Platform Karya Mahasiswa ITS Ini Bantu Mahasiswa Agar Tak Salah Jurusan
Jum'at, 10 September 2021 - 23:37 WIB
loading...
Tampilan platform Sanggar Edukasi mahasiswa ITS. Foto/Dok ITS
A
A
A
JAKARTA - Banyaknya mahasiswa yang kerap merasakan salah jurusan, justru membuat mereka akhirnya merasa tertekan saat menjalani masa perkuliahan. Guna meminimalisasi hal tersebut, lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat platform pendidikan yang dinilai dapat membantu pelajar Indonesia dalam menemukan tujuan perkuliahannya.
Kelimanya adalah Muhammad Abdul Rozzaq Khaidhor (Fisika, 2017), Ibnu Majid (Teknik Elektro Otomasi, 2017), Taufiqurrahman Hafiidh Datau (Fisika, 2019), Fajrur Rido Ataubakumarwa (Teknik dan Sistem Industri, 2017), dan Annisa Indah Maharani (Fisika, 2018).
Baca juga: Kisah Perjuangan Albarr, Mahasiswa Termuda yang Akhirnya Diterima di FK UNAIR
Bekerja sama dalam sebuah tim, kelimanya membuat sebuah platform belajar bernama Sanggar Edukasi yang ditujukan untuk siswa-siswa di Indonesia, terutama yang akan melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
Ketua tim Muhammad Abdul Rozzaq Khaidhor mengatakan bahwa semuanya bermula dari keprihatinan para anggota tim atas permasalahan salah jurusan yang sering dijumpai.
Sebanyak 87 persen pelajar di Indonesia merasa salah jurusan dan sebagian besar merasa malas untuk belajar.
“Hal ini terjadi karena para pelajar belum menemukan alasan kuat mengapa mereka mengambil jurusan tersebut dan mengapa mereka harus belajar tentang hal tersebut,” jelasnya melalui siaran pers, Jumat (10/9/2021).
Kelimanya adalah Muhammad Abdul Rozzaq Khaidhor (Fisika, 2017), Ibnu Majid (Teknik Elektro Otomasi, 2017), Taufiqurrahman Hafiidh Datau (Fisika, 2019), Fajrur Rido Ataubakumarwa (Teknik dan Sistem Industri, 2017), dan Annisa Indah Maharani (Fisika, 2018).
Baca juga: Kisah Perjuangan Albarr, Mahasiswa Termuda yang Akhirnya Diterima di FK UNAIR
Bekerja sama dalam sebuah tim, kelimanya membuat sebuah platform belajar bernama Sanggar Edukasi yang ditujukan untuk siswa-siswa di Indonesia, terutama yang akan melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
Ketua tim Muhammad Abdul Rozzaq Khaidhor mengatakan bahwa semuanya bermula dari keprihatinan para anggota tim atas permasalahan salah jurusan yang sering dijumpai.
Sebanyak 87 persen pelajar di Indonesia merasa salah jurusan dan sebagian besar merasa malas untuk belajar.
“Hal ini terjadi karena para pelajar belum menemukan alasan kuat mengapa mereka mengambil jurusan tersebut dan mengapa mereka harus belajar tentang hal tersebut,” jelasnya melalui siaran pers, Jumat (10/9/2021).
Lihat Juga :