Ornamen Header
Bahas Risiko Kegempaan di Indonesia Bersama Pakar Gempa ITB Irwan Meilano
Bahas Risiko Kegempaan di Indonesia Bersama Pakar Gempa ITB Irwan Meilano
Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB Dr. Irwan Meilano. Foto/Dok/Humas ITB
JAKARTA - Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB hadir untuk berbagi cerita kepada masyarakat melalui serial podcast. Serial ini akan membahas mengenai ilmu dan teknologi kebumian di Indonesia. Episode pertama bertajuk “ Diskusi Mengenai Gempa ” dengan narasumber Dekan FITB Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.

Podcast yang diunggah di Youtube FITB ini, dibuka dengan bahasan mengenai gempa yang terjadi di Malang dan sekitarnya pada Sabtu (12/4). Gempa Magnitude 6,1 ini diakui dapat dirasakan bahkan sampai Yogyakarta. Dr. Irwan mengatakan bahwa hal tersebut mungkin dan dapat dijelaskan secara ilmiah.

Baca juga: ITB akan Terapkan Perkuliahan Hybrid di Masa Pandemi

“Gempa tersebut berkedalaman di 80 Km sehingga luas area guncangan tentu lebih besar dibandingkan dengan gempa yang berpusat dangkal. Namun, hal yang masih menjadi pertanyaan adalah bagaimana gempa dengan intensitas kerusakaan 5 bisa begitu masif sampai bangunan publik seperti sekolah dan rumah sakit ikut terdampak,” ujarnya.



Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia mengatakan, terdapat dua kemungkinan yaitu, intensitas gempa nyatanya lebih besar atau konstruksi bangunan di Indonesia belum cukup kuat untuk menghadapi gempa tersebut. Ini masih perlu dicari tahu lebih lanjut.

Lalu, apakah gempa tersebut berpotensi tsunami? Menurut Dr. Irwan, dengan menggunakan jaringan pengamatan seismik yang telah dimiliki, sebenarnya mudah untuk memperkirakan apakah gempa tersebut berpotensi memicu tsunami atau tidak. Akan tetapi, persoalan yang dihadapi Indonesia adalah tsunami jarak dekat. Hal ini mengakibatkan bencana terjadi duluan sebelum himbauan evakuasi dini sampai kepada masyarakat seperti gempa di Palu yang lalu.

Baca juga: Ini 20 Besar Universitas Terbaik di Indonesia versi SIR, UI Memimpin

“Ini yang patut dievaluasi sebab Indonesia sudah cukup baik dalam mendeteksi lokasi gempa dan kenaikan muka air laut, tetapi mekanisme kebencanaan belum berada di level yang sama,” tambahnya.

Lulusan Nagoya University, Jepang itu melanjutkan, peniliti pada bidang ilmu kebumian telah berkontribusi dalam mekanisme kebencanaan dengan menghasilkan Indonesia Seismic Hazard Map atau Peta Potensi Gempa di Indonesia. Peta ini dapat menjelaskan lokasi-lokasi di Indonesia yang berpotensi mengalami gempa, ini juga menjadi dasar penjelasan secara ilmiah mengapa gempa di Malang dengan kekuatan dan kedalaman tersebut dapat terasa sampai daerah lain.

Ia berharap peta tersebut dapat terus dikembangkan sehingga kelak dapat menjelaskan tidak hanya potensi gempa, tetapi juga potensi kerusakan dan kerugiannya. Tentunya, butuh kerja sama multidisiplin untuk mewujudkan hal tersebut.



Dengan terus dikembangkannya kerja sama multidisiplin, diharapkan Mekanisme Kebencanaan di Indonesia dapat terus diperbaiki. Misalnya dengan membangun posko mekanisme bencana oleh masyarakat setempat sehingga penyampaian informasi dapat tersalurkan secara baik, mengubah pandangan masyarakat terhadap risiko bencana agar lebih sigap dan tanggap, serta membuat peta risiko bencana.
(mpw)
TULIS KOMENTAR ANDA!