Lulus Doktoral, Dosen ITPLN Temukan Solusi Cas EV Super Cepat
Jum'at, 10 April 2026 - 15:39 WIB
loading...
Dosen Institut Teknologi PLN, Samsuriza. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Dosen Institut Teknologi PLN , Samsurizal, resmi lulus program doktor (S3) usai menjalani Ujian Tertutup Disertasi di Universitas Negeri Malang (UM), Kamis, (9/4/2026). Ia mengembangkan metode optimasi pengisian cepat kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis kecerdasan buatan yang diklaim lebih efisien dan aman bagi sistem kelistrikan.
“Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan kendaraan listrik adalah bagaimana mempercepat pengisian tanpa merusak baterai dan tanpa mengganggu jaringan listrik,” ujar Samsurizal dalam keterangannya, Jum'at, 10 April 2026.
Dalam penelitiannya, Samsurizal menyoroti dilema utama teknologi fast charging berbasis DC. Di satu sisi, teknologi ini mampu memangkas waktu pengisian secara signifikan. Namun di sisi lain, muncul risiko seperti peningkatan suhu baterai, penurunan kesehatan baterai (State of Health/SoH), hingga beban tinggi pada jaringan listrik tegangan menengah 20 kV.
Tak hanya itu, ia juga mengkaji integrasi konsep Vehicle-to-Grid (V2G), yakni teknologi yang memungkinkan kendaraan listrik tidak sekadar mengonsumsi energi, tetapi juga menyuplai listrik kembali ke jaringan.
Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Perakitan Mobil Listrik di Magelang
“Kalau tidak dioptimalkan, fast charging bisa berdampak pada umur baterai dan kestabilan sistem listrik secara keseluruhan,” katanya.
Solusi Thunderstorm Algorithm
Sebagai solusi, Samsurizal mengusulkan penggunaan Thunderstorm Algorithm (TA), metode optimasi berbasis kecerdasan buatan yang terinspirasi dari fenomena badai petir.
Algoritma ini bekerja dalam tiga tahap utama: pembentukan solusi awal (cloud phase), pencarian jalur optimal (streamer phase), dan evaluasi hingga konvergensi (avalanche phase).
Menurutnya, pendekatan ini mampu menyeimbangkan berbagai aspek krusial, mulai dari kecepatan pengisian, umur baterai, stabilitas suhu, hingga dampak terhadap jaringan listrik.
“Metode ini mencari titik optimal antara performa pengisian dan keamanan sistem,” ujar Samsurizal.
Samsurizal mempresentasikan disertasi berjudul “Optimasi pada Vehicle Fast Charging to 20 kV Grid Berbasis DC Charging CHAdeMO Menggunakan Metode Thunderstorm Algorithm” dengan promotor dan co-promotor (Prof. Ir. Arif Nur Afandi, dan Mohamad Rodhi Faiz).
Riset ini dinilai memiliki kontribusi strategis bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Beberapa manfaatnya antara lain meningkatkan efisiensi fast charging, memperpanjang umur baterai, serta menjaga stabilitas jaringan listrik.
Selain itu, hasil penelitian ini membuka peluang integrasi kendaraan listrik dalam sistem energi cerdas atau smart grid, yang menjadi bagian penting dalam transisi menuju energi bersih.
Ke depan, Samsurizal berharap inovasi ini dapat diimplementasikan secara nyata dalam sistem kelistrikan nasional.
“Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, teknologi pengisian yang efisien dan stabil menjadi kunci masa depan energi berkelanjutan,” imbuhnya.
“Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan kendaraan listrik adalah bagaimana mempercepat pengisian tanpa merusak baterai dan tanpa mengganggu jaringan listrik,” ujar Samsurizal dalam keterangannya, Jum'at, 10 April 2026.
Dalam penelitiannya, Samsurizal menyoroti dilema utama teknologi fast charging berbasis DC. Di satu sisi, teknologi ini mampu memangkas waktu pengisian secara signifikan. Namun di sisi lain, muncul risiko seperti peningkatan suhu baterai, penurunan kesehatan baterai (State of Health/SoH), hingga beban tinggi pada jaringan listrik tegangan menengah 20 kV.
Tak hanya itu, ia juga mengkaji integrasi konsep Vehicle-to-Grid (V2G), yakni teknologi yang memungkinkan kendaraan listrik tidak sekadar mengonsumsi energi, tetapi juga menyuplai listrik kembali ke jaringan.
Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Perakitan Mobil Listrik di Magelang
“Kalau tidak dioptimalkan, fast charging bisa berdampak pada umur baterai dan kestabilan sistem listrik secara keseluruhan,” katanya.
Solusi Thunderstorm Algorithm
Sebagai solusi, Samsurizal mengusulkan penggunaan Thunderstorm Algorithm (TA), metode optimasi berbasis kecerdasan buatan yang terinspirasi dari fenomena badai petir.
Algoritma ini bekerja dalam tiga tahap utama: pembentukan solusi awal (cloud phase), pencarian jalur optimal (streamer phase), dan evaluasi hingga konvergensi (avalanche phase).
Menurutnya, pendekatan ini mampu menyeimbangkan berbagai aspek krusial, mulai dari kecepatan pengisian, umur baterai, stabilitas suhu, hingga dampak terhadap jaringan listrik.
“Metode ini mencari titik optimal antara performa pengisian dan keamanan sistem,” ujar Samsurizal.
Samsurizal mempresentasikan disertasi berjudul “Optimasi pada Vehicle Fast Charging to 20 kV Grid Berbasis DC Charging CHAdeMO Menggunakan Metode Thunderstorm Algorithm” dengan promotor dan co-promotor (Prof. Ir. Arif Nur Afandi, dan Mohamad Rodhi Faiz).
Riset ini dinilai memiliki kontribusi strategis bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Beberapa manfaatnya antara lain meningkatkan efisiensi fast charging, memperpanjang umur baterai, serta menjaga stabilitas jaringan listrik.
Selain itu, hasil penelitian ini membuka peluang integrasi kendaraan listrik dalam sistem energi cerdas atau smart grid, yang menjadi bagian penting dalam transisi menuju energi bersih.
Ke depan, Samsurizal berharap inovasi ini dapat diimplementasikan secara nyata dalam sistem kelistrikan nasional.
“Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, teknologi pengisian yang efisien dan stabil menjadi kunci masa depan energi berkelanjutan,” imbuhnya.
(nnz)
Lihat Juga :