Cerita Tria Sofie Lulus S2 di Usia 22 Tahun, Jadi Magister Termuda Fakultas Geografi UGM
Minggu, 25 Januari 2026 - 10:14 WIB
loading...
Tria Sofie dinobatkan sebagai lulusan S2 termuda Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Tria Sofie mencatatkan prestasi akademik membanggakan setelah resmi menyelesaikan pendidikan magister dan dinobatkan sebagai lulusan S2 termuda Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) . Ia mengikuti upacara wisuda program pascasarjana yang digelar di Grha Sabha Pramana, Rabu (21/1/2026).
Perempuan asal Blora, Jawa Tengah, itu menuntaskan studi magisternya pada usia 22 tahun 6 bulan melalui skema fast track. Capaian tersebut terbilang istimewa mengingat rata-rata usia lulusan Program Magister pada periode yang sama mencapai 29 tahun 6 bulan 15 hari.
Baca juga: Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun, Dea Angelia Jadi Lulusan Termuda UGM Bidang AI
“Sebenarnya sejak awal saya memang sudah merencanakan setelah lulus S1 langsung lanjut S2. Tapi tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda,” ujar Sofie, dikutip dari laman UGM, Minggu (25/1/2026)
Anak bungsu dari tiga bersaudara itu mulai menempuh pendidikan sarjana di UGM pada 2020. Sejak masa awal kuliah S1, ia telah memantapkan tekad untuk melanjutkan studi ke jenjang magister.
Kesempatan tersebut terbuka ketika Fakultas Geografi UGM menggelar sosialisasi program fast track pada semester enam. “Saat itu ada sosialisasi fast track, dan saya merasa program ini memang sesuai dengan tujuan saya. Maka peluang tersebut saya manfaatkan,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Farras Ulinnuha, Wisudawan S1 Kedokteran UGM yang Lulus di Usia 19 Tahun
Meski demikian, perjalanan akademik Sofie tidak lepas dari tantangan. Program fast track di Fakultas Geografi mensyaratkan masa studi magister selama satu setengah tahun serta kewajiban menghasilkan publikasi ilmiah yang terindeks Scopus.
Tantangan terberat yang ia hadapi adalah mengatur waktu antara penyusunan skripsi S1, perkuliahan S2, penulisan tesis, hingga penyusunan manuskrip publikasi yang berlangsung hampir bersamaan.
Baca juga: Pendaftaran CPNS Kemenkes 2026 Resmi Dibuka? Begini Penjelasan Kepala BKN
“Rasanya seperti menumpuk. Di semester delapan S1 sudah mulai skripsi, tapi bersamaan dengan itu saya juga menjalani semester pertama S2 dengan berbagai tugas. Jadi harus benar-benar pandai mengatur waktu,” tuturnya.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, Sofie memilih menyelesaikan target akademik secara bertahap. Ia memprioritaskan penyusunan skripsi sebagai dasar sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya. “Saya kerjakan satu per satu. Saat itu fokus utama saya selesaikan skripsi dulu karena itu menjadi langkah awal,” jelasnya.
Di balik keberhasilan akademiknya, Sofie juga mengakui adanya konsekuensi personal yang harus dijalani, salah satunya mengorbankan waktu bersama teman.
“Ada fase di mana saya hampir tidak bertemu teman sama sekali. Fokus sepenuhnya pada diri sendiri dan apa yang sedang dikerjakan. Menurut saya, memang ada hal yang harus dikorbankan,” katanya.
Beruntung, dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama baginya. Orang tua Sofie disebut sangat mendukung keputusannya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. “Saya sangat bersyukur karena keluarga, terutama orang tua, sangat mendukung,” ucapnya.
Dari sekitar 11 mahasiswa fast track di angkatannya, Sofie tercatat sebagai peserta termuda. Namun, ia menegaskan bahwa pencapaiannya bukan semata-mata soal kecerdasan akademik.
Dengan IPK 3,78, Sofie menekankan pentingnya sikap bertanggung jawab dan kegigihan dalam menjalani proses. “Saya tidak merasa sebagai orang yang sangat pintar. Tapi saya bertanggung jawab dengan apa yang saya mulai dan gigih menjalaninya,” ujarnya.
Kepada mahasiswa yang berminat mengikuti program fast track, Sofie berpesan agar mempertimbangkan arah karier di masa depan. “Program fast track ini sangat berorientasi pada riset. Jadi perlu dipikirkan dulu ingin berkarier ke mana. Jika tujuannya ke akademik, dosen, atau pengajar, program ini cukup worth it,” jelasnya.
Ia menutup dengan pesan motivasi bagi generasi muda agar tidak ragu mengejar pendidikan dan cita-cita. “Kalau ingin lanjut sekolah atau mengejar apa pun, kita tidak harus merasa paling pintar. Yang penting bertanggung jawab dan mau berjuang,” pungkas Sofie.
Perempuan asal Blora, Jawa Tengah, itu menuntaskan studi magisternya pada usia 22 tahun 6 bulan melalui skema fast track. Capaian tersebut terbilang istimewa mengingat rata-rata usia lulusan Program Magister pada periode yang sama mencapai 29 tahun 6 bulan 15 hari.
Baca juga: Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun, Dea Angelia Jadi Lulusan Termuda UGM Bidang AI
“Sebenarnya sejak awal saya memang sudah merencanakan setelah lulus S1 langsung lanjut S2. Tapi tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda,” ujar Sofie, dikutip dari laman UGM, Minggu (25/1/2026)
Anak bungsu dari tiga bersaudara itu mulai menempuh pendidikan sarjana di UGM pada 2020. Sejak masa awal kuliah S1, ia telah memantapkan tekad untuk melanjutkan studi ke jenjang magister.
Kesempatan tersebut terbuka ketika Fakultas Geografi UGM menggelar sosialisasi program fast track pada semester enam. “Saat itu ada sosialisasi fast track, dan saya merasa program ini memang sesuai dengan tujuan saya. Maka peluang tersebut saya manfaatkan,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Farras Ulinnuha, Wisudawan S1 Kedokteran UGM yang Lulus di Usia 19 Tahun
Meski demikian, perjalanan akademik Sofie tidak lepas dari tantangan. Program fast track di Fakultas Geografi mensyaratkan masa studi magister selama satu setengah tahun serta kewajiban menghasilkan publikasi ilmiah yang terindeks Scopus.
Tantangan terberat yang ia hadapi adalah mengatur waktu antara penyusunan skripsi S1, perkuliahan S2, penulisan tesis, hingga penyusunan manuskrip publikasi yang berlangsung hampir bersamaan.
Baca juga: Pendaftaran CPNS Kemenkes 2026 Resmi Dibuka? Begini Penjelasan Kepala BKN
“Rasanya seperti menumpuk. Di semester delapan S1 sudah mulai skripsi, tapi bersamaan dengan itu saya juga menjalani semester pertama S2 dengan berbagai tugas. Jadi harus benar-benar pandai mengatur waktu,” tuturnya.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, Sofie memilih menyelesaikan target akademik secara bertahap. Ia memprioritaskan penyusunan skripsi sebagai dasar sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya. “Saya kerjakan satu per satu. Saat itu fokus utama saya selesaikan skripsi dulu karena itu menjadi langkah awal,” jelasnya.
Di balik keberhasilan akademiknya, Sofie juga mengakui adanya konsekuensi personal yang harus dijalani, salah satunya mengorbankan waktu bersama teman.
“Ada fase di mana saya hampir tidak bertemu teman sama sekali. Fokus sepenuhnya pada diri sendiri dan apa yang sedang dikerjakan. Menurut saya, memang ada hal yang harus dikorbankan,” katanya.
Beruntung, dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama baginya. Orang tua Sofie disebut sangat mendukung keputusannya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. “Saya sangat bersyukur karena keluarga, terutama orang tua, sangat mendukung,” ucapnya.
Dari sekitar 11 mahasiswa fast track di angkatannya, Sofie tercatat sebagai peserta termuda. Namun, ia menegaskan bahwa pencapaiannya bukan semata-mata soal kecerdasan akademik.
Dengan IPK 3,78, Sofie menekankan pentingnya sikap bertanggung jawab dan kegigihan dalam menjalani proses. “Saya tidak merasa sebagai orang yang sangat pintar. Tapi saya bertanggung jawab dengan apa yang saya mulai dan gigih menjalaninya,” ujarnya.
Kepada mahasiswa yang berminat mengikuti program fast track, Sofie berpesan agar mempertimbangkan arah karier di masa depan. “Program fast track ini sangat berorientasi pada riset. Jadi perlu dipikirkan dulu ingin berkarier ke mana. Jika tujuannya ke akademik, dosen, atau pengajar, program ini cukup worth it,” jelasnya.
Ia menutup dengan pesan motivasi bagi generasi muda agar tidak ragu mengejar pendidikan dan cita-cita. “Kalau ingin lanjut sekolah atau mengejar apa pun, kita tidak harus merasa paling pintar. Yang penting bertanggung jawab dan mau berjuang,” pungkas Sofie.
(nnz)
Lihat Juga :