Maudy Ayunda Gandeng ITB, Kembangkan Skincare Berbasis Riset Indonesia
Selasa, 21 Juli 2026 - 08:35 WIB
loading...
Maudy Ayunda, co-founder sekaligus CEO From This Island berkolaborasi riset dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Foto: Magnifique
A
A
A
BANDUNG - Maudy Ayunda tampil sebagai co-founder sekaligus CEO From This Island saat membuka kolaborasi riset perusahaan skincare miliknya dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Mengenakan blazer abu-abu dan kemeja putih, Maudy aktif berdiskusi dengan akademisi, peneliti, dan pelaku industri, menunjukkan keterlibatannya dalam pengembangan inovasi skincare berbasis riset. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis From This Island bersama ITB untuk mengembangkan teknologi berbahan alam Indonesia.
Dari ruang diskusi, Maudy kemudian berbaur bersama para peneliti untuk melihat lebih dekat proses pengembangan teknologi berbasis bahan alam Indonesia. Sesekali ia mengangguk sambil berdiskusi mengenai peluang hilirisasi inovasi tersebut ke dunia industri. Potret itu menghadirkan sisi berbeda Maudy yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris dan penyanyi. Kali ini, publik menyaksikan sosok pemimpin perusahaan yang aktif menjembatani dunia akademik dengan dunia bisnis.
Baca Juga : Maudy Ayunda Bangun Ruang Belajar Sementara untuk Anak-Anak Aceh Timur
Karakter kuat kepemimpinan pada forum yang digelar awal Juli 2026 di Bandung tersebut bukan hadir tanpa alasan. Maudy merupakan lulusan program Philosophy, Politics and Economics di University of Oxford, Inggris. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Master of Business Administration di Stanford Graduate School of Business, Amerika Serikat. Perpaduan ilmu sosial, kebijakan publik, ekonomi, dan strategi bisnis membentuk cara berpikirnya yang sistematis serta berbasis data.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara From This Island, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB), dan EBM SciTech yang dimulai sejak 2023. EBM SciTech merupakan perusahaan riset dan pengembangan yang lahir dari inovasi akademisi ITB dan bergerak di bidang sains hayati, bioteknologi, serta hilirisasi inovasi berbasis penelitian. Selama lebih dari dua tahun, ketiga pihak mengembangkan PolyAcNix, konsentrat bioaktif berbahan Tamanu Oil asal Sulawesi. Teknologi itu dirancang melalui pendekatan ilmiah untuk membantu melawan bakteri penyebab jerawat sekaligus mendukung regenerasi kulit. Penelitian tersebut juga sedang dipersiapkan menuju publikasi ilmiah pada bidang kosmetik dan dermatologi.
Dekan Sekolah Farmasi ITB, Diky Mudhakir, menilai kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana hasil penelitian kampus dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang siap dimanfaatkan industri. Menurutnya, pengembangan PolyAcNix merupakan upaya mengoptimalkan potensi Tamanu melalui pendekatan ilmiah sehingga dapat menjadi bahan aktif yang memberikan manfaat bagi kesehatan kulit. "Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan industri dalam mendorong hilirisasi hasil riset, sehingga inovasi yang lahir di laboratorium dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia," ujarnya.
Baca Juga : Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
Sementara itu, Maudy menunjukkan komitmennya membangun inovasi skincare berbasis riset untuk membawa kekayaan botanikal Indonesia ke panggung global. "Kami percaya masa depan industri kecantikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang kita miliki, tetapi juga oleh kemampuan mengubahnya menjadi inovasi berbasis riset. Karena itu, kami memilih memulai dari laboratorium. PolyAcNix merupakan hasil kolaborasi bersama Sekolah Farmasi ITB dan EBM SciTech sekaligus langkah awal kami membangun intellectual property yang berasal dari Indonesia dan mampu bersaing di tingkat global," kata Maudy.
Kolaborasi tersebut kemudian diwujudkan melalui Tamanu Acne Defense Serum dan Tamanu Rapid Acne Spot Treatment sebagai implementasi pertama hasil penelitian. Tamanu Acne Defense Serum menggabungkan PolyAcNix dengan Smart AI Peptide, 2 persen Salicylic Acid, Panthenol, dan Madecassoside. Formula itu juga telah melalui uji dermatologis, dapat digunakan untuk kulit sensitif, serta mengantongi sertifikasi halal, vegan, dan cruelty-free. Uji klinis menunjukkan serum mampu mengurangi jerawat meradang pada 81 persen subjek setelah 14 hari penggunaan. Selain itu, uji laboratorium mencatat penurunan tampak pori hingga 86,8 persen.
