, “Rasanya sangat membanggakan dapat melihat program ini berdampak positif secara langsung. Rata-rata skor siswa yang mengikuti program ini meningkat dari 5 pada saat pre-test menjadi 8 pada saat post-test," katanya, melalui siaran pers, Jumat (9/1/2025).
Dia menjelaskan, para siswa sangat aktif dalam berpartisipasi di role-play, berinteraksi dengan booklet edukasi, dan bahkan membawa pulang poster untuk dipelajari lebih lanjut.
"Menyaksikan mereka lebih percaya diri, memahami cara menjaga keselamatan diri, serta membagikan pengetahuan ini kepada keluarga dan komunitas membuktikan bahwa pendidikan hari ini menciptakan masa depan yang lebih sehat dan aman. Inilah yang menjadi tujuan kami, untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan juga hewan," tambahnya.
Dalam pelaksanaan kampanye edukasi SD4G 2025 – Stop Rabies, Boehringer Ingelheim menggandeng BAWA berkat pengalaman panjang, jangkauan komunitas yang kuat, serta kemampuan organisasi dalam berinteraksi secara efektif dengan anak-anak.
Sejak 2017, BAWA telah memberikan edukasi kepada lebih dari 414.000 siswa di seluruh Bali melalui berbagai program terkait kesejahteraan hewan, mulai dari pengendalian rabies, sterilisasi, hingga kesiapsiagaan bencana.
Cynthia, Event, Fundraising, and Communication Coordinator BAWA, mengatakan, rabies masih menjadi ancaman serius, dan banyak anggota masyarakat belum sepenuhnya memahami bahayanya.
"Dengan populasi anjing liar lebih dari 500.000 ekor di Bali dan banyaknya anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan, sangat penting untuk terus mendorong perilaku aman melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), memperkuat keterlibatan masyarakat, serta mendukung upaya pemberantasan rabies yang berkelanjutan," ujarnya.
"BAWA juga berharap anak-anak di Bali dapat semakin memahami pencegahan rabies serta tumbuh dengan rasa sayang dan kepedulian terhadap hewan melalui program edukasi yang dilakukan BAWA bekerjasama dengan Boehringer Ingelheim Indonesia," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :