Kisah Zhafif, Siswa Kharisma Bangsa Peraih Emas OSN Astronomi dan Bercita Jadi Peneliti
Senin, 09 Maret 2026 - 15:59 WIB
loading...
Muhammad Zhafif, siswa kelas 11 SMA Kharisma Bangsa. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Ketertarikan terhadap langit dan bintang ternyata bisa dimulai sejak usia sangat dini. Hal itulah yang dialami Muhammad Zhafif, siswa kelas 11 SMA Kharisma Bangsa, yang berhasil meraih medali emas bidang Astronomi pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025.
Bagi Zhafif, astronomi bukan sekadar pelajaran atau bidang lomba. Minatnya pada dunia luar angkasa sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Baca juga: 300 Siswa Siap Rebut Juara di Olimpiade Sains Nasional 2025
“Pada saat saya masih TK, saya sudah hafal banyak bintang. Saya juga sudah hafal nama-nama planet di tata surya, asteroid, satelit, sampai berbagai misi luar angkasa,” ujarnya.
Tak hanya sekadar mengenal nama, Zhafif bahkan tertarik mempelajari detail berbagai objek langit. Ia mengaku sejak kecil sudah senang mempelajari ukuran, suhu, hingga warna dari bintang, planet, dan galaksi.
Ketertarikan itu terus berkembang seiring waktu. Ia juga rajin mengikuti perkembangan berbagai fenomena astronomi yang terjadi di alam semesta.
Baca juga: Jadwal Pendaftaran OSN SMA 2026 Lengkap dengan Link Resmi, Catat Tahapannya
“Dari kecil saya selalu update tentang fenomena-fenomena astronomi. Itu menjadi interest pertama saya terhadap dunia astronomi sejak TK dan SD,” katanya.
Melihat minat tersebut, orangtua Zhafif kemudian mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi sains. Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan akademiknya.
Ayah Zhafif berlatar belakang fisika, sementara ibunya berasal dari bidang biologi. Lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia sains membuatnya semakin termotivasi untuk mendalami bidang tersebut.
“Karena itu orangtua saya berinisiatif mendaftarkan saya ke olimpiade. Saya mulai mengikuti OSN sejak kelas 4 SD,” jelasnya.
Perjalanan Zhafif di dunia olimpiade sains pun cukup panjang. Sejak SD hingga SMA, ia sudah lima kali mengikuti OSN di tingkat nasional.
Saat masih di bangku sekolah dasar, ia pernah meraih Honorable Mention bidang IPA. Konsistensinya dalam belajar akhirnya membuahkan hasil ketika di tingkat SMA ia berhasil membawa pulang medali emas OSN bidang astronomi.
Menurut Zhafif, astronomi merupakan bidang yang menuntut pemahaman fisika yang kuat. Selain itu, kemampuan analisis dan logika juga sangat diperlukan untuk menyelesaikan berbagai soal yang kompleks.
Dalam kompetisi OSN astronomi tingkat nasional, peserta harus melalui tiga sesi utama, yaitu teori, analisis data, dan observasi.
Pada sesi teori, peserta dihadapkan pada tujuh hingga delapan soal yang menguji kemampuan logika dan pemahaman konsep astrofisika. Materi yang diujikan cukup luas, mulai dari kosmologi, fisika bintang, hingga proses termonuklir di dalam bintang.
Selain itu, ada juga sesi analisis data. Dalam sesi ini peserta diberikan kumpulan data astronomi, misalnya data supernova, untuk dianalisis.
Dari data tersebut peserta harus menarik kesimpulan, seperti menghitung kecepatan pengembangan alam semesta atau memahami fenomena kosmologi lainnya.
Sesi terakhir adalah observasi yang terdiri dari beberapa bagian, seperti planetarium dan penggunaan teleskop.
“Di planetarium kami hanya punya waktu sekitar dua menit untuk menjawab soal, jadi harus benar-benar hafal posisi rasi bintang dan koordinat langit,” jelasnya.
