Kemendikbud Kampanyekan 3M melalui 77 Bahasa Daerah
Rabu, 02 Desember 2020 - 11:25 WIB
loading...
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. Foto/Dok/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kemendikbud terus mendorong perubahan perilaku masyarakat guna meningkatkan pencegahan Covid-19 . Mengutamakan pemberdayaan bahasa daerah, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, meluncurkan “Pedoman Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan 3M dalam 77 Bahasa Daerah”.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menuturkan, kampanye pencegahan penyebaran Covid-19 harus mudah dipahami masyarakat. Menurut Mendikbud, terdapat tantangan yang besar menyangkut kebahasaan terkait isi kampanye. “Ini harus cepat ditangani,” tekannya yang disampaikan secara secara virtual melalui kanal Youtube Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui siaran pers, Rabu (2/12). (Baca juga: Menristek: Sosialisasikan Riset dengan Bahasa Praktis )
Kampanye 3M merupakan sebuah singkatan yang berisi slogan perubahan perilaku masyarakat yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Sebelumnya, pemerintah telah gencar menyosialisasikan video sosialisasi “Pesan Ibu” agar 3M lebih masif diterapkan.
Lebih lanjut, Mendikbud menjelaskan, strategi Kemendikbud adalah mengubah pesan-pesan itu ke dalam bahasa yang paling dekat dengan masyarakat yaitu bahasa daerah. Bahasa daerah sebagai bahasa ibu, dinilai sebagai sarana yang lebih efektif untuk mendekatkan isi pesan secara emosional kepada para pendengarnya.
“Semoga masyarakat tergerak menerapkan pedoman ini dalam hidup sehari-hari. Saya berterima kasih pada inisiatif yang diambil Kepala Badan Bahasa yang bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19,” terang Mendikbud. (Baca juga: Menag Harap Lembaga Pendidikan Ajarkan Islam yang Toleran )
Senada dengan itu, Ketua Penanganan Satgas Covid-19 Doni Monardo mengapresiasi terobosan Kemendikbud. Doni meyakini, penjelasan tentang Covid-19 harus memakai bahasa yang mudah supaya cepat dimengerti masyarakat, sekaligus menunjukkan kebesaran bangsa Indonesia dari sisi keragaman budaya.
“Bahasa daerah sangat strategis untuk mempercepat sampainya informasi kepada masyarakat, mengingat istilah-istilah yang dipakai dalam konteks Covid-19 seringkali merupakan bahasa asing atau serapan dari bahasa asing seperti “adaptasi”, “asimptomatik”, new normal, dan social distancing,” katanya.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menuturkan, kampanye pencegahan penyebaran Covid-19 harus mudah dipahami masyarakat. Menurut Mendikbud, terdapat tantangan yang besar menyangkut kebahasaan terkait isi kampanye. “Ini harus cepat ditangani,” tekannya yang disampaikan secara secara virtual melalui kanal Youtube Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui siaran pers, Rabu (2/12). (Baca juga: Menristek: Sosialisasikan Riset dengan Bahasa Praktis )
Kampanye 3M merupakan sebuah singkatan yang berisi slogan perubahan perilaku masyarakat yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Sebelumnya, pemerintah telah gencar menyosialisasikan video sosialisasi “Pesan Ibu” agar 3M lebih masif diterapkan.
Lebih lanjut, Mendikbud menjelaskan, strategi Kemendikbud adalah mengubah pesan-pesan itu ke dalam bahasa yang paling dekat dengan masyarakat yaitu bahasa daerah. Bahasa daerah sebagai bahasa ibu, dinilai sebagai sarana yang lebih efektif untuk mendekatkan isi pesan secara emosional kepada para pendengarnya.
“Semoga masyarakat tergerak menerapkan pedoman ini dalam hidup sehari-hari. Saya berterima kasih pada inisiatif yang diambil Kepala Badan Bahasa yang bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19,” terang Mendikbud. (Baca juga: Menag Harap Lembaga Pendidikan Ajarkan Islam yang Toleran )
Senada dengan itu, Ketua Penanganan Satgas Covid-19 Doni Monardo mengapresiasi terobosan Kemendikbud. Doni meyakini, penjelasan tentang Covid-19 harus memakai bahasa yang mudah supaya cepat dimengerti masyarakat, sekaligus menunjukkan kebesaran bangsa Indonesia dari sisi keragaman budaya.
“Bahasa daerah sangat strategis untuk mempercepat sampainya informasi kepada masyarakat, mengingat istilah-istilah yang dipakai dalam konteks Covid-19 seringkali merupakan bahasa asing atau serapan dari bahasa asing seperti “adaptasi”, “asimptomatik”, new normal, dan social distancing,” katanya.
Lihat Juga :