Transformasi Pendidikan Didorong Lewat Pelatihan Guru dan Kampus Berdampak Nyata
Kamis, 21 Mei 2026 - 18:00 WIB
loading...
Seminar Nasional dan peluncuran Indonesia Center for Transformative Education (ICTE) bertema Innovative and Impactful Universities for Advanced Indonesia 2045 digelar di Gedung Guru, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Transformasi pendidikan terus menjadi perhatian utama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 . Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam Seminar Nasional dan peluncuran Indonesia Center for Transformative Education (ICTE) bertema “Innovative and Impactful Universities for Advanced Indonesia 2045” yang digelar di Gedung Guru, Jakarta, Rabu (20/5).
Ketua Umum PB PGRI Prof Unifah Rosyidi, mengatakan antusiasme tenaga pendidik terhadap pembelajaran transformatif sangat tinggi. Bahkan, pelatihan yang dilaksanakan secara daring berhasil menjangkau sekitar dua juta peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: Jadwal SPMB Jakarta 2026, Ini Lini Masa Pendaftaran SD, SMP, SMA, dan SMK
Menurut Unifah, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa para guru memiliki semangat besar untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan dunia pendidikan.
“Kami surprised dan bangga atas animo yang tinggi para guru mengikuti pelatihan yang kami laksanakan secara daring hingga mencapai dua juta viewers,” ujar Unifah.
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta itu menjelaskan, pembelajaran transformatif kini menjadi tren di lingkungan perguruan tinggi. Namun, minat untuk mempelajarinya juga tumbuh di kalangan guru sekolah dasar hingga menengah.
Ia menilai para guru sebenarnya memiliki motivasi belajar yang kuat, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan yang memadai dan berkelanjutan.
Selain meningkatkan kompetensi akademik, organisasi guru tersebut juga menjalankan program penguatan literasi keuangan bagi para pendidik. Program itu bertujuan membantu guru memiliki kecerdasan finansial dan ketahanan ekonomi dalam menghadapi situasi sulit.
Unifah menekankan pentingnya membangun budaya menabung dan perencanaan keuangan jangka panjang di kalangan tenaga pendidik. Program literasi finansial tersebut nantinya akan dijalankan bersama sektor perbankan dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Fauzan, menyampaikan keyakinannya bahwa seminar tersebut akan melahirkan berbagai gagasan dan solusi bagi persoalan pendidikan tinggi di Indonesia.
Menurut Fauzan, tantangan klasik seperti mutu, akses, dan relevansi pendidikan tinggi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan langkah transformasi nyata agar kampus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi juga kualitas manusia yang dibentuk melalui ekosistem pendidikan yang sehat, adaptif, dan visioner.
Fauzan menyebut perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan ruang untuk menumbuhkan keberanian berpikir, kepekaan sosial, serta kemampuan menciptakan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Karena itu, kampus tidak lagi cukup hanya menjadi “menara ilmu”, melainkan harus bergerak menjadi pusat solusi sosial yang mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus menjadi tempat lahirnya pemimpin yang memiliki jiwa problem solver demi masa depan bangsa yang lebih baik,” ujar Fauzan, dalam sambutannya melalui tayangan video.
Fauzan turut mengapresiasi peluncuran Indonesia Center for Transformative Education (ICTE) yang diharapkan menjadi pusat kolaborasi baru dalam pengembangan pendidikan tinggi nasional.
Keberadaan ICTE dinilai dapat menjadi ruang lahirnya berbagai gagasan segar yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, kemanusiaan, dan nilai kebangsaan demi menyiapkan masa depan pendidikan Indonesia.
Ketua Umum PB PGRI Prof Unifah Rosyidi, mengatakan antusiasme tenaga pendidik terhadap pembelajaran transformatif sangat tinggi. Bahkan, pelatihan yang dilaksanakan secara daring berhasil menjangkau sekitar dua juta peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: Jadwal SPMB Jakarta 2026, Ini Lini Masa Pendaftaran SD, SMP, SMA, dan SMK
Menurut Unifah, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa para guru memiliki semangat besar untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan dunia pendidikan.
“Kami surprised dan bangga atas animo yang tinggi para guru mengikuti pelatihan yang kami laksanakan secara daring hingga mencapai dua juta viewers,” ujar Unifah.
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta itu menjelaskan, pembelajaran transformatif kini menjadi tren di lingkungan perguruan tinggi. Namun, minat untuk mempelajarinya juga tumbuh di kalangan guru sekolah dasar hingga menengah.
Ia menilai para guru sebenarnya memiliki motivasi belajar yang kuat, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan yang memadai dan berkelanjutan.
Selain meningkatkan kompetensi akademik, organisasi guru tersebut juga menjalankan program penguatan literasi keuangan bagi para pendidik. Program itu bertujuan membantu guru memiliki kecerdasan finansial dan ketahanan ekonomi dalam menghadapi situasi sulit.
Unifah menekankan pentingnya membangun budaya menabung dan perencanaan keuangan jangka panjang di kalangan tenaga pendidik. Program literasi finansial tersebut nantinya akan dijalankan bersama sektor perbankan dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing daerah.
Pendidikan Tinggi Harus Jadi Pusat Solusi Sosial
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Fauzan, menyampaikan keyakinannya bahwa seminar tersebut akan melahirkan berbagai gagasan dan solusi bagi persoalan pendidikan tinggi di Indonesia.
Menurut Fauzan, tantangan klasik seperti mutu, akses, dan relevansi pendidikan tinggi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan langkah transformasi nyata agar kampus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi juga kualitas manusia yang dibentuk melalui ekosistem pendidikan yang sehat, adaptif, dan visioner.
Fauzan menyebut perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan ruang untuk menumbuhkan keberanian berpikir, kepekaan sosial, serta kemampuan menciptakan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Karena itu, kampus tidak lagi cukup hanya menjadi “menara ilmu”, melainkan harus bergerak menjadi pusat solusi sosial yang mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus menjadi tempat lahirnya pemimpin yang memiliki jiwa problem solver demi masa depan bangsa yang lebih baik,” ujar Fauzan, dalam sambutannya melalui tayangan video.
Fauzan turut mengapresiasi peluncuran Indonesia Center for Transformative Education (ICTE) yang diharapkan menjadi pusat kolaborasi baru dalam pengembangan pendidikan tinggi nasional.
Keberadaan ICTE dinilai dapat menjadi ruang lahirnya berbagai gagasan segar yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, kemanusiaan, dan nilai kebangsaan demi menyiapkan masa depan pendidikan Indonesia.
(nnz)
Lihat Juga :