Kisah Pritta, 19 Kali Gagal Beasiswa hingga Lolos LPDP ke London Kini Mengabdi untuk Anak Indonesia
Senin, 01 Juni 2026 - 14:05 WIB
loading...
Pritta Novia Lora Damanik, alumni penerima beasiswa LPDP yang berhasil menempuh pendidikan di Kings College London. Foto/Instagram LPDP.
A
A
A
JAKARTA - Meskipun gagal berkali-kali untuk mendapat beasiswa namun Pritta Novia Lora Damanik tak kenal menyerah. Alumni penerima beasiswa LPDP itupunberhasil menempuh pendidikan di King's College London setelah melewati perjalanan panjang penuh tantangan dan penolakan.
Perempuan yang memiliki kepedulian besar terhadap perlindungan anak ini harus menghadapi kegagalan sebanyak 19 kali selama hampir tujuh tahun sebelum akhirnya berhasil meraih kesempatan melanjutkan studi melalui program beasiswa LPDP.
Baca juga: TB Hasanuddin Minta Pelibatan TNI dalam Pembekalan LPDP Dikaji
Dalam unggahan yang dibagikan akun Instagram LPDP, Pritta mengungkapkan bahwa berbagai penolakan yang diterimanya tidak membuat dirinya berhenti mengejar cita-cita. Sebaliknya, proses tersebut justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.
"Bangkit dari kegagalan itu memang bukan hal yang mudah, saya tahu setiap orang mempunyai tantangannya masing-masing," kata Pritta, dikutip dari Instagram LPDP, Senin (1/6/2026).
Selama hampir tujuh tahun, Pritta terus mencoba mendapatkan kesempatan beasiswa. Namun perjalanan tersebut tidak selalu dilalui dengan semangat yang tinggi. Ia mengaku pernah mengalami masa-masa sulit ketika motivasinya mulai meredup.
Baca juga: LPDP Buka Beasiswa Akselerasi Magister 2026: S1 Bisa Langsung ke S2 Luar Negeri
"Tujuh tahun mencoba itu nggak selalu dengan semangat membara. Sempat juga itu redup," ungkapnya.
Tantangan yang dihadapi Pritta semakin berat karena selama periode tersebut ia harus berpindah-pindah tempat kerja, terutama di wilayah Indonesia Timur yang memiliki keterbatasan akses. Bahkan untuk mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris IELTS, ia harus mengorbankan tabungannya.
"Karena selama 7 tahun itu saya berpindah tempat dan itu hampir semua di sebelah timur Indonesia sana yang mana aksesnya cukup sulit. IELTS saya harus kosongkan tabungan saya dengan memepetkan kerja saya," ujarnya.
Meski berkali-kali gagal, Pritta selalu berusaha mengambil pelajaran dari setiap proses yang dijalani. Salah satu hal yang membuatnya terus bertahan adalah kesadaran bahwa dirinya terus berkembang dari tahun ke tahun.
"Melalui esai-esai saya, oh saya ini bertumbuh loh setiap tahunnya karena di setiap esai kan kita bisa menulis tentang pembelajaran hidup, tentang pencapaian kita. Dan di situlah ternyata saya melihat growth saya setiap tahunnya," katanya.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil pada percobaan ke-20. Dengan dukungan keluarga dan rekan-rekannya, Pritta berhasil diterima di King's College London melalui beasiswa LPDP.
Bagi Pritta, LPDP bukan sekadar bantuan pendidikan. Ia memandang beasiswa tersebut sebagai bentuk kepercayaan yang diberikan oleh rakyat Indonesia kepada para penerimanya.
"LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Jawaban kita sebagai awardee ya ke rakyat Indonesia dong. Dan saya percaya anak-anak itu adalah yang harus saya perjuangkan," tuturnya.
Setelah menyelesaikan studinya, Pritta memilih kembali ke Indonesia untuk mengabdikan diri di bidang advokasi dan perlindungan anak. Ia bergabung dengan organisasi non-pemerintah atau NGO dan terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman serta mendukung bagi anak-anak Indonesia.
Baginya, kepuasan terbesar dalam bekerja adalah melihat anak-anak dapat tumbuh dengan baik dan memperoleh kesempatan belajar dengan nyaman tanpa rasa takut. Sebab menurutnya, setiap anak berhak mendapatkan rasa aman.
"Saya ingin bekerja tuh ada impact-nya dan mengingat juga masa kecil saya, saya ingin ada kontribusi di bidang sosial," ujarnya.
Melalui pengalamannya, Pritta juga membagikan pesan kepada siapa saja yang tengah berjuang menghadapi kegagalan. Menurutnya, kegagalan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan proses yang membentuk seseorang menjadi lebih tangguh.
"Percayalah, kegagalan itu membentuk kita untuk bisa menjadi individu yang tangguh. Lakukan refleksi, kegagalan itu bukan alasan kita untuk berhenti. Take a break. Yang penting kita tetap berfokus pada tujuan kita, punya niat positif, dan gagal itu bukan sesuatu yang memalukan," pesannya.
Perempuan yang memiliki kepedulian besar terhadap perlindungan anak ini harus menghadapi kegagalan sebanyak 19 kali selama hampir tujuh tahun sebelum akhirnya berhasil meraih kesempatan melanjutkan studi melalui program beasiswa LPDP.
Baca juga: TB Hasanuddin Minta Pelibatan TNI dalam Pembekalan LPDP Dikaji
Dalam unggahan yang dibagikan akun Instagram LPDP, Pritta mengungkapkan bahwa berbagai penolakan yang diterimanya tidak membuat dirinya berhenti mengejar cita-cita. Sebaliknya, proses tersebut justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.
"Bangkit dari kegagalan itu memang bukan hal yang mudah, saya tahu setiap orang mempunyai tantangannya masing-masing," kata Pritta, dikutip dari Instagram LPDP, Senin (1/6/2026).
Selama hampir tujuh tahun, Pritta terus mencoba mendapatkan kesempatan beasiswa. Namun perjalanan tersebut tidak selalu dilalui dengan semangat yang tinggi. Ia mengaku pernah mengalami masa-masa sulit ketika motivasinya mulai meredup.
Baca juga: LPDP Buka Beasiswa Akselerasi Magister 2026: S1 Bisa Langsung ke S2 Luar Negeri
"Tujuh tahun mencoba itu nggak selalu dengan semangat membara. Sempat juga itu redup," ungkapnya.
Tantangan yang dihadapi Pritta semakin berat karena selama periode tersebut ia harus berpindah-pindah tempat kerja, terutama di wilayah Indonesia Timur yang memiliki keterbatasan akses. Bahkan untuk mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris IELTS, ia harus mengorbankan tabungannya.
"Karena selama 7 tahun itu saya berpindah tempat dan itu hampir semua di sebelah timur Indonesia sana yang mana aksesnya cukup sulit. IELTS saya harus kosongkan tabungan saya dengan memepetkan kerja saya," ujarnya.
Meski berkali-kali gagal, Pritta selalu berusaha mengambil pelajaran dari setiap proses yang dijalani. Salah satu hal yang membuatnya terus bertahan adalah kesadaran bahwa dirinya terus berkembang dari tahun ke tahun.
"Melalui esai-esai saya, oh saya ini bertumbuh loh setiap tahunnya karena di setiap esai kan kita bisa menulis tentang pembelajaran hidup, tentang pencapaian kita. Dan di situlah ternyata saya melihat growth saya setiap tahunnya," katanya.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil pada percobaan ke-20. Dengan dukungan keluarga dan rekan-rekannya, Pritta berhasil diterima di King's College London melalui beasiswa LPDP.
Bagi Pritta, LPDP bukan sekadar bantuan pendidikan. Ia memandang beasiswa tersebut sebagai bentuk kepercayaan yang diberikan oleh rakyat Indonesia kepada para penerimanya.
"LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Jawaban kita sebagai awardee ya ke rakyat Indonesia dong. Dan saya percaya anak-anak itu adalah yang harus saya perjuangkan," tuturnya.
Setelah menyelesaikan studinya, Pritta memilih kembali ke Indonesia untuk mengabdikan diri di bidang advokasi dan perlindungan anak. Ia bergabung dengan organisasi non-pemerintah atau NGO dan terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman serta mendukung bagi anak-anak Indonesia.
Baginya, kepuasan terbesar dalam bekerja adalah melihat anak-anak dapat tumbuh dengan baik dan memperoleh kesempatan belajar dengan nyaman tanpa rasa takut. Sebab menurutnya, setiap anak berhak mendapatkan rasa aman.
"Saya ingin bekerja tuh ada impact-nya dan mengingat juga masa kecil saya, saya ingin ada kontribusi di bidang sosial," ujarnya.
Melalui pengalamannya, Pritta juga membagikan pesan kepada siapa saja yang tengah berjuang menghadapi kegagalan. Menurutnya, kegagalan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan proses yang membentuk seseorang menjadi lebih tangguh.
"Percayalah, kegagalan itu membentuk kita untuk bisa menjadi individu yang tangguh. Lakukan refleksi, kegagalan itu bukan alasan kita untuk berhenti. Take a break. Yang penting kita tetap berfokus pada tujuan kita, punya niat positif, dan gagal itu bukan sesuatu yang memalukan," pesannya.
(nnz)
Lihat Juga :