Bukan Hanya Umur, Pakar IPB Sebut 6 Aspek Kesiapan Anak Sebelum Masuk SD
Senin, 15 Juni 2026 - 19:00 WIB
loading...
Pakar IPB University berpendapat usia enam tahun sebagai batas yang lebih ideal untuk memasuki jenjang pendidikan dasar. Foto/Dok/Aldhi Chandra Setiawan.
A
A
A
JAKARTA - Prof Dwi Hastuti, Pakar Pengasuhan dan Perkembangan Anak IPB University , menilai bahwa usia bukanlah satu-satunya faktor yang perlu dipertimbangkan dalam proses penerimaan masuk sekolah dasar ( SD ).
Hal ini ia kemukakan menanggapi ramainya perbincangan kebijakan yang memungkinkan anak usia 5,5 tahun masuk SD.
Ia tetap memandang usia enam tahun sebagai batas yang lebih ideal untuk memasuki jenjang pendidikan dasar.
Baca juga: Lengkap! Daftar SD dan SMP Swasta Gratis di Kota Tangerang untuk SPMB 2026
Menurutnya, ketentuan usia minimal enam tahun yang dianjurkan pemerintah didasarkan pada pertimbangan perkembangan anak. Pada usia tersebut, anak mulai mengalami transisi dari masa kanak-kanak awal menuju usia sekolah, ditandai dengan kematangan berpikir, sosial, dan emosional yang lebih baik.
“Kalau ada anak usia 5,5 tahun yang sudah menunjukkan kematangan sosial, emosional, dan kemandirian yang baik, mungkin bisa menjadi pengecualian. Namun secara umum, anak usia 5,5 tahun masih banyak yang belum cukup matang untuk menghadapi tuntutan sekolah dasar,” katanya, melalui siaran pers, Senin (15/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa kesiapan masuk SD tidak hanya diukur dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Ada enam aspek perkembangan yang perlu diperhatikan, yaitu kognitif, fisik-motorik, sosial, emosional, moral-spiritual, dan bahasa.
Baca juga: Daftar SD dan SMP Swasta Gratis di SPMB Kota Semarang 2026, Cek Jadwal dan Cara Daftarnya
Dari sisi kognitif, anak yang siap masuk SD sudah mampu berpikir lebih konkret, menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, serta mulai memiliki kemampuan berpikir kritis. Sementara dari aspek fisik-motorik, anak sudah mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri, seperti menggunakan toilet, mencuci tangan, hingga mengikuti instruksi sederhana.
Kematangan sosial dan emosional juga menjadi indikator penting. Anak yang siap sekolah umumnya sudah mampu berbagi, bekerja sama, berempati, menghormati orang lain, serta mengendalikan emosinya dengan lebih baik. Menurut Prof Dwi, kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bekal penting agar anak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan proses belajar yang lebih terstruktur.
Baca juga: Pendaftaran SPMB SD Kota Bogor 2026 Mulai 8 Juni, Ini Syarat dan Cara Seleksinya
Sebaliknya, jika anak masuk SD sebelum siap secara perkembangan, terdapat sejumlah risiko yang dapat muncul. Salah satunya adalah menurunnya rasa percaya diri karena merasa tertinggal dibandingkan teman-teman sebayanya. Kondisi ini dapat memicu stres, perasaan minder, hingga meningkatkan risiko menjadi korban perundungan.
“Yang perlu dibangun pada anak bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti percaya diri, empati, kemampuan mengendalikan diri, dan toleransi. Fondasi inilah yang akan mendukung keberhasilan anak dalam jangka panjang,” jelasnya.
Menurutnya, keputusan memasukkan anak ke SD sebaiknya didasarkan pada kesiapan perkembangan secara menyeluruh, bukan semata-mata usia atau kemampuan akademik awal.
Oleh karena itu iamenilai bahwa memastikan anak benar-benar siap belajar dan berkembang jauh lebih penting dibandingkan mempercepat anak masuk sekolah.
“Lebih baik anak masuk SD ketika ia sudah matang, mandiri, dan percaya diri. Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak cepat sekolah, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkembang secara optimal,” pungkasnya.
Hal ini ia kemukakan menanggapi ramainya perbincangan kebijakan yang memungkinkan anak usia 5,5 tahun masuk SD.
Ia tetap memandang usia enam tahun sebagai batas yang lebih ideal untuk memasuki jenjang pendidikan dasar.
Baca juga: Lengkap! Daftar SD dan SMP Swasta Gratis di Kota Tangerang untuk SPMB 2026
Menurutnya, ketentuan usia minimal enam tahun yang dianjurkan pemerintah didasarkan pada pertimbangan perkembangan anak. Pada usia tersebut, anak mulai mengalami transisi dari masa kanak-kanak awal menuju usia sekolah, ditandai dengan kematangan berpikir, sosial, dan emosional yang lebih baik.
“Kalau ada anak usia 5,5 tahun yang sudah menunjukkan kematangan sosial, emosional, dan kemandirian yang baik, mungkin bisa menjadi pengecualian. Namun secara umum, anak usia 5,5 tahun masih banyak yang belum cukup matang untuk menghadapi tuntutan sekolah dasar,” katanya, melalui siaran pers, Senin (15/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa kesiapan masuk SD tidak hanya diukur dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Ada enam aspek perkembangan yang perlu diperhatikan, yaitu kognitif, fisik-motorik, sosial, emosional, moral-spiritual, dan bahasa.
Baca juga: Daftar SD dan SMP Swasta Gratis di SPMB Kota Semarang 2026, Cek Jadwal dan Cara Daftarnya
Dari sisi kognitif, anak yang siap masuk SD sudah mampu berpikir lebih konkret, menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, serta mulai memiliki kemampuan berpikir kritis. Sementara dari aspek fisik-motorik, anak sudah mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri, seperti menggunakan toilet, mencuci tangan, hingga mengikuti instruksi sederhana.
Kematangan sosial dan emosional juga menjadi indikator penting. Anak yang siap sekolah umumnya sudah mampu berbagi, bekerja sama, berempati, menghormati orang lain, serta mengendalikan emosinya dengan lebih baik. Menurut Prof Dwi, kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bekal penting agar anak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan proses belajar yang lebih terstruktur.
Baca juga: Pendaftaran SPMB SD Kota Bogor 2026 Mulai 8 Juni, Ini Syarat dan Cara Seleksinya
Sebaliknya, jika anak masuk SD sebelum siap secara perkembangan, terdapat sejumlah risiko yang dapat muncul. Salah satunya adalah menurunnya rasa percaya diri karena merasa tertinggal dibandingkan teman-teman sebayanya. Kondisi ini dapat memicu stres, perasaan minder, hingga meningkatkan risiko menjadi korban perundungan.
“Yang perlu dibangun pada anak bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti percaya diri, empati, kemampuan mengendalikan diri, dan toleransi. Fondasi inilah yang akan mendukung keberhasilan anak dalam jangka panjang,” jelasnya.
Menurutnya, keputusan memasukkan anak ke SD sebaiknya didasarkan pada kesiapan perkembangan secara menyeluruh, bukan semata-mata usia atau kemampuan akademik awal.
Oleh karena itu iamenilai bahwa memastikan anak benar-benar siap belajar dan berkembang jauh lebih penting dibandingkan mempercepat anak masuk sekolah.
“Lebih baik anak masuk SD ketika ia sudah matang, mandiri, dan percaya diri. Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak cepat sekolah, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkembang secara optimal,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :