123 Siswa Penabur Jakarta Berbagi Ilmu untuk Warga Buta Aksara di Banyuwangi
Selasa, 10 Maret 2026 - 11:38 WIB
loading...
123 siswa dari 14 SLTAK PENABUR Jakarta berbagi pengetahuan di Banyuwangi. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Memiliki tekad untuk berbagi pengetahuan kepada para orang tua buta aksara di Kampoeng Batara Papring, Banyuwangi, sebanyak 123 siswa dari 14 SLTAK PENABUR Jakarta yang tergabung dalam program “Spirit of Challenge” BPK PENABUR Jakarta berangkat dari Jakarta menuju Banyuwangi.
Mereka menempuh perjalanan sejauh sekitar seribu kilometer demi menjalankan misi sosial tersebut.
Baca juga: Kisah Perempuan Arab Saudi, Kembali ke Sekolah di Usia 110 Tahun
Setibanya di Kampoeng Batara, para siswa dibagi ke dalam beberapa tim untuk mengajar langsung di rumah-rumah warga. Mereka tampak antusias berbagi ilmu kepada para orang tua yang belum bisa membaca dan menulis. Ada yang mengajarkan baca, tulis, hitung (calistung) dalam bahasa Indonesia, sementara yang lain mengajarkan kosakata bahasa Inggris secara sederhana.
“Saya mengikuti kegiatan ini karena menantikan momen mengajar para orang tua buta aksara di Kampoeng Batara. Sebelumnya, saya juga memiliki pengalaman mengajar orang lain mulai dari anak-anak sampai orang tua,” ujar Ivana Chrestella Haryanto, siswa SMAK 2 PENABUR, melalui siaran pers, Selasa (10/3/2026).
Menjadi satu-satunya siswa dari SMAK 2 PENABUR yang mengikuti rangkaian program “Spirit of Challenge” yang berlangsung pada 2–7 Maret 2026 tidak menyurutkan langkah Ivana untuk tetap berpartisipasi dan mengajar warga.
Ia mengaku telah menyiapkan bahan ajar jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Namun, rencana pembelajaran yang ia siapkan harus disesuaikan setelah bertemu dengan warga yang ia ajar.
“Saya sudah menyiapkan bahan ajar jauh-jauh hari. Saya pikir ibu yang saya ajar sudah bisa membaca, jadi materi calistung yang saya siapkan levelnya lebih tinggi. Namun, ketika bertemu ternyata ibu tersebut belum bisa membaca sama sekali. Meskipun berbeda dengan materi yang sudah saya siapkan, saya bisa menyesuaikan diri. Saya mulai mengajar dari kata per kata hingga cara menghitung, mulai dari yang sederhana hingga yang lebih rumit,” cerita Ivana.
Ivana mengaku senang dapat terlibat langsung mengajar warga buta aksara di Kampoeng Batara. Ia merasa pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga tentang kesabaran, kepedulian, serta pentingnya berbagi ilmu kepada sesama.
Sebelumnya, Ivana juga aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial bersama teman-temannya di sekolah. Salah satunya melalui program bakti sosial yang dilakukan dengan membagikan makanan, sembako, serta berbagi cerita dengan warga di sekitar lingkungan yang membutuhkan.
“Saya senang bisa diajar anak-anak. Anaknya sabar,” ungkap Ibu Buami, salah seorang warga buta aksara dari Kampoeng Batara yang belajar bersama Ivana.
Ivana mengaku sempat merasa takut dan tegang ketika pertama kali mengikuti kegiatan ini seorang diri. Namun, perasaan tersebut perlahan hilang setelah ia berinteraksi dengan para peserta lain dari sekolah-sekolah PENABUR.
“Awalnya ada perasaan takut dan tegang ketika mengikuti kegiatan ini sendirian. Namun, ternyata teman-teman dari PENABUR lainnya begitu menyenangkan. Saya juga bisa bertemu dengan orang baru, berkenalan, berteman, dan pada akhirnya saya bisa menikmati program ‘Spirit of Challenge’ ini,” ungkap Ivana.
Program “Spirit of Challenge” BPK PENABUR Jakarta bertujuan mengembangkan kepedulian, kemandirian, tanggung jawab, ketekunan, serta sikap menghargai perbedaan pada diri siswa. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal kekayaan alam serta kebudayaan khas Banyuwangi.
