Kisah Syahla, Anak Driver Ojol dan Penjual Nasi Lolos UGM lewat Jalur SNBP
Sabtu, 27 Juni 2026 - 17:28 WIB
loading...
Syahla Nabilah Junita Wibawa dan ibundanya. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Keterbatasan ekonomi tak membuat Syahla, anak driver ojek online dan penjual nasi ini tak patah semangat demi menembus ketatnya persaingan masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) .
Syahla Nabilah Junita Wibawa adalah warga Nogotirto, Sleman. Rumah sekaligus tempat ibundanya berjualan makanan di warung nasi. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata mencari nafkah sebagai pengemudi ojol.
Sadar keluarganya banting tulang demi ia dan ketiga saudaranya, Syahla pun membantu dengan berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah.
Baca juga: UGM Masuk Peringkat 41 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026, Naik Signifikan
“Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” katanya, dikutip dari laman UGM, Sabtu (27/6/2026).
Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi.
Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih.
Baca juga: Cerita Nurma, dari Belajar di Perpustakaan hingga Malam Kini Bisa Kuliah Gratis di UGM
“Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya.
Maka demi bisa kuliah di UGM, Syahla pun sudah bersiap sejak kelas 10 SMA untuk menjadi siswa eligible sebagai syarat daftar di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” katanya.
Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan.
“Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya.
Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal.
“Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya.
“Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” tutur Nurjanah, sang ibunda.
Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah.
Syahla Nabilah Junita Wibawa adalah warga Nogotirto, Sleman. Rumah sekaligus tempat ibundanya berjualan makanan di warung nasi. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata mencari nafkah sebagai pengemudi ojol.
Sadar keluarganya banting tulang demi ia dan ketiga saudaranya, Syahla pun membantu dengan berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah.
Baca juga: UGM Masuk Peringkat 41 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026, Naik Signifikan
“Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” katanya, dikutip dari laman UGM, Sabtu (27/6/2026).
Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi.
Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih.
Baca juga: Cerita Nurma, dari Belajar di Perpustakaan hingga Malam Kini Bisa Kuliah Gratis di UGM
“Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya.
Maka demi bisa kuliah di UGM, Syahla pun sudah bersiap sejak kelas 10 SMA untuk menjadi siswa eligible sebagai syarat daftar di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” katanya.
Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan.
“Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya.
Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal.
“Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya.
“Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” tutur Nurjanah, sang ibunda.
Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah.
(nnz)
Lihat Juga :