Sementara itu, Tamanu Rapid Acne Spot Treatment juga menunjukkan penurunan kemerahan dan minyak berlebih, dengan 88 persen subjek merasakan kondisi jerawat semakin membaik. Melalui kolaborasi tersebut, Maudy membuktikan bahwa kepemimpinan bisnis tidak hanya berbicara mengenai strategi pasar, tetapi juga keberanian menjadikan riset ilmiah sebagai fondasi lahirnya inovasi dari Indonesia.
Dari ruang diskusi, Maudy kemudian berbaur bersama para peneliti untuk melihat lebih dekat proses pengembangan teknologi berbasis bahan alam Indonesia. Sesekali ia mengangguk sambil berdiskusi mengenai peluang hilirisasi inovasi tersebut ke dunia industri. Potret itu menghadirkan sisi berbeda Maudy yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris dan penyanyi. Kali ini, publik menyaksikan sosok pemimpin perusahaan yang aktif menjembatani dunia akademik dengan dunia bisnis.
Baca Juga : Maudy Ayunda Bangun Ruang Belajar Sementara untuk Anak-Anak Aceh Timur
Karakter kuat kepemimpinan pada forum yang digelar awal Juli 2026 di Bandung tersebut bukan hadir tanpa alasan. Maudy merupakan lulusan program Philosophy, Politics and Economics di University of Oxford, Inggris. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Master of Business Administration di Stanford Graduate School of Business, Amerika Serikat. Perpaduan ilmu sosial, kebijakan publik, ekonomi, dan strategi bisnis membentuk cara berpikirnya yang sistematis serta berbasis data.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara From This Island, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB), dan EBM SciTech yang dimulai sejak 2023. EBM SciTech merupakan perusahaan riset dan pengembangan yang lahir dari inovasi akademisi ITB dan bergerak di bidang sains hayati, bioteknologi, serta hilirisasi inovasi berbasis penelitian. Selama lebih dari dua tahun, ketiga pihak mengembangkan PolyAcNix, konsentrat bioaktif berbahan Tamanu Oil asal Sulawesi. Teknologi itu dirancang melalui pendekatan ilmiah untuk membantu melawan bakteri penyebab jerawat sekaligus mendukung regenerasi kulit. Penelitian tersebut juga sedang dipersiapkan menuju publikasi ilmiah pada bidang kosmetik dan dermatologi.
Dekan Sekolah Farmasi ITB, Diky Mudhakir, menilai kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana hasil penelitian kampus dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang siap dimanfaatkan industri. Menurutnya, pengembangan PolyAcNix merupakan upaya mengoptimalkan potensi Tamanu melalui pendekatan ilmiah sehingga dapat menjadi bahan aktif yang memberikan manfaat bagi kesehatan kulit. "Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan industri dalam mendorong hilirisasi hasil riset, sehingga inovasi yang lahir di laboratorium dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia," ujarnya.
Baca Juga : Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
Sementara itu, Maudy menunjukkan komitmennya membangun inovasi skincare berbasis riset untuk membawa kekayaan botanikal Indonesia ke panggung global. "Kami percaya masa depan industri kecantikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang kita miliki, tetapi juga oleh kemampuan mengubahnya menjadi inovasi berbasis riset. Karena itu, kami memilih memulai dari laboratorium. PolyAcNix merupakan hasil kolaborasi bersama Sekolah Farmasi ITB dan EBM SciTech sekaligus langkah awal kami membangun intellectual property yang berasal dari Indonesia dan mampu bersaing di tingkat global," kata Maudy.
Kolaborasi tersebut kemudian diwujudkan melalui Tamanu Acne Defense Serum dan Tamanu Rapid Acne Spot Treatment sebagai implementasi pertama hasil penelitian. Tamanu Acne Defense Serum menggabungkan PolyAcNix dengan Smart AI Peptide, 2 persen Salicylic Acid, Panthenol, dan Madecassoside. Formula itu juga telah melalui uji dermatologis, dapat digunakan untuk kulit sensitif, serta mengantongi sertifikasi halal, vegan, dan cruelty-free. Uji klinis menunjukkan serum mampu mengurangi jerawat meradang pada 81 persen subjek setelah 14 hari penggunaan. Selain itu, uji laboratorium mencatat penurunan tampak pori hingga 86,8 persen.
Sementara itu, Tamanu Rapid Acne Spot Treatment juga menunjukkan penurunan kemerahan dan minyak berlebih, dengan 88 persen subjek merasakan kondisi jerawat semakin membaik. Melalui kolaborasi tersebut, Maudy membuktikan bahwa kepemimpinan bisnis tidak hanya berbicara mengenai strategi pasar, tetapi juga keberanian menjadikan riset ilmiah sebagai fondasi lahirnya inovasi dari Indonesia.
(wur)
Lihat Juga :