Kisah Tiara, Anak Penjual Keripik yang Sukses Wujudkan Mimpi Kuliah Kedokteran di UGM
Kamis, 16 Juli 2026 - 09:56 WIB
loading...
Tiara Julianti beserta keluarganya. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Kisah inspiratif datang dari Tiara Julianti (18), putri pasangan penjual keripik yang berhasil mewujudkan impian menjadi mahasiswa Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM).
Berkat sederet prestasi akademik dan nonakademik yang diraihnya sejak sekolah, lulusan SMA Negeri 1 Tangerang itu diterima di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul (PBU).
Baca juga: UGM Terapkan Kurikulum Baru Mulai 2026, Ini yang Akan Dipelajari Mahasiswa
Tak hanya berhasil lolos ke salah satu program studi paling kompetitif di Indonesia, Tiara juga memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen dari UGM. Dengan demikian, ia dapat menempuh pendidikan kedokteran tanpa membayar biaya kuliah.
Di balik keberhasilannya, Tiara tumbuh dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuanya, Sabdi (51) dan Siti Rohani (41), sehari-hari bekerja bersama menjalankan usaha berjualan keripik untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca juga: Pukat UGM: Pelimpahan Perkara Febrie ke Kejagung Tak Miliki Dasar Hukum
Kondisi ekonomi yang pas-pasan sempat membuat keluarganya khawatir terhadap biaya pendidikan. Meski begitu, kedua orang tuanya selalu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik bagi masa depan anak-anak mereka.
"Jadi dokter itu memang mimpi aku sejak kecil. Waktu pandemi, aku semakin yakin ingin bisa berdampak untuk masyarakat," ujar Tiara, dikutip dari laman UGM, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Perjuangan Andini, Anak Tukang Bengkel yang Diterima di FEB UGM dan Beasiswa Penuh
Impian menjadi dokter diwujudkan Tiara melalui kerja keras yang konsisten sejak bangku sekolah. Selama menempuh pendidikan dari SD hingga SMA, ia terus mempertahankan prestasi akademiknya.
Selain unggul di bidang akademik, Tiara juga aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi, kompetisi, dan ekstrakurikuler. Ia pernah mengikuti Olimpiade Biologi, lomba debat, karya tulis ilmiah, hingga meraih Juara II Kejuaraan Nasional Cheerleading.
Menurut Tiara, berbagai pengalaman tersebut membentuk karakter disiplin, tangguh, dan pantang menyerah yang membantunya menghadapi setiap tantangan.
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak sepenuhnya mulus. Tiara sempat gagal pada salah satu jalur seleksi perguruan tinggi.
Namun, kedua orang tuanya tidak pernah memintanya menyerah. Sebaliknya, mereka terus memberikan semangat agar Tiara kembali mencoba hingga akhirnya berhasil meraih impiannya.
"Kami hanya terus mendukung dan menyemangati. Alhamdulillah sekarang mimpinya tercapai," kata sang ibu, Siti Rohani.
Ayah Tiara, Sabdi, mengaku tidak menyangka putrinya berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM.
"Saya seperti mimpi. Tidak menyangka Tiara bisa diterima di Kedokteran UGM," tuturnya.
Kebahagiaan keluarga semakin lengkap setelah Tiara dinyatakan sebagai penerima subsidi UKT 100 persen dari UGM. Bantuan tersebut membuat beban biaya kuliah yang semula menjadi kekhawatiran keluarga akhirnya teratasi.
Tiara mengaku sangat bersyukur karena kerja keras kedua orang tuanya kini mendapat balasan yang membahagiakan.
"Setelah diterima di Kedokteran saja aku sudah sangat bersyukur. Saat tahu mendapat subsidi UKT 100 persen, rasanya lega sekali. Terima kasih UGM sudah memberikan kesempatan ini," ungkapnya.
Ke depan, Tiara bercita-cita menjadi dokter yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan.
Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis mata. Keinginan tersebut muncul karena ia melihat semakin banyak generasi muda yang terlalu sering menggunakan gawai tanpa memperhatikan kesehatan mata.
Bagi Tiara, keberhasilannya masuk Kedokteran UGM bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal untuk mengabdi kepada masyarakat.
Ia pun membagikan pesan bagi generasi muda yang sedang mengejar cita-cita.
"Jangan pernah takut bermimpi. Bermimpi itu gratis, yang penting terus berusaha," pesannya.
