KGSB dan Prodi Ilmu Komunikasi UAI Perkuat Kapasitas Guru Lewat Public Relations Workshop
Kamis, 09 Juli 2026 - 16:30 WIB
loading...
Dosen Ilmu Komunikasi UAI Kussusanti saat menyampaikan materi kepada peserta Public Relations Workshop. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Perubahan perilaku masyarakat dalam memilih sekolah menuntut lembaga pendidikan tidak hanya unggul dalam kualitas pembelajaran, tetapi juga mampu membangun komunikasi publik yang efektif.
Di era digital saat ini, keputusan orang tua sering kali diawali dengan pencarian informasi melalui media sosial, website sekolah, ulasan di internet, hingga rekomendasi dari komunitas. Dalam kondisi tersebut, reputasi sekolah tidak lagi dibentuk semata oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan sekolah mengelola komunikasi dengan publik.
Baca juga: Rangkaian Kegiatan MPLS SD 2026, Salam Sapa hingga Operasi Semut
Menjawab tantangan tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) menyelenggarakan Public Relations Workshop bertajuk "Transformasi Komunikasi Publik Strategis untuk Sekolah" pada Rabu, 8 Juli 2026.
Selain diselenggarakan secara luring di Ruang Serbaguna Universitas Al Azhar Indonesia, kegiatan juga dilaksanakan secara hybrid bagi puluhan anggota KGSB yang tersebar di seluruh Indonesia.
Persaingan antar sekolah yang semakin ketat membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan lembaga pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Di sisi lain, orang tua kini semakin kritis dalam mencari informasi sebelum mengambil keputusan.
Mereka tidak hanya melihat fasilitas dan prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan bagaimana sekolah berkomunikasi, merespons pertanyaan, menyampaikan informasi, hingga membangun hubungan dengan orang tua dan masyarakat.
Perkembangan media digital juga membuat informasi menyebar dalam hitungan menit. Sebuah unggahan media sosial, percakapan di grup WhatsApp, maupun ulasan di internet dapat membentuk persepsi publik terhadap sekolah. Tanpa pengelolaan komunikasi yang baik, kesalahpahaman kecil pun berpotensi berkembang menjadi isu yang memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat.
Karena itu, fungsi humas di lingkungan sekolah tidak lagi cukup dipahami sebagai kegiatan dokumentasi atau publikasi semata. Public Relations merupakan fungsi manajerial yang berperan membangun reputasi, memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan, menjaga kepercayaan publik, sekaligus mengelola komunikasi ketika muncul berbagai isu yang berkaitan dengan sekolah.
Melalui workshop ini, KGSB dan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia ingin memperkuat kapasitas guru serta pengelola sekolah dalam menerapkan prinsip-prinsip Public Relations secara praktis.
Ketua Komunitas Guru Satkaara Berbagi Ardyles Faesilio mengatakan bahwa di tengah perkembangan era digital, kemampuan membangun komunikasi publik kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya sekolah membangun kepercayaan masyarakat. Menurutnya, setiap guru memiliki peran sebagai representasi sekolah yang turut menentukan reputasi lembaga di mata publik.
“Di era digital saat ini, sekolah tidak hanya dituntut menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang terbuka, dipercaya, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Peran tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab humas sekolah, tetapi juga merupakan bagian dari peran setiap guru sebagai wajah dan representasi sekolah. Karena itu, melalui workshop ini kami berharap para guru tidak hanya memperoleh wawasan mengenai Public Relations, tetapi juga keterampilan praktis untuk membangun reputasi sekolah, memperkuat hubungan dengan orang tua dan masyarakat, serta memanfaatkan media digital secara bijak dan strategis," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Nanang Haroni menilai bahwa perubahan lanskap komunikasi menuntut sekolah untuk tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga mampu mengomunikasikan berbagai praktik baik yang dilakukan kepada masyarakat. Menurutnya, hal tersebut bukan semata-mata sebagai upaya promosi, melainkan agar manfaat pendidikan dapat dirasakan lebih luas.
"Di masa lalu, sekolah mungkin tidak perlu melakukan promosi atau publikasi secara aktif. Namun dunia sekarang sudah berbeda. Bukan karena pendidikan dipandang sebagai industri, melainkan agar berbagai praktik baik, inovasi, dan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan sekolah dapat diketahui masyarakat, sehingga memberikan dampak yang lebih luas. Karena itu, peran humas menjadi semakin penting bagi sekolah," katanya.
Kegiatan workshop ini menghadirkan tiga dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia dengan materi yang saling terintegrasi.
Sesi pertama disampaikan oleh Kussusanti mengenai Peran Guru dalam Menjaga Nama Baik Sekolah. Peserta mempelajari perubahan lanskap komunikasi pendidikan, fungsi strategis humas sekolah, peran guru sebagai representasi citra sekolah, serta langkah-langkah menyusun komunikasi yang lebih terencana, proaktif, dan berbasis kebutuhan para pemangku kepentingan.
Selanjutnya, Ruvira Arindita membawakan materi Image Building: Audit Identitas dan Citra Harapan Sekolah. Pada sesi ini peserta diajak memahami bagaimana citra sekolah terbentuk di benak masyarakat, melakukan audit identitas sekolah, mengenali kesenjangan antara identitas dan persepsi publik, hingga merumuskan citra yang ingin dibangun sebagai dasar penyusunan strategi komunikasi sekolah.
Workshop kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik bersama Safira Hasna melalui materi Content Planning. Peserta belajar membuat konten media sosial sekolah menggunakan perangkat sederhana, mulai dari teknik pengambilan foto dan video, penyusunan caption yang efektif, pemilihan hashtag, hingga menghasilkan konten yang siap dipublikasikan sesuai identitas sekolah.
Dengan pendekatan yang aplikatif, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai Public Relations, tetapi juga menghasilkan rancangan komunikasi yang dapat langsung diterapkan di sekolah masing-masing.
Di era digital saat ini, keputusan orang tua sering kali diawali dengan pencarian informasi melalui media sosial, website sekolah, ulasan di internet, hingga rekomendasi dari komunitas. Dalam kondisi tersebut, reputasi sekolah tidak lagi dibentuk semata oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan sekolah mengelola komunikasi dengan publik.
Baca juga: Rangkaian Kegiatan MPLS SD 2026, Salam Sapa hingga Operasi Semut
Menjawab tantangan tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) menyelenggarakan Public Relations Workshop bertajuk "Transformasi Komunikasi Publik Strategis untuk Sekolah" pada Rabu, 8 Juli 2026.
Selain diselenggarakan secara luring di Ruang Serbaguna Universitas Al Azhar Indonesia, kegiatan juga dilaksanakan secara hybrid bagi puluhan anggota KGSB yang tersebar di seluruh Indonesia.
Persaingan antar sekolah yang semakin ketat membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan lembaga pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Di sisi lain, orang tua kini semakin kritis dalam mencari informasi sebelum mengambil keputusan.
Mereka tidak hanya melihat fasilitas dan prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan bagaimana sekolah berkomunikasi, merespons pertanyaan, menyampaikan informasi, hingga membangun hubungan dengan orang tua dan masyarakat.
Perkembangan media digital juga membuat informasi menyebar dalam hitungan menit. Sebuah unggahan media sosial, percakapan di grup WhatsApp, maupun ulasan di internet dapat membentuk persepsi publik terhadap sekolah. Tanpa pengelolaan komunikasi yang baik, kesalahpahaman kecil pun berpotensi berkembang menjadi isu yang memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat.
Karena itu, fungsi humas di lingkungan sekolah tidak lagi cukup dipahami sebagai kegiatan dokumentasi atau publikasi semata. Public Relations merupakan fungsi manajerial yang berperan membangun reputasi, memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan, menjaga kepercayaan publik, sekaligus mengelola komunikasi ketika muncul berbagai isu yang berkaitan dengan sekolah.
Melalui workshop ini, KGSB dan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia ingin memperkuat kapasitas guru serta pengelola sekolah dalam menerapkan prinsip-prinsip Public Relations secara praktis.
Ketua Komunitas Guru Satkaara Berbagi Ardyles Faesilio mengatakan bahwa di tengah perkembangan era digital, kemampuan membangun komunikasi publik kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya sekolah membangun kepercayaan masyarakat. Menurutnya, setiap guru memiliki peran sebagai representasi sekolah yang turut menentukan reputasi lembaga di mata publik.
“Di era digital saat ini, sekolah tidak hanya dituntut menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang terbuka, dipercaya, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Peran tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab humas sekolah, tetapi juga merupakan bagian dari peran setiap guru sebagai wajah dan representasi sekolah. Karena itu, melalui workshop ini kami berharap para guru tidak hanya memperoleh wawasan mengenai Public Relations, tetapi juga keterampilan praktis untuk membangun reputasi sekolah, memperkuat hubungan dengan orang tua dan masyarakat, serta memanfaatkan media digital secara bijak dan strategis," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Nanang Haroni menilai bahwa perubahan lanskap komunikasi menuntut sekolah untuk tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga mampu mengomunikasikan berbagai praktik baik yang dilakukan kepada masyarakat. Menurutnya, hal tersebut bukan semata-mata sebagai upaya promosi, melainkan agar manfaat pendidikan dapat dirasakan lebih luas.
"Di masa lalu, sekolah mungkin tidak perlu melakukan promosi atau publikasi secara aktif. Namun dunia sekarang sudah berbeda. Bukan karena pendidikan dipandang sebagai industri, melainkan agar berbagai praktik baik, inovasi, dan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan sekolah dapat diketahui masyarakat, sehingga memberikan dampak yang lebih luas. Karena itu, peran humas menjadi semakin penting bagi sekolah," katanya.
Kegiatan workshop ini menghadirkan tiga dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia dengan materi yang saling terintegrasi.
Sesi pertama disampaikan oleh Kussusanti mengenai Peran Guru dalam Menjaga Nama Baik Sekolah. Peserta mempelajari perubahan lanskap komunikasi pendidikan, fungsi strategis humas sekolah, peran guru sebagai representasi citra sekolah, serta langkah-langkah menyusun komunikasi yang lebih terencana, proaktif, dan berbasis kebutuhan para pemangku kepentingan.
Selanjutnya, Ruvira Arindita membawakan materi Image Building: Audit Identitas dan Citra Harapan Sekolah. Pada sesi ini peserta diajak memahami bagaimana citra sekolah terbentuk di benak masyarakat, melakukan audit identitas sekolah, mengenali kesenjangan antara identitas dan persepsi publik, hingga merumuskan citra yang ingin dibangun sebagai dasar penyusunan strategi komunikasi sekolah.
Workshop kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik bersama Safira Hasna melalui materi Content Planning. Peserta belajar membuat konten media sosial sekolah menggunakan perangkat sederhana, mulai dari teknik pengambilan foto dan video, penyusunan caption yang efektif, pemilihan hashtag, hingga menghasilkan konten yang siap dipublikasikan sesuai identitas sekolah.
Dengan pendekatan yang aplikatif, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai Public Relations, tetapi juga menghasilkan rancangan komunikasi yang dapat langsung diterapkan di sekolah masing-masing.
(nnz)
Lihat Juga :