Peneliti IPB Ungkap Kekayaan Alam Indonesia Ini 95 Persen Masih Menjadi Misteri

Rabu, 28 Januari 2026 - 07:00 WIB
loading...
Peneliti IPB Ungkap...
Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof Antonius Suwanto. Foto/IPB.
A A A
JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata.

Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University , Prof Antonius Suwanto menegaskan bahwa mikroba merupakan bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia yang selama ini belum banyak dieksplorasi.

“Sekitar 95 persen dunia mikroorganisme itu masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya, melalui siaran pers, dikutip Rabu (28/1/2026)

Baca juga: Dosen IPB University Tegaskan Superflu Bukan Penyakit Baru, Ini Penjelasan Lengkapnya

Prof Antonius menjelaskan, manusia baru mengenal mikroorganisme sejak ditemukannya mikroskop sekitar 300 tahun lalu oleh Antonie van Leeuwenhoek. Penemuan tersebut menjadi tonggak revolusi ilmu pengetahuan karena membuka pemahaman tentang keberadaan makhluk hidup renik yang sebelumnya tak terlihat.

“Dengan ditemukannya mikroorganisme, kemudian berkembanglah ilmu genetika hingga penemuan DNA,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan sejarah penemuan mikroskop dengan kekayaan rempah Nusantara pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kekayaan tersebut secara tidak langsung mendukung kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa.

Baca juga: Berapa Kebutuhan Serat Harian Orang Dewasa? Guru Besar IPB Ungkap Angka Idealnya

“Kesejahteraan yang diperoleh Belanda dari rempah Nusantara memungkinkan lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk mikroskop,” katanya.

Menurut Prof Antonius, Indonesia memiliki potensi mikroba yang sangat besar karena keragaman geografis dan hayatinya. Mikroorganisme dapat ditemukan hampir di semua habitat, mulai dari tanah pertanian, laut, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas. “Bakteri dan fungi itu sudah ada jauh sebelum manusia dan menghuni hampir semua tempat,” ujarnya.

Ia mencontohkan, mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem atau ekstremofil dapat dimanfaatkan sebagai sumber enzim tahan panas. Enzim tersebut banyak digunakan dalam industri, termasuk detergen dan teknologi polymerase chain reaction (PCR).

“Enzim untuk PCR yang banyak digunakan, termasuk saat pandemi COVID-19, berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas,” jelasnya.

Meski penelitian mikroba di Indonesia mulai berkembang, Prof Antonius menilai pemanfaatannya masih didominasi skala laboratorium. Penelitian lanjutan hingga ke tingkat industri masih perlu didorong. “Sayang sekali kalau potensinya besar tetapi berhenti di laboratorium. Ini perlu strategi riset yang kuat,” katanya.

Ia menekankan bahwa pemanfaatan mikroba dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Mikroorganisme dapat diambil DNA-nya atau dikembangkan dalam jumlah sangat kecil di laboratorium. Selain itu, mikroba juga berperan penting dalam kesehatan manusia, hewan, dan tanaman melalui ekosistem mikrobioma.

Prof Antonius juga menyoroti peluang riset mikroba untuk menjawab tantangan lingkungan, seperti bakteri pengurai plastik. “Bakteri tertentu bisa diisolasi dan dimanfaatkan untuk menguraikan plastik secara lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengapa Kunang-Kunang...
Mengapa Kunang-Kunang Semakin Sulit Ditemukan? Pakar IPB Ungkap Penyebabnya
Peneliti UNEJ Ungkap...
Peneliti UNEJ Ungkap Keunikan Puyuh Gonggong, Fauna Endemik Jember yang Rentan Punah
Bukan Hanya Umur, Pakar...
Bukan Hanya Umur, Pakar IPB Sebut 6 Aspek Kesiapan Anak Sebelum Masuk SD
IPB University dan Pesantren...
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
SNI Bukan Sekadar Regulasi,...
SNI Bukan Sekadar Regulasi, Mahasiswa IPB Diajak Memahami Budaya Mutu di Industri Pangan
Peneliti Universitas...
Peneliti Universitas Jember Buktikan Tanaman Liar Kalimantan Efektif Turunkan Gula Darah
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
Kekayaan RI Keluar Sebabkan...
Kekayaan RI Keluar Sebabkan Rupiah Melemah, Prabowo Analogikan seperti Tubuh Kehabisan Darah
Paradoks Tata Kelola...
Paradoks Tata Kelola Batu Bara di Indonesia
Rekomendasi
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Mencicipi Lima Abad...
Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
Berita Terkini
Guru Bisa Dapat Bantuan...
Guru Bisa Dapat Bantuan Pendidikan S1/D4, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Beasiswa LPDP Tahap...
Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Dibuka Hari Ini, Intip Perubahan Kebijakannya
Cara Mudah Cek Kelulusan...
Cara Mudah Cek Kelulusan UM PTKIN 2026 yang Diumumkan Sore Ini
Cerita Leni, Anak Buruh...
Cerita Leni, Anak Buruh Tani yang Lolos Akuntansi UGM Lewat SNBP dan Kuliah Gratis
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Diumumkan Besok, Ini...
Diumumkan Besok, Ini Link Resmi Hasil Seleksi SMMPTN-Barat 2026
Infografis
Ini Kekayaan Laut Natuna...
Ini Kekayaan Laut Natuna Milik Indonesia yang Diklaim China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved