Bahaya Whip Pink: Dokter IPB Ungkap Risiko Kerusakan Saraf hingga Kematian
Senin, 02 Februari 2026 - 13:18 WIB
loading...
Dokter IPB University mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bahaya penyalahgunaan Whip Pink. Foto/X.
A
A
A
JAKARTA - Whip Pink yang lebih dulu dikenal di dunia kuliner ternyata banyak disalahgunakan hingga mengancam kesehatan. Dari awalnya alat kuliner kini menjadi tren mendapatkan efek euforia sesaat.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University , dr Agil Wahyu Wicaksono mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bahaya penyalahgunaan Whip Pink atau whippets, produk yang mengandung gas nitrous oxide (N2O).
Gas ini dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan jika digunakan di luar fungsi aslinya, bahkan berpotensi menyebabkan kematian.
Whip Pink merupakan tabung kecil berisi gas N2O bertekanan tinggi yang umumnya digunakan sebagai pendorong krim dalam wadah whipped cream. Selain di bidang kuliner, nitrous oxide juga dimanfaatkan dalam dunia medis sebagai anestesi untuk membantu mengurangi rasa nyeri pada prosedur tertentu, seperti tindakan invasif, persalinan, atau sebagai pendamping anestesi umum.
Namun, dr Agil menegaskan bahwa penggunaan N2O secara berlebihan atau tidak sesuai peruntukan dapat membahayakan tubuh. Ia menjelaskan, gas tersebut dapat merusak fungsi vitamin B12, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem saraf.
Baca juga: Jangan Gunakan Whip Pink Sembarangan! Bahaya Hipoksia Mengintai
Akibat terganggunya vitamin B12, tubuh tidak mampu menjalankan proses vital untuk melindungi saraf. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada mielin, lapisan pelindung saraf, baik pada sistem saraf pusat maupun saraf tepi.
“Kerusakan tersebut bisa menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari kesemutan, kelemahan otot, gangguan keseimbangan, hingga kerusakan saraf akibat terganggunya aliran darah,” jelasnya, melalui siaran pers, Senin (2/2/2026).
Berdasarkan sejumlah laporan ilmiah, penyalahgunaan N2O paling sering menyebabkan gangguan pada sumsum tulang belakang, khususnya bagian yang berperan dalam fungsi rasa dan keseimbangan tubuh. Semakin sering gas ini digunakan secara tidak wajar, semakin tinggi pula risiko terjadinya kerusakan saraf permanen.
Selain berdampak pada saraf, nitrous oxide juga memengaruhi sistem pembuluh darah. dr Agil menerangkan, gas ini dapat membuat otot pembuluh darah menjadi lebih rileks sehingga terjadi pelebaran pembuluh darah.
“Jika terjadi secara berlebihan, kondisi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis yang memicu sakit kepala hebat, pusing, hingga tubuh terasa sangat lemas,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa N2O dapat bereaksi dengan zat lain di dalam tubuh dan membentuk senyawa yang sangat reaktif serta berbahaya. Senyawa tersebut berpotensi merusak sel, memicu peradangan, hingga menyebabkan kematian sel.
Tak hanya itu, gas ini juga dapat menghambat fungsi mitokondria sebagai penghasil energi sel. Akibatnya, produksi energi menurun dan sel-sel tubuh, terutama sel saraf, berisiko mengalami kerusakan hingga kematian.
Dampak lainnya, nitrous oxide dapat mengubah struktur hemoglobin sehingga kemampuannya mengikat oksigen menurun. Kondisi ini bisa menyebabkan kulit tampak kebiruan dan jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen.
Diamenambahkan, Whip Pink kerap disalahgunakan sebagai zat hiburan karena efek euforia dan halusinasi yang ditimbulkan, sehingga dikenal sebagai “gas tawa”. Padahal, menghirup N2O tanpa pengawasan medis sangat berbahaya dan dapat berujung pada kematian, terutama jika digunakan dalam jumlah besar atau secara berulang. Dalam beberapa kasus, penggunaan jangka panjang juga dapat memicu ketergantungan.
Ia pun mengimbau masyarakat agar menggunakan Whip Pink sesuai peruntukannya. “Whip Pink seharusnya hanya digunakan dalam dunia kuliner. Jangan menjadikannya sebagai anestesi mandiri tanpa anjuran dan pengawasan dokter. Penggunaan N2O untuk kepentingan medis hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis profesional,” tegasnya.
