Indonesia Sabet 1 Emas, 2 Perak, dan 2 Perunggu di Olimpiade Fisika Internasional 2026
Kamis, 16 Juli 2026 - 08:35 WIB
loading...
Tim Olimpiade Fisika Internasional Indonesia yang berlomba di IPhO 2026. Foto/Kemendikdasmen.
A
A
A
JAKARTA - Tim Olimpiade Fisika Internasional Indonesia berhasil membawa pulang lima medali di ajang 56th International Physics Olympiad (IPhO) 2026. IPhO 2026 diikuti 381 peserta dari 93 negara (87 negara peserta dan 6 negara observer).
Ajang ini terdiri atas dua tahapan, yaitu tes eksperimen dan tes teori yang masing-masing berlangsung selama lima jam. Tim Indonesia pun berhasil membawa pulang satu medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu dari ajang yang digelar di Bucaramanga, Kolombia.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan, efektivitas pembinaan yang dimulai dari tingkat sekolah hingga Pelatihan Nasional (Pelatnas) menjadi kunci peningkatan prestasi ini.
Baca juga: Jago STEAM, Tim SMPK 4 PENABUR Raih Prestasi di Kompetisi Internasional
”Melalui pengembangan potensi yang terus ditingkatkan, anak-anak akan mendapatkan manfaat nyata seperti Beasiswa Talenta Indonesia agar karier belajar mereka tetap terjamin,” katanya saat menyambut kepulangan tim di Bandara Soekarno Hatta, melalui siaran pers, Kamis (16/7/2026).
Perjuangan di Kolombia menyisakan kesan mendalam bagi para anggota tim. Evan Syatia To, murid SMAK Penabur Gading Serpong peraih medali emas, menceritakan tantangan fisik berupa perbedaan waktu 12 jam yang sempat membuatnya sulit beristirahat, namun materi Pelatnas yang luas membantunya tetap fokus saat tes teori dan eksperimen.
Gusti Komang Abhika Atmaja, peraih medali perak dari SMAK Kesatuan Bangsa Yogyakarta, mengakui dinamika yang ia hadapi saat tes.
Baca juga: Cerita Cynthia Nikita Wibowo, Peraih Medali OIBO 2026 yang Bercita-cita Menjadi Dokter Gigi
”Target saya sebenarnya ingin dapat emas, tapi karena ada beberapa hal yang terjadi saat tes, akhirnya saya mendapatkan perak. Namun, saya telah memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” tuturnya.
Kebahagiaan senada dirasakan oleh Ackhava Adam Malonda, murid SMA Wardaya Jakarta, yang meraih medali perak pada debut internasionalnya. ”Karena ini kali pertama bagi saya, mendapatkan medali apa pun sudah sangat baik, dan saya sangat bersyukur bisa meraih medali perak ini,” tuturnya.
Sementara itu, Arrow Dunatos Pascha Kristian dari SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta menekankan nilai dari setiap proses yang dilalui. ”Secara ideal kita ingin memberikan yang terbaik, namun membawa pulang medali apa pun adalah sebuah hikmah besar bagi kami,” jelas Arrow.
Ketangguhan mental juga ditunjukkan oleh Juan Richie dari SMA Kristen Immanuel Pontianak, ”Jujur target saya emas, namun karena ada duka dan kendala saat tes, saya meraih perunggu. Meski begitu, apa pun hasil yang kita dapatkan harus tetap disyukuri sebagai pencapaian bersama,” pungkas Juan.
Ajang ini terdiri atas dua tahapan, yaitu tes eksperimen dan tes teori yang masing-masing berlangsung selama lima jam. Tim Indonesia pun berhasil membawa pulang satu medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu dari ajang yang digelar di Bucaramanga, Kolombia.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan, efektivitas pembinaan yang dimulai dari tingkat sekolah hingga Pelatihan Nasional (Pelatnas) menjadi kunci peningkatan prestasi ini.
Baca juga: Jago STEAM, Tim SMPK 4 PENABUR Raih Prestasi di Kompetisi Internasional
”Melalui pengembangan potensi yang terus ditingkatkan, anak-anak akan mendapatkan manfaat nyata seperti Beasiswa Talenta Indonesia agar karier belajar mereka tetap terjamin,” katanya saat menyambut kepulangan tim di Bandara Soekarno Hatta, melalui siaran pers, Kamis (16/7/2026).
Perjuangan di Kolombia menyisakan kesan mendalam bagi para anggota tim. Evan Syatia To, murid SMAK Penabur Gading Serpong peraih medali emas, menceritakan tantangan fisik berupa perbedaan waktu 12 jam yang sempat membuatnya sulit beristirahat, namun materi Pelatnas yang luas membantunya tetap fokus saat tes teori dan eksperimen.
Gusti Komang Abhika Atmaja, peraih medali perak dari SMAK Kesatuan Bangsa Yogyakarta, mengakui dinamika yang ia hadapi saat tes.
Baca juga: Cerita Cynthia Nikita Wibowo, Peraih Medali OIBO 2026 yang Bercita-cita Menjadi Dokter Gigi
”Target saya sebenarnya ingin dapat emas, tapi karena ada beberapa hal yang terjadi saat tes, akhirnya saya mendapatkan perak. Namun, saya telah memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” tuturnya.
Kebahagiaan senada dirasakan oleh Ackhava Adam Malonda, murid SMA Wardaya Jakarta, yang meraih medali perak pada debut internasionalnya. ”Karena ini kali pertama bagi saya, mendapatkan medali apa pun sudah sangat baik, dan saya sangat bersyukur bisa meraih medali perak ini,” tuturnya.
Sementara itu, Arrow Dunatos Pascha Kristian dari SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta menekankan nilai dari setiap proses yang dilalui. ”Secara ideal kita ingin memberikan yang terbaik, namun membawa pulang medali apa pun adalah sebuah hikmah besar bagi kami,” jelas Arrow.
Ketangguhan mental juga ditunjukkan oleh Juan Richie dari SMA Kristen Immanuel Pontianak, ”Jujur target saya emas, namun karena ada duka dan kendala saat tes, saya meraih perunggu. Meski begitu, apa pun hasil yang kita dapatkan harus tetap disyukuri sebagai pencapaian bersama,” pungkas Juan.
(nnz)
Lihat Juga :