Selain itu, program ini juga bertujuan mengembangkan profil siswa BEST (Be Tough, Excel Worldwide, Share with Society, Trust in God) BPK PENABUR Jakarta. Salah satu nilai yang ditekankan adalah Share with Society, yaitu mendorong siswa untuk berbagi pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk kepada para orang tua buta aksara di Kampoeng Batara.
Mereka menempuh perjalanan sejauh sekitar seribu kilometer demi menjalankan misi sosial tersebut.
Baca juga: Kisah Perempuan Arab Saudi, Kembali ke Sekolah di Usia 110 Tahun
Setibanya di Kampoeng Batara, para siswa dibagi ke dalam beberapa tim untuk mengajar langsung di rumah-rumah warga. Mereka tampak antusias berbagi ilmu kepada para orang tua yang belum bisa membaca dan menulis. Ada yang mengajarkan baca, tulis, hitung (calistung) dalam bahasa Indonesia, sementara yang lain mengajarkan kosakata bahasa Inggris secara sederhana.
“Saya mengikuti kegiatan ini karena menantikan momen mengajar para orang tua buta aksara di Kampoeng Batara. Sebelumnya, saya juga memiliki pengalaman mengajar orang lain mulai dari anak-anak sampai orang tua,” ujar Ivana Chrestella Haryanto, siswa SMAK 2 PENABUR, melalui siaran pers, Selasa (10/3/2026).
Menjadi satu-satunya siswa dari SMAK 2 PENABUR yang mengikuti rangkaian program “Spirit of Challenge” yang berlangsung pada 2–7 Maret 2026 tidak menyurutkan langkah Ivana untuk tetap berpartisipasi dan mengajar warga.
Ia mengaku telah menyiapkan bahan ajar jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Namun, rencana pembelajaran yang ia siapkan harus disesuaikan setelah bertemu dengan warga yang ia ajar.
“Saya sudah menyiapkan bahan ajar jauh-jauh hari. Saya pikir ibu yang saya ajar sudah bisa membaca, jadi materi calistung yang saya siapkan levelnya lebih tinggi. Namun, ketika bertemu ternyata ibu tersebut belum bisa membaca sama sekali. Meskipun berbeda dengan materi yang sudah saya siapkan, saya bisa menyesuaikan diri. Saya mulai mengajar dari kata per kata hingga cara menghitung, mulai dari yang sederhana hingga yang lebih rumit,” cerita Ivana.
Ivana mengaku senang dapat terlibat langsung mengajar warga buta aksara di Kampoeng Batara. Ia merasa pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga tentang kesabaran, kepedulian, serta pentingnya berbagi ilmu kepada sesama.
Sebelumnya, Ivana juga aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial bersama teman-temannya di sekolah. Salah satunya melalui program bakti sosial yang dilakukan dengan membagikan makanan, sembako, serta berbagi cerita dengan warga di sekitar lingkungan yang membutuhkan.
“Saya senang bisa diajar anak-anak. Anaknya sabar,” ungkap Ibu Buami, salah seorang warga buta aksara dari Kampoeng Batara yang belajar bersama Ivana.
Ivana mengaku sempat merasa takut dan tegang ketika pertama kali mengikuti kegiatan ini seorang diri. Namun, perasaan tersebut perlahan hilang setelah ia berinteraksi dengan para peserta lain dari sekolah-sekolah PENABUR.
“Awalnya ada perasaan takut dan tegang ketika mengikuti kegiatan ini sendirian. Namun, ternyata teman-teman dari PENABUR lainnya begitu menyenangkan. Saya juga bisa bertemu dengan orang baru, berkenalan, berteman, dan pada akhirnya saya bisa menikmati program ‘Spirit of Challenge’ ini,” ungkap Ivana.
Program “Spirit of Challenge” BPK PENABUR Jakarta bertujuan mengembangkan kepedulian, kemandirian, tanggung jawab, ketekunan, serta sikap menghargai perbedaan pada diri siswa. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal kekayaan alam serta kebudayaan khas Banyuwangi.
Selain itu, program ini juga bertujuan mengembangkan profil siswa BEST (Be Tough, Excel Worldwide, Share with Society, Trust in God) BPK PENABUR Jakarta. Salah satu nilai yang ditekankan adalah Share with Society, yaitu mendorong siswa untuk berbagi pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk kepada para orang tua buta aksara di Kampoeng Batara.
(nnz)
Lihat Juga :