Pada sesi teleskop, peserta juga harus mampu mengarahkan teleskop berdasarkan koordinat tertentu serta melakukan perhitungan trigonometrik dalam waktu singkat.
Keberhasilan meraih medali emas tentu menjadi momen yang sangat berkesan bagi Zhafif. Ia mengaku bersyukur karena bisa memenuhi harapan banyak orang yang percaya pada kemampuannya.
“Alhamdulillah bisa mendapatkan medali emas. Saat ini saya juga lolos ke pelatnas tingkat internasional,” ungkapnya.
Ke depan, Zhafif memiliki mimpi besar. Ia berharap bisa melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas terbaik di dunia.
“Insyaallah saya bermimpi bisa kuliah di MIT,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, ia juga bersiap mengikuti kompetisi astronomi internasional yang akan digelar di Vietnam. Ajang tersebut diharapkan menjadi langkah berikutnya dalam perjalanan akademiknya di dunia astronomi.
Di masa depan, Zhafif ingin mendedikasikan dirinya pada bidang pendidikan dan penelitian.
“Mungkin saya ingin menjadi tutor atau dosen astronomi dan melakukan penelitian di berbagai observatorium,” katanya.
Kepala Sekolah SMA Kharisma Bangsa, Muhammad Budiawan, mengatakan berbagai prestasi yang diraih para siswa menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah.
Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya menunjukkan keunggulan akademik siswa, tetapi juga membentuk karakter dan pengalaman berharga bagi mereka.
“Prestasi ini bukan hanya membangun kemampuan akademis, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual serta membina karakter peserta didik,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai prestasi siswa juga merupakan bentuk kontribusi nyata sekolah dalam mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia.
Selain Zhafif yang meraih emas di bidang astronomi pada OSN 2025, beberapa siswa lain juga menorehkan prestasi. Di antaranya Daffa Atha Arkana yang meraih perak bidang matematika, Mahendra Syaiful Hakim perak bidang biologi, Ahmad Yazid Muhandis perunggu bidang informatika, serta Muhammad Daffarian Altair honorable mention bidang informatika.
Secara keseluruhan, tercatat 45 finalis dan 20 peraih medali dari berbagai ajang seperti OSN 2025, Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2026, dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (OSEBI) 2026.
Bagi Zhafif, astronomi bukan sekadar pelajaran atau bidang lomba. Minatnya pada dunia luar angkasa sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Baca juga: 300 Siswa Siap Rebut Juara di Olimpiade Sains Nasional 2025
“Pada saat saya masih TK, saya sudah hafal banyak bintang. Saya juga sudah hafal nama-nama planet di tata surya, asteroid, satelit, sampai berbagai misi luar angkasa,” ujarnya.
Tak hanya sekadar mengenal nama, Zhafif bahkan tertarik mempelajari detail berbagai objek langit. Ia mengaku sejak kecil sudah senang mempelajari ukuran, suhu, hingga warna dari bintang, planet, dan galaksi.
Ketertarikan itu terus berkembang seiring waktu. Ia juga rajin mengikuti perkembangan berbagai fenomena astronomi yang terjadi di alam semesta.
Baca juga: Jadwal Pendaftaran OSN SMA 2026 Lengkap dengan Link Resmi, Catat Tahapannya
“Dari kecil saya selalu update tentang fenomena-fenomena astronomi. Itu menjadi interest pertama saya terhadap dunia astronomi sejak TK dan SD,” katanya.
Melihat minat tersebut, orangtua Zhafif kemudian mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi sains. Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan akademiknya.
Ayah Zhafif berlatar belakang fisika, sementara ibunya berasal dari bidang biologi. Lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia sains membuatnya semakin termotivasi untuk mendalami bidang tersebut.
“Karena itu orangtua saya berinisiatif mendaftarkan saya ke olimpiade. Saya mulai mengikuti OSN sejak kelas 4 SD,” jelasnya.