Selain itu, dr Agil juga mengingatkan agar penggunaan Whip Pink di dapur tidak dilakukan di dekat benda mudah terbakar serta memastikan sirkulasi udara yang baik agar tubuh tetap memperoleh oksigen yang cukup.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University , dr Agil Wahyu Wicaksono mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bahaya penyalahgunaan Whip Pink atau whippets, produk yang mengandung gas nitrous oxide (N2O).
Gas ini dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan jika digunakan di luar fungsi aslinya, bahkan berpotensi menyebabkan kematian.
Whip Pink merupakan tabung kecil berisi gas N2O bertekanan tinggi yang umumnya digunakan sebagai pendorong krim dalam wadah whipped cream. Selain di bidang kuliner, nitrous oxide juga dimanfaatkan dalam dunia medis sebagai anestesi untuk membantu mengurangi rasa nyeri pada prosedur tertentu, seperti tindakan invasif, persalinan, atau sebagai pendamping anestesi umum.
Namun, dr Agil menegaskan bahwa penggunaan N2O secara berlebihan atau tidak sesuai peruntukan dapat membahayakan tubuh. Ia menjelaskan, gas tersebut dapat merusak fungsi vitamin B12, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem saraf.
Baca juga: Jangan Gunakan Whip Pink Sembarangan! Bahaya Hipoksia Mengintai
Akibat terganggunya vitamin B12, tubuh tidak mampu menjalankan proses vital untuk melindungi saraf. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada mielin, lapisan pelindung saraf, baik pada sistem saraf pusat maupun saraf tepi.
“Kerusakan tersebut bisa menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari kesemutan, kelemahan otot, gangguan keseimbangan, hingga kerusakan saraf akibat terganggunya aliran darah,” jelasnya, melalui siaran pers, Senin (2/2/2026).
Berdasarkan sejumlah laporan ilmiah, penyalahgunaan N2O paling sering menyebabkan gangguan pada sumsum tulang belakang, khususnya bagian yang berperan dalam fungsi rasa dan keseimbangan tubuh. Semakin sering gas ini digunakan secara tidak wajar, semakin tinggi pula risiko terjadinya kerusakan saraf permanen.
Selain berdampak pada saraf, nitrous oxide juga memengaruhi sistem pembuluh darah. dr Agil menerangkan, gas ini dapat membuat otot pembuluh darah menjadi lebih rileks sehingga terjadi pelebaran pembuluh darah.
“Jika terjadi secara berlebihan, kondisi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis yang memicu sakit kepala hebat, pusing, hingga tubuh terasa sangat lemas,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa N2O dapat bereaksi dengan zat lain di dalam tubuh dan membentuk senyawa yang sangat reaktif serta berbahaya. Senyawa tersebut berpotensi merusak sel, memicu peradangan, hingga menyebabkan kematian sel.
Tak hanya itu, gas ini juga dapat menghambat fungsi mitokondria sebagai penghasil energi sel. Akibatnya, produksi energi menurun dan sel-sel tubuh, terutama sel saraf, berisiko mengalami kerusakan hingga kematian.
Dampak lainnya, nitrous oxide dapat mengubah struktur hemoglobin sehingga kemampuannya mengikat oksigen menurun. Kondisi ini bisa menyebabkan kulit tampak kebiruan dan jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen.
Diamenambahkan, Whip Pink kerap disalahgunakan sebagai zat hiburan karena efek euforia dan halusinasi yang ditimbulkan, sehingga dikenal sebagai “gas tawa”. Padahal, menghirup N2O tanpa pengawasan medis sangat berbahaya dan dapat berujung pada kematian, terutama jika digunakan dalam jumlah besar atau secara berulang. Dalam beberapa kasus, penggunaan jangka panjang juga dapat memicu ketergantungan.
Ia pun mengimbau masyarakat agar menggunakan Whip Pink sesuai peruntukannya. “Whip Pink seharusnya hanya digunakan dalam dunia kuliner. Jangan menjadikannya sebagai anestesi mandiri tanpa anjuran dan pengawasan dokter. Penggunaan N2O untuk kepentingan medis hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis profesional,” tegasnya.
Selain itu, dr Agil juga mengingatkan agar penggunaan Whip Pink di dapur tidak dilakukan di dekat benda mudah terbakar serta memastikan sirkulasi udara yang baik agar tubuh tetap memperoleh oksigen yang cukup.
(nnz)
Lihat Juga :