Berkat sederet prestasi akademik dan nonakademik yang diraihnya sejak sekolah, lulusan SMA Negeri 1 Tangerang itu diterima di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul (PBU).
Baca juga: UGM Terapkan Kurikulum Baru Mulai 2026, Ini yang Akan Dipelajari Mahasiswa
Tak hanya berhasil lolos ke salah satu program studi paling kompetitif di Indonesia, Tiara juga memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen dari UGM. Dengan demikian, ia dapat menempuh pendidikan kedokteran tanpa membayar biaya kuliah.
Berasal dari Keluarga Penjual Keripik, Tiara Tak Pernah Berhenti Mengejar Mimpi
Di balik keberhasilannya, Tiara tumbuh dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuanya, Sabdi (51) dan Siti Rohani (41), sehari-hari bekerja bersama menjalankan usaha berjualan keripik untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca juga: Pukat UGM: Pelimpahan Perkara Febrie ke Kejagung Tak Miliki Dasar Hukum
Kondisi ekonomi yang pas-pasan sempat membuat keluarganya khawatir terhadap biaya pendidikan. Meski begitu, kedua orang tuanya selalu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik bagi masa depan anak-anak mereka.
"Jadi dokter itu memang mimpi aku sejak kecil. Waktu pandemi, aku semakin yakin ingin bisa berdampak untuk masyarakat," ujar Tiara, dikutip dari laman UGM, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Perjuangan Andini, Anak Tukang Bengkel yang Diterima di FEB UGM dan Beasiswa Penuh
Prestasi Akademik dan Nonakademik Jadi Kunci Lolos Kedokteran UGM
Impian menjadi dokter diwujudkan Tiara melalui kerja keras yang konsisten sejak bangku sekolah. Selama menempuh pendidikan dari SD hingga SMA, ia terus mempertahankan prestasi akademiknya.
Selain unggul di bidang akademik, Tiara juga aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi, kompetisi, dan ekstrakurikuler. Ia pernah mengikuti Olimpiade Biologi, lomba debat, karya tulis ilmiah, hingga meraih Juara II Kejuaraan Nasional Cheerleading.
Menurut Tiara, berbagai pengalaman tersebut membentuk karakter disiplin, tangguh, dan pantang menyerah yang membantunya menghadapi setiap tantangan.
Sempat Gagal Seleksi, Dukungan Orang Tua Jadi Penyemangat
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak sepenuhnya mulus. Tiara sempat gagal pada salah satu jalur seleksi perguruan tinggi.
Namun, kedua orang tuanya tidak pernah memintanya menyerah. Sebaliknya, mereka terus memberikan semangat agar Tiara kembali mencoba hingga akhirnya berhasil meraih impiannya.
"Kami hanya terus mendukung dan menyemangati. Alhamdulillah sekarang mimpinya tercapai," kata sang ibu, Siti Rohani.
Ayah Tiara, Sabdi, mengaku tidak menyangka putrinya berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM.
"Saya seperti mimpi. Tidak menyangka Tiara bisa diterima di Kedokteran UGM," tuturnya.
Kuliah Gratis Berkat Subsidi UKT 100 Persen
Kebahagiaan keluarga semakin lengkap setelah Tiara dinyatakan sebagai penerima subsidi UKT 100 persen dari UGM. Bantuan tersebut membuat beban biaya kuliah yang semula menjadi kekhawatiran keluarga akhirnya teratasi.
Tiara mengaku sangat bersyukur karena kerja keras kedua orang tuanya kini mendapat balasan yang membahagiakan.
"Setelah diterima di Kedokteran saja aku sudah sangat bersyukur. Saat tahu mendapat subsidi UKT 100 persen, rasanya lega sekali. Terima kasih UGM sudah memberikan kesempatan ini," ungkapnya.
Ingin Menjadi Dokter Spesialis Mata dan Mengedukasi Masyarakat
Ke depan, Tiara bercita-cita menjadi dokter yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan.
Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis mata. Keinginan tersebut muncul karena ia melihat semakin banyak generasi muda yang terlalu sering menggunakan gawai tanpa memperhatikan kesehatan mata.
Bagi Tiara, keberhasilannya masuk Kedokteran UGM bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal untuk mengabdi kepada masyarakat.
Ia pun membagikan pesan bagi generasi muda yang sedang mengejar cita-cita.
"Jangan pernah takut bermimpi. Bermimpi itu gratis, yang penting terus berusaha," pesannya.
(nnz)
Lihat Juga :