Perjalanan Zhafif di dunia olimpiade sains pun cukup panjang. Sejak SD hingga SMA, ia sudah lima kali mengikuti OSN di tingkat nasional.
Saat masih di bangku sekolah dasar, ia pernah meraih Honorable Mention bidang IPA. Konsistensinya dalam belajar akhirnya membuahkan hasil ketika di tingkat SMA ia berhasil membawa pulang medali emas OSN bidang astronomi.
Menurut Zhafif, astronomi merupakan bidang yang menuntut pemahaman fisika yang kuat. Selain itu, kemampuan analisis dan logika juga sangat diperlukan untuk menyelesaikan berbagai soal yang kompleks.
Dalam kompetisi OSN astronomi tingkat nasional, peserta harus melalui tiga sesi utama, yaitu teori, analisis data, dan observasi.
Pada sesi teori, peserta dihadapkan pada tujuh hingga delapan soal yang menguji kemampuan logika dan pemahaman konsep astrofisika. Materi yang diujikan cukup luas, mulai dari kosmologi, fisika bintang, hingga proses termonuklir di dalam bintang.
Selain itu, ada juga sesi analisis data. Dalam sesi ini peserta diberikan kumpulan data astronomi, misalnya data supernova, untuk dianalisis.
Dari data tersebut peserta harus menarik kesimpulan, seperti menghitung kecepatan pengembangan alam semesta atau memahami fenomena kosmologi lainnya.
Sesi terakhir adalah observasi yang terdiri dari beberapa bagian, seperti planetarium dan penggunaan teleskop.
“Di planetarium kami hanya punya waktu sekitar dua menit untuk menjawab soal, jadi harus benar-benar hafal posisi rasi bintang dan koordinat langit,” jelasnya.
Pada sesi teleskop, peserta juga harus mampu mengarahkan teleskop berdasarkan koordinat tertentu serta melakukan perhitungan trigonometrik dalam waktu singkat.
Keberhasilan meraih medali emas tentu menjadi momen yang sangat berkesan bagi Zhafif. Ia mengaku bersyukur karena bisa memenuhi harapan banyak orang yang percaya pada kemampuannya.
“Alhamdulillah bisa mendapatkan medali emas. Saat ini saya juga lolos ke pelatnas tingkat internasional,” ungkapnya.
Ke depan, Zhafif memiliki mimpi besar. Ia berharap bisa melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas terbaik di dunia.
“Insyaallah saya bermimpi bisa kuliah di MIT,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, ia juga bersiap mengikuti kompetisi astronomi internasional yang akan digelar di Vietnam. Ajang tersebut diharapkan menjadi langkah berikutnya dalam perjalanan akademiknya di dunia astronomi.
Di masa depan, Zhafif ingin mendedikasikan dirinya pada bidang pendidikan dan penelitian.
“Mungkin saya ingin menjadi tutor atau dosen astronomi dan melakukan penelitian di berbagai observatorium,” katanya.
Kepala Sekolah SMA Kharisma Bangsa, Muhammad Budiawan, mengatakan berbagai prestasi yang diraih para siswa menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah.
Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya menunjukkan keunggulan akademik siswa, tetapi juga membentuk karakter dan pengalaman berharga bagi mereka.
“Prestasi ini bukan hanya membangun kemampuan akademis, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual serta membina karakter peserta didik,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai prestasi siswa juga merupakan bentuk kontribusi nyata sekolah dalam mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia.
Selain Zhafif yang meraih emas di bidang astronomi pada OSN 2025, beberapa siswa lain juga menorehkan prestasi. Di antaranya Daffa Atha Arkana yang meraih perak bidang matematika, Mahendra Syaiful Hakim perak bidang biologi, Ahmad Yazid Muhandis perunggu bidang informatika, serta Muhammad Daffarian Altair honorable mention bidang informatika.
Secara keseluruhan, tercatat 45 finalis dan 20 peraih medali dari berbagai ajang seperti OSN 2025, Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2026, dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (OSEBI) 2026.
(nnz)
Lihat Juga :